Diburu KPK | Setya Novanto Justru Ditemukan Kecelakaan

57
Setya Novanto di rumah sakit habis tabrakan (foto net).

SULUH BALI, Jakarta — Ketua DPR RI Setya Novanto mengalami kecelakaan mobil di kawasan Pertama Hijau Jakarta Selatan saat hendak menuju gedung KPK, Jakarta, Kamis (16/11/2017) malam.

Fredrich Yunadi, kuasa hukum Setya Novanto menyatakan kecelakaan kliennya itu terjadi sekitar pukul 19.00 WIB.

“Beliau mengalami kecelakaan mobilnya tuh hancur, beliau langsung pingsan. Jam 7 lebih,” kata Fredrich di Jakarta.

Ia menjelaskan bahwa kliennya itu mengejar waktu ke KPK untuk memberikan keterangan.

“Beliau buru-buru kejar waktu mau secepat mungkin ke KPK untuk beri keterangan apa yang mereka mintakan,” tuturnya.

Saat ini, kata dia, Setya Novanto sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit Medika Permata Hijau Jakarta Selatan.

“Dokter katakan tekanan darahnya tinggi, 190. Beliau kan ada sejarah vertigo apalagi belakangan banyak tekanan. Beliau belum siuman sudah disuntik,” ucap Fredrich.

Berdasarkan potongan video yang beredar di kalangan awak media, tampak mobil Toyota Fortuner warna hitam dengan pelat nopol B-1732-ZLO yang ditumpangi Setya Novanto menabrak tiang dan naik ke atas trotoar.

Sebelumnya, KPK akan menentukan status Daftar Pencarian Orang (DPO) terhadap Ketua DPR RI Setya Novanto pada Kamis malam.

“Kami lihat perkembangan sampai malam ini kemudian akan kami dibicarakan lebih lanjut. Karena DPO pada prinsipnya kami butuh untuk melakukan pencarian kepada seseorang tentu sajanya bisa dilakukan kepada tersangka pada proses penyidikan,” kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah di gedung KPK, Jakarta, Kamis.

Lebih lanjut, Febri menyatakan bahwa tim penyidik sampai saat ini masih terus melakukan pencarian terhadap Setya Novanto.

“Kami sudah melakukan pencarian sejak kemarin, kami sudah datangi rumah tetapi belum ditemukan. Sampai saat ini tim juga masih lakukan pencarian,” ucap Febri.

Namun, Febri menyatakan bahwa pihaknya menyarankan agar Ketua Umum Partai Golkar itu menyerahkan diri ke KPK.

“Tetapi tentu akan lebih baik jika yang bersangkuta menyerahkan diri kepada KPK karena proses ini tentu saja mau tidak mau harus dilewati. Secara hukum harus dilewati karena aturannya memang demikan di Kitab Undang-Undang Acara Pidana,” ungkap Febri.

KPK belum menemukan Setya Novanto sampai saat ini. Setya Novanto ditetapkan kembali menjadi tersangka kasus korupsi KTP-e pada Jumat (10/11).

Setya Novanto selaku anggota DPR RI periode 2009-2014 bersama-sama dengan Anang Sugiana Sudihardjono, Andi Agustinus alias Andi Narogong, Irman selaku Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kemendagri dan Sugiharto selaku Pejabat Pembuat Komitment (PPK) Dirjen Dukcapil Kemendagri dan kawan-kawan diduga dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu koporasi, menyalahgunakan kewenangan kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan sehingga diduga mengakibatkan kerugian keuangan negara atas perekonomian negara sekurangnya Rp2,3 triliun dari nilai paket pengadaan sekitar Rp5,9 triliun dalam pengadaan paket penerapan KTP-e 2011-2012 Kemendagri.

Setya Novanto disangkakan pasal 2 ayat 1 subsider pasal 3 UU No. 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU No. 20 tahun 2001 tentang perubahan atas UU No. 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP atas nama tersangka.

Setya Novanto pun telah mengajukan praperadilan kembali di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Rabu (15/11).

Sebelumnya, Ketua Umum Partai Golkar itu juga pernah ditetapkan KPK sebagai tersangka kasus proyek KPK-e pada 17 Juli 2017 lalu.

Namun, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan melalui Hakim Tunggal Cepi Iskandar pada 29 September 2017 mengabulkan gugatan praperadilan Setya Novanto sehingga menyatakan bahwa penetapannya sebagai tersangka tidak sesuai prosedur. (SB-ant)

Comments

comments