Dibanding Pasek | Pengurus Demokrat Bali lebih Pilih SBY Jadi Ketum

61

Para pengurus partai Demokrat di Bali (foto Ijo).

SULUH BALI, Denpasar – Majunya Gede Pasek Suardika dalam bursa pemilihan Ketua umum Partai Demokrat nyatanya mendapat sejumlah penolakan dari sejumlah kader demokrat. Bahkan sejum kader Demokrat langsung merapatkan barisan pasca disuarakannya Gede Pasek Suardika (GPS) maju mencalonkan diri di bursa pertarungan Ketua Umum partai Demokrat periode 2015-2020.

Ketua DPD Demokrat Bali Made Mudarta bersama sejumlah kader dan pengurus di sekretariat Partai Demokrat Bali, mengatakan, kader Partai Demokrat tidak ingin memilih ketua umum seperti beli kucing dalam karung, yang artinya semua kader tidak menginginkan calon ketua yang belum memiliki kompetensi.

Lain halnya dengan SBY, pihaknya menilai jika selama 2 periode masa kepemimpinan, SBY, mampu membawa Demokrat ke gerbang kesuksesan. “SBY sukses membuat kami yang tidak tahu apa-apa dalam berpolitik jadi tahu politik, kami yang anak petani mampu menjadi seperti sekarang ini selain itu SBY bisa membawa perubahan dalam berdemokrasi, dengan majunya SBY kembali jadi Ketum feeling saya Demokrat akan kembali berjaya,” terang Mudarta, senin (22/12/2014).

Bahkan Mudarta, menegaskan pihaknya bersama seluruh kader Demokrat Bali pada tanggal 22 November 2014 lalu pernah menyatakan sikap dengan meminta kesediaan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk menjadi Ketum Demokrat kembali pada Kongres ketiga pada Mei 2015 mendatang namun hingga saat ini SBY belum menjawab alias cuek.

“SBY belum pernah menyampaikan statement atau mendeklarasikan diri jadi Ketum, beliau katanya ingin berpuasa, bertapa setelah 10 tahun jadi Presiden. Beliau memutuskan untuk konsentrasi di GGI, namun kini dinamika politik sudah berubah utamanya beliau yang ingin menyukseskan Perppu Pilkada karena itu kami meminta beliau turun gunung untuk kawal Demokrat,” ungkapnya.

Ia juga meyakinkan, keberadaan SBY ditubuh partai Demokrat sudah terbukti memajukan dan mencerdaskan kader. “Sangat tidak berlebihan bahwa jika kami menyebut SBY adalah manusia setengah dewa. Kami yang sebelumnya tidak paham politik, namun kehadiran SBY mampu membuat kami mengerti Politik bahkan mencerdaskan para kader,” akuinya.

Lanjutnya bahwa pada Kongres nanti bulan Mei 2015, bahwa Yang berdaulat dalam pemilihan nanti adalah peserta yang memiliki hak suara. “Siapapun bisa mengajukan dan mendaftarkan diri sebagai ketum. Sepanjang memenuhi aturan. Aspirasi kuat dari kader tetap pada SBY. Jadi kami mohon SBY maui turun gunung,” Harap Mudarta. (Sb-Ijo)

Comments

comments

Comments are closed.