“Dharma Santi” Menuju Kedamaian Setelah Hari Suci Nyepi

4677

SULUH BALI, Denpasar – Setelah selesainya pelaksanaan rangkaian hari suci Nyepi yang mulai dari pemelastian, tawur agung, dan pelaksanaan catur brata pada  hari suci Nyepi  kemudian umat Hindu melaksanaan kegiatan dharma santih.

I Kadek satria, S.Ag , Sekretaris LPM UNHI , Dosen Ilmu Agama menyatakan bahwa  pelaksanaan nyepi  adalah konsep memulai dari nol dan kembali pada nol. Konsep memulai dari nol sebagai konsep nyepi sebagai keheningan (nol) kemudian setelah pelaksanaan nyepi kembali pada nol yaitu mencapai moksatam jagadhita. Dalam konteks untuk pencapaian jagadhita  (kesejahteraan) pada kehidupan nyata maka dilaksanakanlah dharma santi pada awal tahun baru saka yang bertujuan untuk menjaga harmonisasi manusia dengan manusia , dan manusia dengan lingkungan.

“Dharma dalam konotasi ini juga berarti nol (bersih)  kenapa kita mulai dari yang kosong kemudian kembali ke yang kosong karena sumber ajaran hindu itu memang dari yang kosong yang kosong ke yang kosong, dari Tuhan kembali ke Tuhan sehingga konsep Hindu menyatu pada Tuhan (moksatam jagadhita),  moksatam itu penyatuan dalam konteks rohani dan jagadhita adalah kesejahteraan di alam nyata ini. Dalam konteks kesejahteraan alam nyata perlu kita melakukan interkoneksi dengan lingkungan dengan masyarakat sehingga pada saat memulai yang baru kita memulai dengan acara dharma santih” jelasnya (19/3/2015).

Dharma santi dijelaskan sebagai salah satu bagian dari ajaran agama Hindu sebagai bagian dari aktualisasi ajaran weda. Kegiatan ini diwujudkan dengan menjalin kebersamaan antar umat Hindu dalam bentuk dharma wecana, diskusi maupun saling mengunjungi.

“Dharma santi itu adalah bagian dari sad dharma, sad dharma itu adalah metode-metode untuk mengatualisasikan ajaran-ajaran weda. Dalam ajaran ini ada dharma wecana, dharma gita, dharma yatra, dharma sedana dan ada salah satunya namanya dharma santi. dharma santi adalah menjalin kebersamaan, menjalin rasa senasib sepenanggungan sebagi umat manusia yang harus saling jaga, saling menghormati, itu dilakukan dengan cara dharma wecana, diskusi ,saling kunjung-mengunjungi” jelasnya.

Tujuan dharma santi dilaksanakan adalah untuk mencapai kedamaian dengan jalan kebenaran, sehingga konsep memulai dari nol (keheningan) pada hari suci Nyepi  kemudian kembali pada nol (kedamain/santi). Kedamaian yang dimaksud disini tidak hanya sebatas sebagai kedamaian pribadi (personal)  akan tetapi kedamaian yang diperoleh semua orang sebagai  mahluk sosial.

“Dharma itu kebenaran, santi kedamaian, dharma santi artinya dharma untuk mencapai kedamaian sehingga begitu kita kosong (nyepi) mulai dari nol setelah itu kita melakukan dharma santi artinya untuk memulai suatu yang baru kita mulai dengan kesadaran bahwa kita itu adalah mahluk sosial  kemudian penyadaran bahwa kita tidak bisa hidup sendiri penyadaran bahwa Hindu itu sangat kolektif dia itu hidup bersama” imbuh Satria.

Kadek Satria juga mengungkapkan  bahwa dharma santi seharusnya tidak sebatas hanya dilakukan dengan melaksanakan kegiatan-kegiatan diskusi keagamaan, lebih dari itu dharma santi juga dapat dilakukan dengan cara memberikan punia kepada para  sulinggih dan juga orang-orang yang membutuhkan bantuan.

“Dharma santi tidak cukup hanya bertemu dikantor duduk mendengarkan ceramah, dharma santi bisa dilakukan dengan mepunia misalnya kita berkunjung panti asuhan, kita berkunjung ke panti jompo, kita berkunjung ke gria”ungkapnya. (SB-Su)

Comments

comments

Comments are closed.