Desa Pekraman Harus Mampu Tangkal Teroris

27

SULUH BALI, Badung – Desa Pakraman dituntut bisa menangkal terorisme di wilaya msing-masing. Hal ini dilihat karena Desa Pakraman sebagai lembaga kemasyarakatan yang paling dekat dengan masyarakat. Peran tersebut dapat diperoleh dengan memaksimalkan dan mendayagunakan seluruh perangkat Desa Pekraman,  seperti Pecalang, truna-truni bahkan ibu-ibu rumah tangga untuk bersama menangkal bahaya terorisme.

“Jika kita melihat trend operasi teroris sekarang ini lebih memilih pola melebur dengan masyarakat. Ada yang menyewa kamar kos bahkan kontrak rumah.  Nah perangakat-perangkat Desa Pekraman tadi itulah yang paling tau tentang keberadaan orang-orang yang patut dicurigai,” ujar Prof.  Rai Setiabudi, saat tampil sebagai nara sumber dalam acara Penguatan Aparatur Kelurahan dan Desa,  Dalam Pencegahan Terorisme Provinsi Bali,  di Kuta Bex Hotel,  pantai Kuta kamis (12/4) .

Acara tersebut terselenggara berkat kerjasama antara Badan Nasional Pencegahan Terorisme (BNPT)  dan Forum Komunikasi Pencegahan Terorisme (FKPT)  provinsi Bali.

Prof.  Setiabudi mengakatan,  sangat besar peran desa pekraman dalam usaha pencegahan terorisme.  Oleh karena itu,  desa Pekraman harus memiliki daya tangkal yang kuat. Secara nasional, tentu saja daya tangkal tersebut tidak lain merupakan aplikasi atau pemahaman yang dalam tentang sila-sila atau norma-norma yang sudah diatur dalam dasar negara Pancasila.  Namun secara operasional,  nilai-nilai daya tangkal Pancasila tersebut dapat diterjemahkan dalam nilai-nilai dasar yang ada pada masing-masing desa pekraman.

Menjawab pertanyaan peserta tentang eksistensi dan pola rekruitmen Pecalang sebagai salah satu kekuatan penangkal yg potensial,  Prof.  Setiabudi mengembalikan masalah tersebut untuk dibicarakan pada masing-masing Desa Pekraman.

Pembicara lain,  Kombes Pol. Tri Joko Widiyanto dari Polda Bali menegaskan,  perlunya upaya mengisolasi sekecil apapun ancaman terorisme. “Dari banyak kejadian teror bom,  kita pelajari,  modus para terorisme biasanya membaur dengan masyarakat. Mereka kerap memanfaatkan isu-isu politik,  agama,  ekonomi maupun bentuk isu yang berbau Sara lainnya. Salah satu cara paling baik adalah menangkal lebih dini.  Masyarakat harus terlatih untuk sensitif terhadap ancaman-ancaman terorisme. Amati dan jika dirasa mencurigakan,  segera lapor kepada aparat berwenang, ” pintanya.

Sebelumnya, Ketua FKPT Bali,  Drs. I Gede Putu Jaya Suartama,  M. Si,  dalam sambutannya saat membuka kegiatan tersebut, mengajak seluruh aparat dan perangkat-perangkat pemerintah maupun lembaga-lembaga kemasyarakatan tingkat Desa untuk sama-sama mengawal wilayah masing-masing berdasarkan kesadaran bersama bahwa terorisme adalah musuh yang harus diberantas.

“Kita tentu sangat tidak ingin tragedi bom Bali I dan II terulang kembali. Maka marilah para tokoh masyarakat yang dekat dengan masyarakat,  untuk bergerak,  menjaga wilayah masing-masing sesuai dengan porsinya, ” ujar mantan Kakesbanglinmas Provinsi Bali ini. (SB-rio)

 

Comments

comments