Desa Adat Diperingatkan Tidak Alergi Perubahan

50

Pastika ketika membuka Paruman Agung (Kongres) III Majelis Utama Desa Pakraman. |foto-hum|

 

SULUHBALI.CO, Denpasar – Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengingatkan pengurus “desa pakraman” atau desa adat agar tidak alergi terhadap perubahan dan seharusnya dapat berorientasi pada masa depan.

“Hidup itu adalah perubahan, tidak bisa tidak. Kalau ‘ngotot’ tidak mau berubah, kita akan musnah sehingga prajuru (pengurus) desa pakraman saya harapkan dapat menyesuaikan, fleksibel dan dinamis,” katanya saat menyampaikan sambutan ketika membuka Paruman Agung (Kongres) III Majelis Utama Desa Pakraman Provinsi Bali, di Denpasar, Jumat (9/8/2014).

Apalagi, menurut dia, perubahan yang terjadi dalam lingkungan regional, nasional, dan global beberapa waktu terakhir terjadi sangat drastis sehingga pimpinan di desa pakraman tidak bisa lagi membuat rencana secara lambat dan kaku.

“Seringkali kita justru terlena dengan masa lalu yang hebat sehingga melupakan orientasi ke depan. Padahal kita bertanggung jawab terhadap generasi ke depan. Oleh karena itu, di sinilah peran para pemimpin adat supaya bisa membuat suatu ramalan masa depan yang tepat, dengan demikian responsnya terhadap perubahan menjadi bagus dan tidak reaktif,” ujarnya pada kongres lima tahunan lembaga yang menaungi desa adat tersebut.

Mantan Kapolda Bali itu juga mengapresiasi peran dari MUDP selama ini yang telah memosisikan diri dengan tepat untuk menetralisasi berbagai polemik sosial dan dampak pembangunan yang muncul.

“Kami berharap, MUDP secara berkelanjutan juga dapat melakukan inventarisasi potensi permasalahan di tingkat desa pakraman sekaligus mengantisipasinya dengan langkah-langkah tepat. Terhadap permasalahan yang sudah muncul agar ditangani dengan mediasi, mengedepankan musyawarah mufakat sehingga menguntungkan semua pihak,” ucapnya.

Di sisi lain, Pastika mengingatkan supaya persoalan adat dan agama juga dapat disinkronkan serta jangan malah terpisah karena ego dari para tokohnya.

“Intinya harus ada sinkronisasi, jangan sampai persoalan adat menyimpang jauh dari ajaran agama. Demikian juga jangan adat dikambinghitamkan seolah-olah karena adat menjadikan hidup beragama menjadi susah. Sebaiknya agama harus dapat menjiwai adat dan keduanya tidak berjalan sendiri-sendiri,” katanya.

Pemprov Bali, lanjut dia, sudah berkomitmen untuk menjaga pelestarian adat dan budaya Bali yang bernafaskan Agama Hindu sekaligus pilar utama pembangunan kepariwisataan Bali.

“Salah satunya dengan cara Pemprov Bali sudah memberikan bantuan kepada desa pakraman yang jumlahnya meningkat setiap tahun. Harapan kami dengan bantuan tersebut benar-benar dimanfaatkan sesuai dengan potensi di desa pakraman,” ujar Pastika. (SB-ant)

Comments

comments