Denpasar Sulit Air Diantara Berlimpahnya Air

117

Ketut Suwandhi dan Made Arjaya saat diskusi masalah air Kota Denpasar. |foto-raka|

 

SULUH BALI, Denpasar ─ Di tengah berlimpahnya sumber air di Denpasar yang meliputi cadangan air sungai ayung dan sungai  Unda akan tetapi  masih banyak masyarakat Denpasar yang kesulitan akan air dan tidak bisa merasakan keberlimpahan air itu keperluannya sehari-hari.

Miris memang jika berbicara air yang merupakan kebutuhan pokok utama manusia, keberadaannya begitu berlimpah tetapi dalam kenyataanya malah masyarakat  sulit memperoleh air bersih. Hal ini disinyalir disebabkan oleh keterbatasan perhatian pemerintah dalam mengelola sumber air menjadi air bersih yang bisa memenuhi kebutuhan masyarakat.

Begitu pentingnya air dan keberadaan air yang semakin sulitit inilah yang kemudian dijadikan topik utama dalam diskusi Obrolan Warung Rakyat berjudul “ Air Denpasar, darimana?, kemana?” di Warung Tresni, Renon Denpasar yang dipandu langsung oleh Iwan Dharmawan dengan menghadirkan pembicara utama ketua Komisi 2 DPRD Bali, I Ketut Suwandi serta Pengamat Politik mantan KPU Pusat, I Gusti Ngurah Artha, mantan Anggota DPRD Bali, I Made Arjaya, pengamat publik, akademisi, praktisi, dan kalangan media di Bali, Rabu (22/4/2015).

Pengamat kebijakan publik, Ngakan Made Giriyasa pada diskusi tersebut menjelaskan bahwa permasalahan air di kota denpasar utamanya disebabkan karena tidak adanya perhatian pemerintah dalam mengurusi keberlangsungan air  terlihat dari kecilnya anggaran untuk  urusan pengelolaan air. “Denpasar anggaran modalnya cuma 10% misalnya untuk infrastruktur jalan, infrastruktur pengairan dan infrastruktur lainnya itu sangat kecil, kita bisa lihat selama ini tidak ada keseriusan mengurus air” jelasnya.

Ia menyarankan  seharusnya pemerintah menganggarkan untuk infrastruktur air haruslah besar karena dengan anggaran APBD untuk air sangat kecil itulah bisa dinilai serius atau tidaknya pemerintah dalam mengurusi air.  “Sebuah pemerintahan yang bisa dikatakan serius atau tidak lihat baca  APBD berapa anggaran yang digunakan untuk mengurus air” pungkasnya.

Sementara Ketua Komisi 2 DPRD Bali, politisi yang disapa  “jendral kota”, I Ketut Suwandi menyatakan bahwa memelihara lingkungan adalah solusi utama untuk menjaga keberadaan air, dan dengan mengurangi alih fungsi lahan yang sudah semakin meluas.  “Untuk menjaga agar air tetap eksis di kota denpasar sepanjang zaman pertama yang harus diperhatikan adalah  lingkungan, bagaimana memelihara lingkungan terutama alih fungsi lahan” jelasnya.

Solusi lain Suwandi adalah pemerintah diharapkan harus sesegera mungkin membuat penampungan air berupa waduk, kemudian air yang telah tertampung itu diproses  untuk  memenuhi kebutuhan masyarakat. “Buat waduk dipikirkan, banyak tanah  Pemerintah Provinsi atau Kota,  fungsinya untuk menampung air hujan air sungi untuk diolah menjadi air bersih itu solusi” imbuhnya.

Disisi lain Made Arjaya, mantan Anggota DPRD Bali berbicara air dalam sudut pandang politk yang menyebutkan bahwa seorang calon pemimpin Denpasar kedepan  seharusnya berani menyampaikan janji politiknya untuk perhatian langsung terhadap air, karena selama ini belum ada yang bersuara tentang keberlangsungan air pada janji kampanyenya “Janji kampanye manapun salah satu bupati walikota tidak ada yang menyampaikan bahwa kami akan menjamin ketersedian air” jelasnya.

Bahkan Arjaya mengkritisi pemerintah yang hanya mentargetkan PDAM untuk mencapai untung  sebagai prestasi sedangkan urusan pendukungnya terbengkalai. Ia menyarankan PDAM harus memikirkan pelayanan yang paling utama diatas keuntungan yang harus dicapai ”Pemerintah jangan PDAM itu dipaksa untuk untung, ini kan seolah-olah prestasinya untung, padahal untung itu tidak memperbaiki infrastrukturnya, mereka biarkan kebocorannya” tegasnya. (SB-Su)

Comments

comments

Comments are closed.