Denfest ke-7 Tanda Pengabdian Masyarakat

122

SULUH BALI, Denpasar – Denpasar Festival (Denfest) yang memasuki tahun pelaksanaan ketujuh menjadi medium pengisahan yang kredibel dan dinamis untuk berbagai ragam kreativitas. Dalam Denpasar Festival kali ini mengangkat tema “Dharma Cipta Mahabudaya” yang menjadi penanda akan pengabdian dan kemampuan masyarakat multitalenta dan multi kultur di Kota Denpasar. Demikian disampaikan Ketua Panitia Penyelenggara AA Oka Suweca saat menyampaikan laporan pelaksanaan Denpasar Festival ke-7 di titik nol kilometer Patung Catur Muka, Minggu (28/12/2014).

Pembukaan Denfest ini ditandai dengan penyerahan beras kuning (sukarura) kepada penari topeng Sidakarya oleh Walikota Denpasar IB Rai Dharmawijaya Mantra dan penandatanganan prasasti Titi Banda. Pembukaan Denfest juga dihadiri Menteri Koperasi dan UKM AAN Gde Puspasyoga beserta isteri serta Walikota Bandung Mochamad Ridwan Kamil dan Bupati Buleleng.

Pembukaan diawali dengan penampilan tari Reog Ponorogo.

denfest4
Walikota Denpasar menulis prasasti di Denpasar Festival (foto HumDps)

Lebih lanjut Oka Suweca menambahkan dalam perjalanannya Denpasar Festival (Denfest) yang memasuki tahun ke-7 tidak bisa dipisahkan dari tautan kerjasama tripel helix pemerintah, swasta dan masyarakat. Sehingga dalam perjalanannya Denfest terus mampu membangkitkan berbagai kreativitas dan suguhan yang menjadi puncak kreativitas masyarakat di Kota Denpasar. Sebelum dilaksanakan puncak Denfest ini telah dilaksanakan kegiatan yang dikemas dalam pra even Denfest oleh masing-masing SKPD.

Untuk Denfest tahun ini mengangkat tema “Dharma Cipta Mahabudaya” dimana mengedepankan komitmen Denpasar untuk memuliakan kreativitas sebagai “seni murni” (ekspresi keindahan sebagai persembahan kepada keagungan Sang Pencipta di alam raya serta keriangan manusia).

Disamping juga sebagai penanda pengabdian dan kemampuan Denpasar dalam mewujudkan demensi keseimbangan kreativitas tradisi dan modernitas yang kuncinya meningkatkan kemakmuran rakyat segala bidang.

Disamping itu Denpasar sebagai kota dimana modernisasi dan tradisi bersinergi erat dalam segenap tatanan kehidupan. Dimana menurut Oka Seweca tradisi merangkul perubahan jaman sedangkan modernisasi mempunyai perwajahan yang unik sebagai dimensi kreativitas untuk dinikmati untuk menjadikan Denpasar Kotaku dan rumahku. Disamping itu melalui Denfest ini juga di buka ruang aktivasi publik untuk melakukan aktivitas.

Dalam pembukaan kali ini selain diisi berbagai kreativitas seni juga ditampilkan parade 1000 topeng yang mencerminkan karakter-karakter orang di Denpasar sebagai kota urbanisasi. Tidak hanya itu bahkan memeriahkan Denfest ke-7 juga ditampilkan gong kebyar memperingati 100 tahun gong kebyar. Tidak ketinggalan berbagai komunitas anak muda di Denpasar juga memparedekan aneka topeng baik topeng tradisi maupun topeng modern.

Sementara itu sambutan masyarakat Kota Denpasar sangat antusias, ini terlihat dari jubelen penonton yang membanjiri kawasan Patung Catur Muka. Walaupun mendung menggelayut diatas Kota Denpasar dan sempat diwarnai hujan rintik-rintik, penonton tidak beranjak dari tempat duduknya untuk menikmati suguhan kreatifitas seni seniman Denpasar. (HumDps)

Comments

comments

Comments are closed.