Dekranasda Menyatakan Sangat Perlu Regenerasi Perajin Bali

161
Ketua Dekranasda Ayu Pastika (foto humas.Bali).
Back

1. Hampir Punah

SULUH BALI, Denpasar — Menurunnya minat generasi muda terhadap pekerjaan sebagai pengrajin kerajinan di Bali mendapat perhatian serius dari Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali Ny. Ayu Pastika.

“Padahal kerajinan khas Bali memiliki keistimewaan dan menciptakan peluang bagi generasi muda sebagai mata pencaharian.”Generasi muda lebih tertarik pekerjaan formal, dan pekerjaan sebagai pengrajin dianggap kuno dan kurang menjanjikan, sehingga beberapa kerajinan asli Bali pun terancam punah.” Demikian disampaikan Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah Provinsi Bali, Ny. Ayu Pastika, saat membuka rapat Koordinasi Pengembangan Produk Industri Kreatif Bali yang turut dirangkaikan dengan HUT Dekranasda Provinsi Bali ke-36 di ruang rapat Dekranasda Provinsi Bali, Kamis (3/3).

Untuk itu Ayu Pastika menegaskan perlunya usaha-usaha dalam meregenerasi para perajin tersebut sehingga satu kerajinan yang betul-betul khas bisa lestari dan menjadi ladang penghidupan yang menjanjikan. Ia mencontohkan kerajinan tenun Bali yang saat ini kebanyakan masih dikerjakan oleh para sepuh sudah sepatutnya dikerjakan oleh generasi penerusnya dengan menerapkan manajemen dan metode yang baru dan lebih baik, agar bisa meningkat dari segi kualitas maupun kuantitasnya.

Produksi kerajinan dengan kuantitas banyak pun akan menjadi ladang penghidupan bagi pelakunya. “Generasi muda harus bisa mengambil alih dengan manajemen dan metode yang lebih baik, saya yakin peluang ini sangat menjanjikan” tegas Ayu Pastika optimis.

Lebih jauh Ayu Pastika dalam sambutannya menyatakan Produk kerajinan Bali yang sudah dikenal sejak lama, tetapi tanpa disadari produk kerajinan Bali masih kalah bersaing dengan daerah lain. Untuk mengatasi hal tersebut, Bali harus mulai meningkatkan daya saing produk kerajinannya melalui pengembangan desain yang lebih kreatif dan inovatif, serta meningkatkan kualitasnya melalui SDM yang profesional dan bahan baku yang kualitas dan mutunya lebih baik.

Ia mengatakan sering menemukan ada kerajinan yang menyerupai kerajinan Bali di luar Bali, dan penjualnya nyata-nyata memang bilang meniru produk Bali, dan bahkan bisa lebih laris dibanding produk asli yang dijual. Ditambahkannya meski produk tersebut memiliki kualitas yang kurang bagus, namun karena dikemas dengan menarik dan disesuaikan dengan lebih kekinian sehingga produknya lebih laris.

“Inilah yang perlu kita pelajari agar produk kerajinan kita bisa bersaing dipasaran. Produk yang kita hasilkan harus dibuat lebih kreatif, misalnya kerajinan yang sudah dibuat monoton selama ini bisa dikreasikan dengan menambahkan motif-motif baru. Misalnya untuk kain Ndek, di Bali itu ada sekitar 3000 motif asli yang bisa dipadu padankan. Dan kita pun bisa tetap mengerjakan produk original (asli), dan ketika dipasarkan dipilah antara produk yang original atau modifikasi, dan tentunya dijual dengan harga yang berbeda pula,” ujar Ayu Pastika

Secara rinci Ayu Pastika juga menjelaskan bahwa industri kreatif dan pariwisata merupakan dua hal yang saling berpengaruh dan dapat saling bersinergi. Wisatawan saat ini lebih berminat terhadap wisata yang bisa memberikan pengalaman baru, dan ini bisa menjadi potensi bagi produk-produk kreatif di sektor pariwisata yang dikembangkan melalui paket-paket wisata yang menawarkan pengalaman dan interaksi langsung dengan kebudayaan lokal. “Saat ini dunia pariwisata dan industri kreatif tidak bisa dipisahkan, para wisatawan lebih tertarik berkunjung ke daerah wisata yang mempunyai produk khas untuk kemudian dibawa pulang sebagai souvenir,” pungkas istri orang nomor satu di Bali tersebut.

Peserta rapat Dekranasda Bali (foto humas.Bali).
Back