Debat Pilkada Karangasem | Pengentasan Kemiskinan Jadi Isu Sentral

169
Ketiga paslon Bupati dan Wakil Bupati menyampaikan visi dan misi pada Debat Publik Pilkada Karangasem.

SULUH BALI, Denpasar – Debat Publik Pilkada Karangasem di Hotel Niki, Denpasar, Minggu (22/11/2015) menjadi menarik mengingat isu utamanya mengangkat tentang pengentasan kemiskinan, dimana Kabupaten “Bumi Lahar” sendiri saat ini masih terbelit oleh masalah kemiskinan.

Pasangan nomor urut 1, I Wayan Sudirta dan Ni Made Sumiati (Paket SMS) menyampaikan pengentasan kemiskinan akan dilakukan dengan memberikan paket sembako gratis bagi seluruh masyarakat Karangasem dalam kurun waktu setiap enam bulan.

“Salah satu pengeluaran yang dapat mengurangi penduduk miskin adalah bantuan sembako dan bantuan kedermawanan, maka setiap tahun kalau perlu enam bulan sekali kami akan membagikan kepada seluruh masyarakat Karangasem,” ujar Sudirta yang sebelumnya juga rajin turun memberikan paket sembako kepada masyarakat Karangasem.

Selain sembako, Sudirta juga akan menyediakan cubang air, pendidikan gratis, peningkatan kualitas pelayanan rumah sakit, dan juga santunan kepada masyarakat yang mengalami musibah kematian. “Satu juta tiap orang meninggal akan kami berikan santunan,” imbuhnya.

Pasangan I Gusti Ayu Mas Sumantri dan I Wayan Artha Dipa (Paket Masdipa) menjabarkan dua diantara enam visi Masdipa akan memprioritaskan soal pengentasan kemiskinan di kabupaten Karangasem.

“Visi kami yang ketiga menurunkan angka kemiskinan, keempat meningkatkan kesejahteraan,” terang I Gusti Ayu Mas Sumantri.

Penjabaran visi Masdipa akan diwujudkan kedalam bentuk sembilan aksi nyata program unggulan yang akan menekankan pada penurunan angka kemiskinan.

“Kesembilan program unggulan Nawa Satya Dharma Masdipa yang memiliki fokus utama menekan angka kemiskinan dan keterbelakangan diberbagai bidang,” tambah Artha Dipa.

Berbeda dengan pasangan I Made Sukerana dan I Komang Kisid (Paket Sukses), paket ini lebih menekankan pada keberhasilan pemeritahannya sebelumnya. Dimana menurutnya Karangasem sudah mampu menekan ketertinggalan.

“Tahun 2005 Karangasem digolongkan sebagai daerah tertinggal, tetapi astungkara tahun 2010 sudah dientaskan dari daerah tertinggal,” terang Sukerana.

Begitupun terkait dengan masalah kemiskinan di Karangasem sudah mengalami tren menurun sehingga menurutnya program itu perlu dilanjutkan.

“Tahun 2010 kemiskinan mencapai 31.958, di tahun 2013 mencapai 27.800 menurun 12% melihat hal fakta-fakta itu kami ingin melanjutkannya,” imbuh Sukerana. (SB-SKB)

Comments

comments