Dalang Nardayana (foto rk)

SULUH BALI, Denpasar – Dalang Cenk Blonk juga menceritakan ketika sebelum kuliah di ISI Denpasar. Begitu dirinya mencoba membuat pertunjukkan wayang Cenk Blonk, dia bertubi-tubi menerima hujatan, bahkan sampai dibilang sebagai pelacur seni. Cap seperti itu dilekatkan untuk dirinya karena dinilai hanya untuk sekedar laku alias “pang payu gen”.

“Akhirnya ketika saya kuliah di ISI Denpasar melihat disana apa sih sesungguhnya wayang itu ? Karena saya autodidak, tidak punya guru khusus. Hanya menonton atau mendengarkan kaset-kaset Dalang Dewa Rai Mesi, Dalang Jagra, Dalang Buduk itu yang sering saya putar-putar. Pokoknya seniman dalang, kalau tidak suka nonton akan kacau. Karena dari situ kita bisa mengapresiasi sebuah pertunjukkan. Sesuatu itu akan bisa menyatu dengan diri kita kalau kita lakukan secara terus-menerus,” paparnya.

“Ketika saya kuliah di ISI Denpasar, apa yang terjadi ? Karena saking jengahnya. Ada pertunjukkan dalangnya 10, duduk di kursi roda, dengan layar 20 meter.  Saya tanya, ini mana pakemnya Pak? Dulu kan orang bilang melanggar pakem ini, melanggar pakem itu. Tapi para dosen disana menjawab. ‘Oh ini wayang eksperimen, percobaan kita mencoba menggali sesuatu yang baru, mudah-mudahan bisa diterima’. Akhirnya dengan alasan jawaban itu saya semakin berani untuk melakukan perubahan. Inovasi itu identik dengan perubahan. Kalau perubahan, kritik itu pasti ada,” dia menambahkan.

Dia mencontohkan, dulu orang bilang gadis Bali itu identik dengan rambut panjang. Tetapi ketika gadis Bali itu potong rambut bahkan mekriting, pasti dicap jelek, menor dan sebagainya. Begtulah diberikan cap kepada gadis itu. “Sekarang nyatanya apa sekarang. Jangankan dikriting, rambut merah macam-macam, tidak ada orang protes lagi. Sudah biasa,” katanya.

Begitupun ketika pertama kali orang meletakkan lampu merkuri di Besakih, dia lihat dan amati sangat rame perdebatan dan protes di koran. Ditanyakan lampu itu bahannya apa?  Dikatakan akan bikin cemer pura dan sebagainya. “Nah sekarang coba kita bayangkan Odalan sekarang Bhatara Turun Kabeh di Besakih kalau hanya memakai lampu sentir disana bayangkan apa yang terjadi disana?” tanya Dalang Cenk Blonk dengan nada serius.

Budaya Itu Tidak Mandeg

Kemudian dia jelaskan, pewayangan atau pedalangan itu termasuk kelompok seni, dan seni itu bagian dari budaya. Karena dia budaya, dia tidak mandeg. Dia tidak diam, dia pasti berkembang terus. “Berpakaian juga budaya, dulu orang Bali tidak pakai baju. Wanitanya tidak pakai baju. Apakah sekarang kita mempertahankan tradisi itu ? Tidak. Tetapi ketika kita pakai sesuai dengan tradisi dan budaya Bali kita. Ada udengnya, ada saputnya dan seterusnya,” dia jelaskan.

Akhirnya pada suatau kesempatan Bapak Catra memberinya nasihat, katanya kalau kita terlalu idealis semata dengan kesenimanan kita, hanya semata untuk seni tanpa memperhatikan penonton atau masyarakat yang menikmati seni, istilah Balinya ‘Pokokne iraga gen demen, ane mebalih nyak demen nyak sing’ itu namanya onani seni. Hanya untuk kesenangan dan kepuasan diri sendiri. Mendapat motivasi dan nasihat seperti itu, semakin membesarkan hati dan memompa semangat Nardayana untuk maju disertai inovasi-inovasi dalam pertunjukkan wayang yang dia buat.

Namun dirinya menyadari sekaligus mengingatkan, bahwa setiap dalang itu ada masanya. Dan tidak mungkin juga mampu untuk memuaskan semua orang. “Tantangannya adalah si seniman, dalang pinter-pinterlah mencari massa, dengan cara apa ? Mencari, menggali jati diri kita, apa yang ada dalam diri kita. Jadilah diri sendiri, tidak akan mungkin menjadi orang lain,” pesannya. (SB-Rk).

Comments

comments