SULUH BALI, Denpasar – Kecuali untuk apresiasi. Kalau pertunjukkan (wayang) itu dibuat masih sama seperti dulu, tidak laku. Karena penonton generasi sekarang seleranya sudah beda. Harus berani berubah membuat sesuatu yang baru atau melakukan inovasi. Tetapi memang dalam setiap perubahan sudah tentu akan ada kritik.

Demikian pengakuan lugas dari dalang Cenk Blonk di depan puluhan siswa jurusan pedalangan SMKN 3 Sukawati, Gianyar, saat dirinya diundang menjadi narasumber kegiatan sarasehan di wantilan sekolah tersebut, Sabtu (14/4) lalu.

Sarasehan saat itu mengambil tema : Perkembangan Wayang Kulit Inovasi di Lingkungan Masyarakat Jaman Sekarang. Namun disodori sebagai pembicara tunggal dengan tema seperti itu, dia ngaku merasa tidak tepat dia sendiri yang menilai dirinya sendiri.

“Cap atau penilaian Wayang Cenk Blonk sebagai wayang inovatif itu sebetulnya diberikan oleh orang lain, yakni oleh pengamat, peneliti dan studio rekaman,” jelasnya.

Dia akui kalau seniman wayang (dalang) tidak melakukan perubahan-perubahan, inovasi, peka terhadap masyarakat penonton yang juga sudah berubah. Dia yakin seni pertunjukkan wayang akan ditinggalkan. “Sekarang orang cepat bosan,” ungkapnya. Apalagi menurutnya, berhadapan situasi jaman yang sudah berbeda, berubah dengan sangat cepat, termasuk litaratur seni juga tersedia sangat banyak.

“Kalau jaman dulu, ada selinder yang ngaspal jalan saja banyak warga yang datang untuk nonton orang yang lagi bekerja. Karena hiburan masih sangat jarang. Apalagi kalau ada pertunjukkan wayang, biar sampai pagi masyarakat akan mau nonton,” ungkapnya.

Beberapa kali dia ungkapkan, kalau yang ada di benaknya dulu hanya bagaimana caranya pertunjukkan wayang yang dia bawakan bisa laku, disukai, dan tidak membosankan. Disitulah menurutnya sebuah tantangan yang membutuhkan daya kreatifitas, inovasi dan perubahan-perubahan kalau ingin pertunjukkan wayang tetap digemari.

“Dulu orang bilang, di ISI Denpasar. Bah yen nggango lampu listrik wayang sing hidup. Yan ngganggo lampu Bali mare wayang nyak hidup. Saya menjawab, wayang itu hidup atau sing hidup. Wayang yang hidup ketika pertunjukkan itu nyambung ke penonton. Walaupun wayangnya nyak angkab-angkab tapi penonton sing ngerti. Sing nyak nyambung, sing komunikatif berarti sing hidup,” ungkap Nardayana.

Dia pun ngaku pernah mendengar dan menyaksikan langsung, ketika sekelompok anak muda menonton pertunjukkan wayang dengan memakai lampu blencong, dengan layar kecil dan iringan gamelan konvensional, mereka langsung beri cap kumuh.

“Ada lagi, ada orang tua sekarang sekitar umur 60 sampai 70 an. Dia ditanya, dia penggemar wayang. Pe wayang ape ane paling luung pe ? Wayang Buduk ! Duh to mare ye, munyine baah jeg deman. Wayang Cenk Blonk engken pe ? Araaah ape wayang to benyah latig, keto ye. Ditanya I Bape to. Sekaranga tanya orang muda sekarang. Yan wayang ape ane paling demen Yan ? Wayang Cenk Blonk ! Wayang Buduk ken-ken Yan ? Cen kasetne coba puter ? Ah sing ngerti, munyine engkik-engkik kiap mate,” terang dalang Cenk Blonk tentang perubahan yang terjadi di masyarakat menyangkut tontonan wayang.

Perubahan, kreatifitas, inovasi-inovasi yang dia lakukan ternyata akhirnya mengena dan mulai disukai oleh penonton. Dia ceritakan, mulai mendalang pada tahun 1992, namun baru mendapat respon yang bagus dari penonton dan masyarakat pada tahun 1995. Sebelum menjadi dalang, dirinya sempat juga melakoni sebagai seniman bondres.

Secara garis besarnya, dia uraikan beberapa inovasi yang dilakukannya dalam pertunjukkan wayang Cenk Blonk. Dalam wujud fisik misalnya, alat musik (gamelan) dan alat music modern (keyboard), tata cahaya menggunakan lampu listrik proyektor, membuat bentuk-bentuk wayang baru, alat-alat elektronik berupa audio (pengeras suara), memasukkan seniman gerong dan tandak. Kemudian struktur pertunjukkan dibuat tidak lagi menggunakan struktur tradisi namun membuat struktur baru. Tata Bahasa Kawi Bali Indonesia dan bahasa asing.

Namun Dalang Cenk Blonk ini tetap menekankan pentingnya untuk tetap belajar seni tradisi bagi para calon dalang. Inovasi penting namun pakem tradisi harus tahu dan kuasai terlebih dahulu. Baru kemudian melakukan inovasi-inovasi. Ia manambahkan, ibarat angka, semua berngkat dari angka nol. Nol itulah tradisi, kemudian baru angka 1, 2 dan seterusnya. (SB-Rk Bersambung).

Comments

comments