SULUH BALI, Denpasar – Wayang Cenk Blonk saat ini boleh dikatakan sudah menjadi idola bagi hampir semua kalangan. Penampilannya di setiap pentas selalu dinanti dan ramai oleh penonton. Dalam satu bulan, permintaan dan jadwal untuk pentas pun selalu penuh.

Sang dalang, Wayan Nardayana bahkan mengaku sempat sampai jatuh sakit saking penuhnya jadwal untuk pentas ngewayang. Nyaris tidak ada waktu untuk istirahat baginya. Dia akui, pekerjaan sebagai dalang disamping memerlukan stamina yang baik, juga membutuhkan persiapan mental. Ide, kreatifitas, inovasi dan selalu peka terhadap isu-isu yang berkembang di lapangan.

“Kita sebagai seniman dan dalang harus senantiasa mempersiapkan diri, selalu berpikir bagaimana caranya memuaskan penonton,” katanya di depan para siswa jurusan pedalangan pada sarasehan di aula SMK 3 Sukawati, Sabtu (14/4).

Jadwal pentasnya yang penuh, nyaris tidak dapat waktu istirahat bagi dirinya membuat kondisi kesehatannya sangat drop. Tak ayal jatuh sakitnya dalang Cenk Blonk kala itu, juga menghembuskan isu liar yang mengatakan dia telah meninggal. Dalam kondisi kesehatannya seperti itu, oleh seorang dokter diapun didudukkan, dinasihati sekaligus diultimatum untuk segera merubah pola jadwal pentasnya.

“Kurangi jadwal pentasnya, tetapi naikkan honornya,” urai Nardayana menirukan “perintah” sekaligus strategi yang disarankan sang dokter kepada dirinya saat itu, Agar dapat waktu istirahat dan untuk tetap menjaga kesehatan dirinya, Nardayana pun menuruti saran sekaligus ultimatum yang diberikan oleh sang dokter. “Kalau dulu dalam sebulan bisa sampai 40 kali pentas, sekarang 13 kali,” tambahnya.

Kepada para siswa yang akan dan sedang bergelut di seni itu, ia berpesan. Tunjukkan kelebihan yang dimiliki. Jangan cuma bisa mengikuti atau meniru seniman yang sudah jadi. Mengikuti itu, tidak akan mungkin bisa menyalip. Akan selalu di berada di belakang. “Bila perlu bergerak dan bergeser ke samping, dan salip,” dia memberi perumpamaan.

Karenanya, ia tekankan itu memerlukan ketekunan, kesabaran, proses yang panjang, kreatifitas, jam terbang, pengalaman, dan terus mengisi diri dengan belajar. “Menjadi dalang pun bisa kaya. Tetapi jangan itu yang jadi tujuan. Proesesnya yang penting. Kreatifitas, inovasi, wawasan itu dulu. Kalau sudah begitu, uang akan mengikuti anda,” katanya.

Ketekuanan, kesabaran, atas pilihannya untuk tetap sebagai seniman atau dalang pun telah ia buktikan. Ia ceritakan beberapa tahun silam ia sempat “digoda” oleh tawaran dari seorang calon bupati agar dirinya mau jadi calon wakil bupati Tabanan. Godaan dan tawaran itu ia tolak, karena Nardayana ngaku sadar kapasitas, kemampuan dan bidangnya bukan disana.

“Saya bilang, Pak kalau diumpamakan saya ini ikan. Biarkan dan berilah saya tinggal di air. Saya akan bisa leluasa menari-nari disana. Tetapi kalau saya ditempatkan di jalan saya tidak akan berdaya,” ungkap Nardayana mengingat yang ia sampaikan ketika menolak tawaran untuk menjadi wakil bupati ketika itu.

Ia ingatkan, kalau kita tidak mampu pada bidang itu, jangan lakukan. Lakukan dan asah apa yang menjadi kelebihan yang telah diberikan kepada kita. Karena tiap orang, tiap seniman sudah mempunyai kemampuan dan kelebihan masing-masing.(SB-Rk Bersambung).

Comments

comments