Dagang Sabu-Sabu | Mantan Wakil Ketua DPRD Bali Diadili

0
254
Jro Gede Komang Swastika (JGKS) saat ditangkap (foto istimewa).

SULUH BALI, Denpasar – Mantan Wakil Ketua DPRD Bali dari Fraksi Partai Gerindra, Jro Gede Komang Swastika (40), mulai disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, terkait peredaran narkotika jenis sabu-sabu.

Dalam agenda sidang pembacaan dakwaan yang dipimpin Ketua Majelis Hakim PN Denpasar, Bali, Ida Ayu Adnyadewi, di Denpasar, Kamis, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Dewa Narapati mendakwa Komang Swastika dengan pasal berlapis dengan ancaman hukuman mati.

“Terdakwa melanggar Pasal 114 Ayat 2 juncto Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP, Pasal 112 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika,” kata JPU.

Dalam dakwaan terungkap bahwa terdakwa meminta I Kadek Dandi Suardika (terdakwa dalam berkas terpisah) menjualkan narkotika jenis sahu-sabu sebanyak dua paket yang masing-masing seberat 1 gram yang kemudian dipecah saksi menjadi sembilan paket di kamar kosnya yang berdekatan dengan terdakwa.

Pada 2 November 2017, Pukul 16.00 Wita, saksi Dandi menjual paket kepada orang yang berbeda-beda yang tidak ingat namanya dan saksi kembali menjual empat klip sabu-sabu yang dipecahnya itu pada 3 November 2017. Dandi mengenal salah satu pembeli bernama I Gede Juni Antara.

Setelah menjual barang terlarang itu, Dandi menitipkan uang hasil penjualan sabu-sabu kepada saksi Semiati sebesar Rp15 juta untuk diberikan kepada terdakwa dan saksi Dandi mendapat upah Rp5 juta.

Pada 3 November 2017, Pukul 22.00 Wita, saksi Gede Juni Antara kembali mendatangi Dandi untuk mengambil satu paket sabhu seberat 0,31 gram.

Selanjutnya, saksi Antara dengan membawa satu plastik klip berisi narkotika jenis sabu-sabu akhirnya menuju sebelah utara jembatan di Jalan Pulau Batanta untuk menjual satu plastik klip tersebut.

Namun, saat menunggu pembeli, saksi Juni Antara ditangkap anggota Satresnarkoba Polresta Denpasar dan menyita satu klip sabu-sabu seberat 0,14 gram yang diakuinya milik saksi Dandi.

Berdasarkan pengembangan inilah, polisi menangkap Rahman dan Semiati (terdakwa dalam berkas terpisah) di Jalan Pulau Batanta Nomor 70, Denpasar Barat pada 4 November 2017, Pukul 01.20 Wita dengan barang bukti 24 plastik klip yang diduga berisi sabu-sabu beserta alat isap di kamar kosnya.

Petugas juga menemukan tas warna cokelat yang didalamnya berisi uang tunai Rp13 juta yang diakui sebagai uang penjualan sabu-sabu, kemudian petugas melakukan interogasi kepada saksi Rahman, dan dari keterangan Rahman itu diketahui bahwa sabu-sabu tersebut didapat dari istri terdakwa yakni Ni Luh Ratna Dewi (terdakwa berkas terpisah).

Selanjut menurut keterangan saksi Ratna Dewi saat diperiksa petugas di halaman rumah terdakwa, saksi Ratna Dewi mengakui atas perintah terdakwa telah menyerahkan dua plastik klip sabu-sabu dengan berat masing-masjng sekitar 5 gram kepada saksi Rahman untuk dijual.

Dari hasil pengembangan ini, petugas kembali menangkap I Made Agus Sastrawan pada 4 November 2017, Pukul 03.00 Wita di kediamannya kamar Nomor 1 rumah milik terdakwa, dengan barang bukti klip plastik berisi sabu dengan berat 0,01 gram dan sebuah pipa kaca yang didalamnya berisi sabu-sabu seberat 1,73 gram bruto.

Berikutnya, petugas menggeledah kamar milik terdakwa, setelah itu Saksi Asti Surya Ningsing (istri ketiga terdakwa) dan saksi Ni Made Nasih (ibu kandung terdakwa) menunjukkan kamar terdakwa, kemudian saat hendak dibuka ternyata kamar terdakwa dalam keadaan terkunci dari dalam.

Namun jendela kamar yang berada di belakang, justru pintu kamarnya dalam keadaan terbuka. Setelah itu saksi Kadek Widyana (anggota kepolisian) dan saksi I Nyoman Gede Sukandi (pecalang) masuk melalui jendela kamar, lalu membuka pintu kamar tersebut.

Setelah pintu terbuka, dengan disaksikan saksi I Nyoman Teken (klian dusun), saksi I Gusti Made Suandi (perbekel) serta istri ketiga dan ibu terdakwa dilakukan penggeledahan dan menemukan satu tas hitam di dalamnya berisi sabu-sabu dengan total bersih 8,82 gram dan sejumlah peralatan seperti bong, satu KTA Gerindra atas nama terdakwa.

Setelah itu, petugas menyita dua buah buku tabungan BCA atas nama terdakwa, dan selembar kitir gaji atas nama terdakwa, dua buah telepon genggam serta satu buah server CCTV.

Atas dakwaan JPU, terdakwa yang didampingi penasehat Hukumnya Nyoman Sudiantara tidak mengajukan eksepsi. (SB-ant)

 

Comments

comments