Cok Sawitri | Menyelami Mystical WOR(L)D Lewat Jirah

411
Cok Sawitri saat menjadi pembicara dalam acara Lingkara Photocoffee: Mystical Wor(l)d. (foto-rudi)

1. Makna Mystical

SULUH BALI, Denpasar – Dalam Bahasa Indonesia kata mystical diambil alih bergitu saja dan dituliskan sebagai mistik. Maknanya pun mengalami pendangkalan menjadi segala sesuatu yang bersifat klenik, tidak bisa di nalar dengan akal, irasional atau horror menakutkan. Dari kedangkalan juga beranjak ke makna lain yaitu jatuh sebagai komoditi, ketika kaum urban yang diorientasi mencari kedamaian dan ketenangan hidup dengan cara instan.

Bentuknya adalah kegiatan yang menjamur belakangan ini dalam kursus-kursus Yoga bertarif mahal, motivasi keagamaan di televisi oleh agamawan selebritis. Dalam konteks kekinian, fenomena hiruk pikuknya isu sektarian yang mengemuka belakangan ini misalnya dalam pemilukada Jakarta 2017 adalah bentuk kedangkalan dalam memahami mystical wor(l)d. Ketika firman Allah dalam bentuk ayat suci digunakan sebagai dalih untuk menuduh yang lain menistakan agama. Demikian pula ketika mantram-matram suci dan ayat-ayat kitab suci jatuh menjadi akal bulus mendapatkan fulus dan ketenaran.

Poin-poin itulah yang di antaranya mengemuka dalam acara bincang-bincang santai di Lingkara Photography Community pada Sabtu 18 Februari 2017. Bincang-bincang santai yang dijadwalkan sebagai program rutin 2 kali dalam sebulan di komunitas Photopraphy Lingkara. Sebagai pemantik diskusi adalah Cok Sawitri yang dikenal luas sebagai sastrawan, pemain teater asal Bali.

2. Calonarang

Lewat obrolan lepas tersebut Cok Sawitri mengajak audience yang hadir dengan bersemangat malam itu untuk belajar memahami apa yang disebut sebagai metafore mystical wor(l)d itu. Menyelami maknanya secara utuh, tidak dangkal, tidak salah kaprah atau bila menggunakan bahasa kekinian tidak menistakan dan tidak menyesatkan. Cok Sawitri mengajak kita untuk menyelami mystical wor(l)d itu lewat legenda mistis bernama Calonarang yang dipersonifikasikan sebagai janda dari Dirah atau disebut Jirah.

Bila mengutip mitos-mitos yang berkembang ataupun kajian para akademisi dan sastrawan, streotype epic Calonarang selama ini secara pejorative (mengejek, menghina) menampilkan kisah diskriminatif terhadap perempuan. Dikisahkan seorang janda yang marah karena anaknya yang, walaupun, cantik jelita tidak kunjung mendapatkan pinangan laki-laki. Penyebabnya sang ibu yang digambarkan sebagai seorang janda yang menguasai ilmu hitam dan dengan kesaktiannya mampu membawa malapetaka.

Kemarahan pada cibiran penduduk dan ketakutan stereotype sebagai bajang (perempuan) lapuk yang menimpa anaknya Ratna Mangali membuat Ni Dirah; sang ibu marah. Dirah  kemudian diceritakan melampiaskan kemarahannya kepada rakyat Kerajaan Daha dengan menyebarkan wabah penyakit ke seluruh negeri Daha. Wabah merajalela dan rakyat Daha banyak yang meregang nyawa.

Prabu Airlangga mengutus wiku saktinya yaitu Mpu Bharadah mencari sumber persoalan. Singkat cerita lewat caranya yaitu menikahkan muridnya Mpu Bahula dengan Ratna Mangali anak Jirah. Dengan siasatnya Mpu Bahula dikisahkan mencuri rahasia kesaktian Jirah yaitu kitab ilmu hitam yang didedikasikan pada pemujaan Dewi Durga. Kehilangan rahasia kesaktiannya membuat Jirah yang marah dengan pengkhianatan menantu dengan mudah dikalahkan Mpu Bharadah. Akhirnya kedamaian kerajaan Daha pun bisa dipulihkan.

Di Bali epic Calonarang ini adalah bagian dari seni ruwatan untuk sebuah upakara yang intinya membersihkan dan mengembalikan keseimbangan tatanan dunia. Dalam pandangan Cok Sawitri begitu terbukanya iklim penciptaan dan proses kreatif yang berkembang kala itu, telah membuat munculnya beragam ancangan (versi hasil interpretasi dan kreasi) akan lakon Calonarang dalam panggung pertunjukkan sebagai bentuk seni ruwatan. Bentuk pertunjukkan dan interpretasinya pun disesuaikan dengan kondisi setempat masyarakat di Bali misalnya ada perbedaan antara pertunjukkan Calonarang di Gianyar dengan Denpasar dan Badung.

Namun yang dominan kemudian muncul adalah penggambaran pertunjukkan sakral dan mistis Calonarang yang menyeramkan dan menakutkan. Seorang perempuan yang merafal mantra sakti dan kemudian berteriak melengking kerauhan atau dikenal dengan istilah ngereh. Sang perempuan kemudian berubah wujud menjadi menyeramkan dengan rambut panjang berurai, mata melotot, keluar taring, kuku panjang, lidah dan susu menjulur. Dengan mengibas-ibaskan kain putih berisi rerajahan (aksara suci) dan diikuti sisya (murid-muridnya), sang Calonarang menebarkan terror. Dia pun menuntut kurban manusia sebagai persembahannya kepada Dewi Durga di Setra (kuburan) Gandamayu untuk kesaktian yang didapatkan. Mystical wor(l)d jatuh menjadi horror terror yang menakutkan.

Namun dalam arus lain sentuhan pariwisata (kapitalisme) telah menjinakkan pertunjukkan Calonarang yang menakutkan menjadi paket-paket tontonan wisata. Kisah epic Calonarang seperti nampak di pertunjukkan paket wisata Barong and Kecak Dance itu kemudian  dipenggal, dikemas dan dipaketkan menjadi pertunjukkan yang tidak perlu membuat penonton ketakutkan lagi.

Penontonnya pun riang gembira menonton ditemani kamera mereka untuk berfoto serta kemudian dipenuhi kehausan spiritual mereka saat dijelaskan guide mereka bahwa moral dari cerita Calonarang itu adalah kemenangan kebaikan atas kejahatan. Si Calonarang sebagai simbol kejahatan dikalahkan oleh Barong simbol kebaikan.

Dalam perkembangan lebih jauh manusia-manusia modern kini yang haus spiritual merasa kering pada akal dan rasio kemudian mendamba dan menghamba pada percikan pencerahan. Mereka menjadi merasa seperti Calonarang yang telah dianiaya, dibuat dan dimaknai salah kaprah sebagai mahluk jahat yang kemudian ingin berubah menjadi mahluk baik hati pencari kedamaian. Masuklah dan menjelajahlah mereka ke dalam apa yang disebut mystical wor(l)d ini. Jalan yang ditempuh bukan lagi membawa kurban manusia yang akan dipersembahkan kepada Dewi Durga.

Atau harus datang tepat tengah malam ke setra (kuburan) Gandamayu yang seram itu. Kini Calonarang yang urban dan modern itu datang ke lapangan, mall, Yoga Center berAC dan membawa persembahan segepok rupiah atau dolar. Sekali lagi mysthical wor(l)d disanitasi, dikomodifikasi dan mengalami pendangkalan makna.

3. Memahami Mystical Wor(l)d

Lalu apa? Bagaimana memahami mystical wor(l)d itu? Cok Sawitri menawarkan pada kembali untuk belajar dengan sungguh-sungguh dengan melihat ke diri sendiri sebagai manusia entah manusia lokal Bali, Dayak, Kajang atau berbagai komunitas lokal lain. Apa yang telah diwariskan leluhur kita yang sudah dengan susah payah merumuskan tuntunan bukan tontonan hidup untuk anak cucunya lewat berbagai teks-teks atau simbol-simbol misalnya dalam seni pertunjukkan semacam Calonarang. Secara sederhana Calonarang itu misalnya bisa dimaknai sebagai penghormatan pada ibu dalam arti biologis atau ibu bumi (pertiwi). Esensi lakon Calonarang adalah menawarkan kedamaian dan restoring order bukan keseraman dan terror yang menakutkan.

Lewat epic Calonarang, Cok Sawitri juga mengajak kita untuk memahami mystical wor(l)d secara utuh. Bukan sebagai mistis, irasional yang selalu berhubungan dengan klenik. Bukan pula yang menjadikannya komoditi pemuas dahaga spiritual kaum urban disorientasi. Tapi menyelami mystical wor(l)d lewat akal sehat untuk semakin meneguhkan pemahaman diri kita dengan serius menghormati dan mempelajari warisan para leluhur kita. Karena nubuat para nabi ilmuwan sosial bahwa semakin modern manusia maka akan semakin sirnalah apa yang disebut mystical itu telah terbukti salah.

Buktinya lihatlah manusia urban modern kini yang disorientasi terus menerus merasa kering spiritual dan hal mistis. Lihat kaum urban di Jakarta yang hiruk pikuk teriak soal surga dan neraka. Kiranya sampai kapanpun Mysthical wor(l)d akan selalu hadir mengiringi dinamika peradaban manusia sebagaimana dianalogikan Cok Sawitri sebagai kecoa yang hilang kepala pun masih mampu berkembang biak dan hadir mengisi ruang-ruang kehidupan manusia. (SB-ist)

4. Comments

comments

1 COMMENT

Comments are closed.