Charlie Hebdo dan Seperti Apa Kebebasan Pers Yang Diinginkan?

121

Oleh : Otjih Sewandarijatun*)

 

Kantor Majalah Charlie Hebdo di Paris, Prancis ditembaki oleh 3 pria bersenjata dan menewaskan 12 orang. Majalah dwi mingguan ini sudah menjadi target ancaman sejak menerbitkan kartun nabi Muhammad, 8 tahun lalu. Charlie Hebdo bermula pada tahun 1970 dengan mengambil inspirasi karakter buku komik Amerika, Charlie Brown. Sejak awal, Charlie Hebdo sudah bertujuan untuk mengejek selebriti, pemimpin politik dan agama.

Visi Charlie Hebdo ini tidak pernah berubah meski ancaman ke kantor majalah ini terus menumpuk. Majalah satir ini menjadi terkenal pada bulan Februari 2006 ketika mencetak ulang kartun Nabi Muhammad yang awalnya muncul di koran Denmark Jyllands-Posten.

Hal ini menyebabkan kemarahan di negara-negara Muslim. Ancaman menjadi suatu hal yang konstan sejak karikatur Muhammad itu diterbitkan.”Kami telah hidup di bawah ancaman selama delapan tahun. Ada perlindungan. Tapi tidak ada yang bisa dilakukan terhadap orang biadab yang datang dengan Kalashnikov,” kata pengacara Charlie Hebdo, Richard Malka. Kantor Charlie Hebdo pernah dibom pada bulan November 2011 ketika menerbitkan kartun Muhammad dengan judul “Charia Hebdo”. Tidak ada korban dalam serangan tersebut.

Halaman depan edisi hari ini dari Charlie Hebdo menampilkan kartun penulis Perancis kontroversial Michel Houellebecq. Dia telah menulis sebuah buku membayangkan masa depan Perancis datang di bawah pemerintahan Islam. Tweet terbaru dari akun Charlie Hebdo adalah kartun satir pemimpin kelompok ISIS Abu Bakr al-Baghdadi. Al-Baghdadi digambarkan ingin kesehatan yang baik.

Serangan ke kantor Majalah Charlie Hebdo berlangsung di tengah rapat editorial. Pemimpin redaksi Stephane Charbonnier dan 3 orang kartunisnya termasuk dalam 12 orang yang tewas dalam aksi penembakan ini. Polisi saat ini sedang memburu 3 orang pelaku yang teridentifikasi bernama Said Kouachi dan Cherif Kouachi yang diyakini merupakan warga Prancis keturunan Aljazair berusia di awal 30-an. Kaki tangan mereka bernama Hamyd Mourad, berusia 18 tahun yang kewarganegaraannya tidak jelas. Pejabat setempat menyebut ketiga pria ini terkait dengan jaringan teroris Yaman. Namun, mereka tidak mengkonfirmasi apakah kelompok itu adalah al-Qaeda.

Beberapa pemimpin negara maju mengeluarkan pernyataan yang mengecam penyerangan tersebut. Presiden Prancis Francois Hollande langsung mendatangi lokasi penembakan dan mengutuk kejadian ini. Pemimpin Eropa lainnya seperti PM Inggris David Cameron dan Kanselir Jerman Angela Merkel juga langsung bereaksi. Presiden AS Barrack Obama menawarkan dukungan kepada Prancis untuk menangkap para pelaku.

Disamping itu, rasa solidaritas warga dunia terhadap aksi penembakan di kantor majalah satir Prancis Charlie Hebdo terlihat di dunia maya. Tagar #JeSuisCharlie adalah bukti hujatan dunia atas serangan yang menewaskan 12 orang itu. Banyak para pengguna Twitter yang mengganti foto profil mereka dengan gambar berupa tulisan putih di atas latar belakang hitam. Tulisan itu berbunyi #JeSuisCharlie atau ‘Saya adalah Charlie’. Sudah ada lebih dari 500.000 tweet yang menggunakan hashtag tersebut dari orang-orang di seluruh dunia. Netizen juga menyuarakan kecaman mereka terhadap serangan maut itu. “Meneror orang untuk tidak menceritakan lelucon. Membunuh orang untuk menceritakan lelucon. Lebih penting daripada sebelumnya untuk terus bercanda. #Solidarite #JeSuisCharlie,” bunyi salah satu tweet dari Malaysia.

“Senjata kehabisan peluru. Wartawan tidak akan kehabisan kata-kata. #JeSuisCharlie,” tulis netizen lain. Kartunis dan seniman lainnya juga mencuit dengan menampilkan beberapa kartun yang menggambarkan kemarahan atas serangan itu. Salah satu kartunis Australia menunjukkan seorang pria bersenjata mengatakan, “Dia yang menggambar pertama.” Gambar itu telah di-Retweet lebih dari 8.000 kali. Wartawan di seluruh dunia menyatakan simpati dan solidaritas mereka terhadap tragedi ini. Salah satu foto menunjukkan ruang berita wartawan di Agence France Presse di Paris memegang tulisan “Je suis Charlie.”

Bukan Yang Pertama

Serangan terhadap majalah Charlie Hebdo adalah kejadian kekerasan terhadap media massa yang bukan pertama kalinya, karena sebelumnya di New Delhi, aparat kemanan India menangkap seorang pria yang diduga sebagai pengelola akun Twitter @ShamiWitness yang digunakan sebagai alat propaganda ISIS di India memiliki 17.700 follower, termasuk banyak pelaku jihad asing. Selain itu, aparat kemanan India juga menyita sejumlah dokumen penting serta foto dan literatur berbau militan di dalam rumah pria yang ditangkap tersebut, yang akan digunakan sebagai barang bukti di persidangan nanti.

Sementara itu, wartawan Cihan News Agency, Selim Caglayan menyampaikan rasa keprihatinannya atas rezim otoriter Presiden Recep Tayyip Erdogan terkait dengan penahanan rekan-rekan jurnalis termasuk Kepala Editor Harian Zaman, Ekrem Dumanli oleh Pemerintah Turki tanpa dasar dalam emailnya. Selim Caglayan menilai kebebasan pers dan demokrasi di Turki saat ini sangat menyedihkan. Sebelumnya, Presiden Erdogan secara terbuka mengecam surat kabar dan meminta para pendukungnya untuk memboikot surat kabar serta mempersulit bisnis-bisnis berlangganan koran.

Apa yang terjadi terhadap majalah Charlie Hebdo, penahanan wartawan atau staf Aljazeera oleh Pemerintahan Mesir dan penahanan wartawan di Turki jelas menggambarkan indeks kebebasan berekspresi sedang terganggu, namun kejadian-kejadian ini juga harus menjadi pelajaran bagi kalangan wartawan di negara manapun bahwa kebebasan berekspresi tidak dapat diterjemahkan secara rigid sebagai kebebasan sebebas-bebasnya, apalagi kebebasan tersebut menyinggung keyakinan salah satu umat beragama ataupun bernuansa SARA yang pasti yang dapat menyulut aksi vandalisme atau kekerasan.

Apa yang terjadi terhadap majalah Charlie Hebdo tidak serta terkait dengan terorisme, walaupun pejabat di Perancis sudah menyatakan bahwa pelakunya dari kelompok teroris. Yang pasti, di era information edge sekarang ini, peranan media massa baik cetak, website ataupun sosial media sangat signifikan dalam menyampaikan pesan, pikiran ataupun propaganda oleh semua kelompok baik kelompok teror ataupun kelompok non teror dan dilakukan aktor non negara ataupun negaa.
Kejadian Charlie Hebdo jelas juga sebagai pembelajaran bagi komunitas jurnalis di Indonesia, walaupun sejauh ini dengan tidak adanya penahanan terhadap wartawan atau sensor dan pembredelan terhadap media massa di Indonesia, jelas menunjukkan iklim kebebasan pers di Indonesia jauh lebih baik dari beberapa negara lainnya.

Oleh : Otjih Sewandarijatun * Penulis adalah alumnus Udayana, Bali.

Comments

comments