Dalang I Wayan Nardayana (Cenk-Blonk). |foto-raka|

 

SULUHBALI.CO, Denpasar – Memiliki ketrampilan dan pengetahuan alangkah baiknya anak-anak muda Bali belajar untuk membuat usaha sendiri atau menjadi wirausaha. “Makanya teruslah belajar setinggi-tingginya, kejar pengetahuan dan ketrampilan. Kalu sudah punya skill atau ketrampilan coba untuk membuat usaha sendiri, membuka lapangan kerja untuk diri sendiri dan orang lain. Buat sendiri, tidak bingung dan terpaku mencari-cari kerja,” pesan Nang Lecenk (Cenk) kepada saudaranya Eblonk (Blonk). “Apalagi sampai berhutang untuk nombok hingga ratusan juta, kalau saya punya uang sebanyak itu sudah cukup untuk membuat usaha,” tambahnya.

Nang Eblonk balik bertanya : “Men usaha ape ane cocok gae Cenk?” Nang Leceng nyahut : “Jani asal ade kemauan dan mau berusaha, jek liu ade peluang usaha. Menurut pengamatan saye, luire ngadep bensin, ngadep atau membuka kounter HP dan pulsa, komputer dan sebagainya, ento jani liu nak merluang. Yen ci perlu modal, nak sube ade program pemerintah Provinsi Bali merupe Jamkrida. Dadi ci nyilih modal ditu anggo modal usaha,” tambah nasihat Nang Leceng kepada Nang Eblonk. “Yen ci sube membuka usaha, jelas be perlu karyawan. Daripada penampilan ci gen melengis, kewala kantong sesai puyung wireh terus uber cicilan hutang? Hehe..ruh,” ejek Nang Lecenk (Cenk).

Itulah sekelumit obrolan, gegonjakan bernada kritis  tokoh Cenk-Blonk oleh dalang I Wayan Nardayana, saat Pagelaran  Wayang Cenk-Blonk, Desa Blayu, Marga, Tabanan, di panggung terbuka Arda Chandra, Jumat malam (25/7/2014) mengisi acara Bali Mandara Mahalango. Cenk-Blonk merupakan dua tokoh ciptaan yang masing-masing memiliki karakter kritis dan independen. Nang Lecenk dengan cirri khasnya disertai bentuk mulut yang panjang, logat serta nada bicaranya yang cepat, ngereceb namun sangat peduli dengan kehidupan sosial, adat dan agama. Sedangkan Nang Eblonk (Blonk) sebagai sosok yang dabdab, cenderung bloon, sabar tetapi tulus dan kritis. Kedua tokoh inilah yang senantiasa menjadi perhatian penonton wayang ini, karena memberikan lawakan, banyolan segar, kritis, cerdas kadang menyengat.

Mengambil lakon/judul “Kapi Pramudya”, yang diambil dari cerita Ramayana. Menceritakan kesaktian tak tertandingi dari Rahwana dari Kerajaan Alengka, bahkan kesaktiannya tersebut mampu menaklukkan hingga ke alam sorga atau para Dewa sekalipun. Kesaktian Rahwana tersebut merupakan anugerah dari Mahadewa, sebagai pahala (buah, hasil) dari ketekunannya bertahun-tahun  melakukan yasa-kerti, tapa,  yoga dan semadi.  Namun sayang karena kesaktiannya itu, Prabu Rahwana menjadi tinggi hati, bahkan berkeinginan menguasai dan mengalahkan para Dewa. Sampai suatu ketika Rahwana mampu mencuri Kembang Wijayakusuma di sorga, alam para Dewa. Para Dewa menjadi panik atas hilangnya Kembang Wijayakusuma itu. Untuk mencari dan mengembalikan Kembang Wijayakusuma, para Dewa mengutus kupu-kupu kuning, dengan merubah wujud menjadi seekor kera yang diberi nama Kapi Pramudya.

Sesampai di Alengka, untuk menghadapi kesaktian Rahwana beserta para raksasa, Kapi Pramudya lagi merubah wujud juga menjadi sosok raksasa. Akhirnya Kembang Wijayakusuma mampu diambil kembali untuk selanjutnya dibawa ke sorga, ke alam para Dewa.

Wayang Cenk-Blonk memang sudah menjadi idola dan digemari oleh semua kalangan. Baik anak-anak, remaja, para orang tua, laki maupun perempuan. Itu juga nampak dengan membludaknya para penonton yang memenuhi panggung terbuka Arda Chandra. Panggung terbuka penuh sesak, areal parkir Art Center nyaris tidak kuasa menampung kendaraan yang dibawa para penonton. Pagelaran yang dimulai tepat pukul 20.00 wita berakhir pukul 22.00 wita, mampu memberi hiburan yang segar dan sarat pesan serta nilai-nilai kehidupan. (SB-Raka).

Comments

comments