Catat Tanggalnya, Ini Pagelaran Seni “Bhineka Tunggal Ika”

53

Suluh Bali, Denpasar – Pagelaran Seni “Bhineka Tunggal Ika” akan dibuka secara resmi pada Sabtu, 5 Agustus 2017 di Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma. Dengan mengusung tema Bhineka Tunggal Ika, Sutasoma Organizer yang terdiri dari sekelompok perupa ingin menyajikan sebuah pertunjukan yang dapat mengajak pengunjung untuk kembali meresapi nilai-nilai yang termaktub dalam semboyan negara Indonesia ini.

Pagelaran kali ini merupakan kelahiran dari drama tari pewayangan “Sutasoma” dengan judul Purusada Santha. Dikerjakan dengan baik dan seksama oleh I Made Sukadana, I Wayan Purwanto dan I Wayan Jaya Merta dengan menciptakan sebuah koreografi, topeng dan musik yang baru. Dalam drama ini dikisahkan perjalanan calon Buddha dilahirkan kembali sebagai Sutasoma, dan juga tercetusnya konsep “Bhineka Tunggal Ika” itu dalam kisah perjalanannya.

“Jadi untuk pementasan drama tari Sutasoma ini kami beri judul Purusada Santha, diambil dari satu fragmen kisah Sutasoma yang kami gagas menjadi sebuah drama tari inovatif dan kreatif, dengan menggabungkan tarian, wayang wong, musik tetabuhan, yang juga menggunakan 17 topeng baru yang dibuat secara khusus oleh Cokorda Raka Sedana. Mewakili 17 tokoh dalam drama tari pewayangan Sutasoma. Pementasan tanggal 5 nanti ini memang ini merupakan proses kelahiran. Kedepannya akan terus kami sempurnakan dan kembangkan”, jelas I Wayan Purwanto tentang proses kelahiran drama tari kreatif “Sutasoma”.

Selain menandai kelahiran drama tari Sutasoma, pagelaran seni Bhineka Tunggal Ika juga menampilkan dua pertunjukan tari lainnya, yaitu Purwa Sandhi Naya pada tanggal 10 Agustus 2017 dan Sunda Upasunda pada tanggal 12 Agustus 2017.

Purwa Sandhi Naya memiliki arti bertemunya budaya tradisi dengan budaya modern. Dimana dalam acara ini disajikan pertunjukan tari topeng dan wayang, klasik dan kontemporer oleh seniman-seniman mancanegara dari Jepang, Meksiko, Argentina dan Amerika Serikat. Pementasan Tari Purwa Sandhi Naya ini menunjukan spirit Unity in Diversity, dan menunjukan tingginya nilai seni dan budaya bangsa Indonesia sehingga seniman mancanegara pun turut mempelajarinya.

Selain menggelar pertunjukan tari, dalam pagelaran seni “Bhineka Tunggal Ika” juga melibatkan seniman dan fotografer untuk merespon kelahiran tari dan topeng Sutasoma, merespon tarian Sunda Upasunda, Purwa Sandhi Naya dan juga tema besar tentang ke-bhineka tunggal ika-an. Lontar yang berisi kisah Sutasoma dari Bapak oleh I Wayan Mudita Adnyana seorang sastrawan / penulis lontar dari desa Tenganan Pegringsingan, Bali serta 17 topeng buatan Cokorda Raka Sedana pun turut dipamerkan.

Nyoman Wijaya menampilkan karya-karya drawingnya yang merekam sosok penari-penari dari tiga pertunjukan tari.

Sementara, sekitar 15 fotografer merespon dengan berbagai ide dan eksekusi karya foto yang beragam. 15 Fotografer dari berbagai komunitas foto tersebut antara lain Doddy Obenk, Tjandra Hutama K, Djaja Tjandra Kirana, Mario Andi Supria, DP Arsa, Windujati, Stefanus Bayu, Firmansyah Cakman, Bayu Pramana, Wayan Budhiarta, Gede Apgandhi, Gede Puja, Anom Manik Agung, Widnyana Sudibya, dan Ida Bagus Alit.

Pagelaran Seni “Bhineka Tunggal Ika” ini merupakan pagelaran skala internasional yang melibatkan seniman Indonesia dan Mancanegara. Sebuah manifestasi atas kecintaan akan budaya dan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia dengan visi dan misi memberikan edukasi, entertainment, dan rasa persatuan melalui seni. Pameran karya-karya topeng, lontar, lukisan dan foto dapat dinikmati selama satu bulan dari 5 Agustus 2017 hingga 5 September 2017 di Rumah Topeng Wayang Setia Darma, Tegal Bingin, Mas, Ubud. (sb-cas)

Comments

comments