Campur Tangan “Belawa” Dibalik Lezatnya Lawar Bali

872

Seoarang belawa saat sedang mencampur lawar. |foto-su|

 

SULUH BALI, Amlapura – Siapa tak kenal dengan lawar Bali, semua orang pasti mengenal kelezatan masakan yang satu ini. Umumnya jenis masakan khas Bali ini terbuat dari olahan daging babi seiring waktu dikembangkan dengan olahan berbagai daging konsumsi dan kini masakan ini merupakan salah satu primadona yang paling dicari dan digemari di Bali.

Awalnya masakan lawar ini bermula dikenal sebagai bagian dari sarana upacara yadnya. Dimana setiap pelaksaan upacara yadnya di Bali selalu menggunakan lawar Bali dalam tradisi ngebat.

Di Karangasem secara khusus pengolah masakan untuk berbagai upacara yadnya  dikenal dengan nama belawa. Julukan belawa sendiri berarti juru masak yang secara khusus tugasnya adalah mengolah masakan lawar  dan berbagao olahan upakara dan kemudian dihaturkan dalam rangkaian yadnya maupun kemudian dinikmati oleh masyarakat.

Salah satu daerah di Karangasem yang masih berpegang teguh dengan keberadaan belawa ada di Desa Pekraman Ipah, Kecamatan Sidemen, Kabupaten Karangasem. Di desa pakraman ini Belawa memiliki tugas khusus yang sebagai pengolah masakan dalam kaitannya dengan pelaksanaan panca yadnya.

Sistem tugasnya diangkat oleh desa pakraman dengan ketulusan ngayah (keikhlasan) tanpa mengharapkan imbalan. Tugasnya pun khusus dalam masakan, dari membuat basa (bumbu), mengolah dan sampai meenatanya menjadi upakara bebanten.

Peran belawa sebagai juru masak inilah yang menjadi sangat menentukan cita rasa masakan lawar Bali. Seorang Belawa adalah seorang profesional di bidang mengolah sebuah masakan sehingga mampu menciptakan kelezatan lawar Bali.

Tangan-tangan terampil seorang belawa menjadi sebuah senjata utama yang dimilikinya. Bahkan tangannya selalu mencampur puluhan bumbu cabai namun tidak pernah merasakan panas seperti diungkap oleh seorang belawa di Desa Pakraman Ipah (26/8/2015) bernama Wayan Landra, “Sampun biasa ten panes, merasa panes tapi saat kondisi ten becik (sudah biasa tidak panas, terasa panas disaat kondisi tubuh tidak bagus),” ungkapnya.

Menurutnya hal yang paling menentukan kelezatan cita rasa sebuah lawar adalah kemampuan yang lebih dalam mencampur bumbu, bumbu Bali pun tidak hanya satu namun terdiri atas berbagai macam bumbu yang membedakan dengan masakan wilayah lainnya. “Tergantung cara nyampur basa, basa bali base jawa len nike (tergantung cara mencampur bumbu, bumbu Bali dan Jawa lain itu),” terang Landra.

Basa (bumbu) Bali yang menjadi sebuah campuran dari masakan lawar sendiri diantaranya: basa genep (lengkap), basa rajang (bumbu dirajang), basa gede (bumbu pokok) dan bumbu-bumbu lain yang menguatkan cita rasa lawar Bali yang semakin lezat dan menggoda. (SB-Su)

Comments

comments