Suasana di salah satu sudut tempat calon penumpang menunggu di Bandara Ngurah Rai ( foto Ijo).

SULUH BALI, Denpasar –Wagub Bali Ketut Sudikerta merasa kecewa pada PT Angkasa Pura, karena dianggap kurang menyediakan kursi untuk calon penumpang yang menunggu keberangkatan pesawat di Bandara Ngurah Rai, “Penataan tempat duduk kurang hingga tamu domestik maupun wisatawan mancanegara banyak yang duduk di lesehan sehingga bandara terkesan kumuh.”

Hal lain yang membuat pemandangan bandara terlihat kurang elok yakni terkait banyaknya dagang yang terdapat di terminal kedatangan maupun keberangkatan. Sudikerta mengharapkan agar pedagang tersebut diberi jarak dan ruang sehingga terlihat lebih rapi.

Ditambahkan Sudikerta dalam rapat bersama General Manager PT Angkasa Pura Herry Sikado dan Kepala Otoritas Bandara wilayah IV Bintang Hidayat, Kamis (6/11/2014) agar bisa menonjolkan kesan budaya Bali, seharusnya PT Angkasa Pura mengganti ucapan selamat datang di Bandara yang umumnya menggunakan “Welcome to Bali” diubah menjadi “Om Swastiastu Rahajeng rauh ring Bali”.

“Ganti ucapan selamat datang baik di terminal kedatangan maupun di terminal keberangkatan, disesuaikan dengan estetika yang ada. Di Thailand saja bisa kenapa kita tidak, karena dengan itu wisatawan yang berkunjung akan benar-benar merasa berada di Bali,” ujarnya.

Hal lain yang tidak kalah pentingnya Wagub mengharapkan PT Angkasa Pura bisa memberikan kontribusinya kepada Pemprov Bali dengan melakukan sharing sesuai aturan yang ada sehingga bisa membantu menambah pendapatan Pemprov Bali untuk APBD Tahun 2015.

bandara1
Wagub Sudikerta sedang rapat bersama pengelola Bandara Ngurah Rai (foto humas/Bali)

Ruang VIP
Pada rapat yang juga dihadiri Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Bali I Ketut Artika, Sudikerta mengingatkan ruang kedatangan untuk tamu-tamu penting itu dapat segera dirampungkan.

Hal itu ditekankan karena ruang kedatangan belum mencapai sasaran yang diinginkan, antara lain menyangkut pengerjaan VIP II yang telah direncanakan sejak tahun 2013.

Untuk itu Wagub Sudikerta minta pembangunan perbaikan dilakukan secepatnya agar bisa dimanfaatkan.

Demikian pula isi, bentuk dan perlengkapan fasilitas tersebut agar selalu dikoordinasikan dengan Pemprov Bali sehingga bisa diberi masukan untuk kesempurnaannya.

Kaitan dengan pintu keluar masuk ke VIP Wagub Sudikerta melihat perlunya ditambah pintu agar tidak menimbulkan kemacetan yang membuat ketidaknyamanan bagi pengguna Bandara Ngurah Rai.

Wagub Sudikerta juga menyoroti tentang pemberian izin tamu penggunaan ruang VVIP yang tanpa seizin Pemprov Bali.

Karena itu, ia meminta hendaknya izin tersebut dikomunikasikan terlebih dahulu dengan Pemprov Bali yang bertanggungjawab sebagai pengawas.

Hal lain yang membuat pemandangan bandara terlihat kurang elok yakni terkait banyaknya dagang yang terdapat di terminal kedatangan maupun keberangkatan.
Sudikerta mengharapkan agar pedagang tersebut diberi jarak dan ruang sehingga terlihat lebih rapi.

Sedang Dikerjakan

Menanggapi keluhan dan teguran dari Wagub Sudikerta, General Manager PT Angkasa Pura, Herry Sikado beserta Kepala Otoritas Bandara wilayah IV, Bintang Hidayat menyampaikan soal kursi tempat duduk kurang karena para calon penumpang pesawat, sambil menunggu lebih memilih untuk duduk lesehan di lantai, walaupun kursi yang tersedia banyak. Oleh sebabnya untuk mengantisipasi terulangnya hal tersebut, maka saat ini sudah disediakan “customer service” yang selalu mengingatkan akan adanya kursi kosong yang tersisa serta di Tahun 2015 PT Angkasa Pura akan menambah 500 set kursi.

Demikian pula permintaan mengubah ucapan selamat datang, Herry menyampaikan bahwa anggaran tersebut sudah disediakan tinggal menunggu keputusan dari Pemprov Bali.

Sedangkan untuk pembangunan VIP II sedang dikerjakan oleh kontraktor.

Terkait penambahan pintu keluar di VIP II memang dibuat terpisah karena sesuai pergub tidak sembarang orang boleh masuk ke VIP II sehingga orang-orang umum tidak masuk di areal VIP II.

Menyangkut “CIP lounge” menurut Herry “CIP lounge” dibuat untuk mengantisipasi terbatasnya fasilitas saat APEC, saat ini “CIP lounge” akan diperuntukkan bagi tamu-tamu yang ingin pelayanan lebih namun tidak masuk dalam kriteria pergub sehingga orang-orang tersebut tidak masuk ke VIP II.

Dengan demikian yang dari terminal internasional langsung melalui jalur reguler, sedangkan domestik melewati pintu sebelah VIP II.

Demikian pula terkait izin tamu-tamu di VIP II, Herry menyatakan bahwa angkasa pura tidak mempunyai kewenangan untuk mengatur tamu yang ada di VIP II. Sedangkan untuk isi bangunan di VIP II, Herry meminta arahan dari Pemprov Bali sehingga bisa tercipta bangunan yang sempurna. (SB-ant)

Comments

comments