Calon Legislatif Wanita Bali Kurang Berkualitas

34

SULUHBALI.CO, Denpasar– Dr. Nyoman Subanda, MSi selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Denpasar menilai, pada calon legislatif wanita di Bali masih minim kualitas dalam merebut kursi di DPRD kabupaten/kota dan provinsi dalam Pemilu mendatang.

“Mereka tidak terlalu memiliki kualitas dan cenderung terlalu dipaksakan oleh partai politik (Parpol) yang mengusungkan, semata-mata hanya menekankan kuota sebesar 30 persen,” kata Dr Nyoman Subanda, M.Si yang juga berperan sebagai pengamat masalah politik di Denpasar, Jumat (27/9).

Parpol seharusnya tidak begitu saja dalam penentuan kader wanita untuk maju dalam pemilu legislatif, namun perlu proses kaderisasi yang baik untuk mendapatan calon wakil rakyat yang bermutu. Oleh sebab itu Parpol seharusnya membentuk lembaga pengkaderan yang baik sehingga proses kaderisasi tidak terputus. Pendidikan politik sangat dibutuhkan para perempuan sehingga proses kaderisasi berjalan dengan lancar.

“Saya pernah ditunjuk sebagai tim kelayakan dan kepaturan dari sejumlah parpol, sering saya temui para caleg wanitanya hanya tamatan SMA,” ujar Nyoman Subanda.

Dukungan publik terhadap wanita berpolitik masih kurang dalam kehidupan masyarakat Bali, Konstruksi masyarakat Bali belum memberikan tempat bagi wanita dalam dunia politik, ranah wanita masih dipandang domestik yakni di rumah tangga.

Kekuatan utama dalam dunia politik hanya dengan mengandalkan konektivitas dan dukungan uang, tanpa memandang kualitas sehingga tidak bagus dalam pembentukan karakter bagi seorang anggota dewan.

Peluang bagi caleg perempuan berkualitas yang ingin berkembang dalam kancah politik tentunya masih terbuka dan mewujudkan politik yang ideal menjadi tugas semua pihak dan jika ada seorang kader berkualitas sepatutnya mendapat dukungan penuh dari partai dan bukan hanya melihat apa yang bisa diberikan oleh kader ke partainya misalnya seperti uang.

Dukungan dana itupun nantinya akan habis hanya untuk membuat baliho, spanduk maupun “membeli suara”. Oleh sebab itu pendidikan politik sangat penting dimulai dari calon legislatif, partai hingga masyarakat.

“Jangan korbankan bangsa demi kepentingan sesaat, jika wakil rakyat di DPRD kabupaten, kota, provinsi dan DPR RI kurang berkualitas, sehingga produk undang-undang yang dihasilkannya pun tidak bermutu,” ujar Nyoman Subanda. (SB-ant/lika)

Comments

comments

Comments are closed.