Bupati Eka Gaungkan Pancasila dan Trisakti di Hadapan Peserta BDF IX

71
SULUH BALI, Tabanan – Upaya Pemerintah Kabupaten Tabanan di bawah kepemimpinan Bupati Ni Putu Eka Wiryastuti dan Wakil Bupati I Komang Gede Sanjaya dalam memupuk dan membina toleransi antarumat beragama dan pluralisme mendapatkan apresiasi yang baik di level nasional maupun internasional.
Hal tersebut setidaknya bisa dilihat dari pilihan Komite Bali Democracy Forum (BDF) IX yang menjadikan Kabupaten Tabanan sebagai salah satu daerah yang serius memupuk dan membina toleransi dan pluralisme di level masyarakat.
Bagi Bupati Eka Wiryastuti, apresiasi tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi dirinya selaku pimpinan daerah di Tabanan. Begitu juga dengan pilihan Komite BDF IX beserta para pesertanya yang terdiri dari puluhan menteri luar negeri dan delegasi dari negara-negara peserta forum.
Dalam sambutannya, Bupati Eka menggaungkan Pancasila dan Trisakti yang dilahirkan Bapak Pendiri Bangsa sekaligus Presiden Pertama Indonesia, Ir Soekarno. Dikatakan, pemimpin daerah dirinya selalu berusaha menjaga pluralisme serta toleransi antarumat beragama yang berkembang di tengah masyarakat Tabanan. Terlebih lagi, Pancasila, ajaran yang dilahirkan Ir Soekarno selaku Bapak Pendiri Bangsa sekaligus Presiden Pertama Indonesia telah mengamanatkan persatuan dan kesatuan.
“Karena Pancasila, Tabanan menjadi kuat. Karena Trisakti, Tabanan menjadi kuat,” tegas Bupati Eka di hadapan Menteri Luar Negeri RI Retno Lestari Priansari Marsudi seluruh peserta BDF IX yang berkunjung ke Bali Bina Insani Boarding School, Jumat (9/12). Kebetulan, BDF IX menjadikan pondok pesantren yang berada di Desa Meliling, Kecamatan Kerambitan sebagai contoh penerapan toleransi dan pluralisme di tataran masyarakat.
Karena itu, sambung Bupati Eka, pihaknya bersama seluruh jajaran di lingkungan Pemkab Tabanan berterima kasih kepada Komite BDF IX yang menjadikan Tabanan sebagai contoh penerapan toleransi dan pluralisme di tingkat masyarakat. Dia juga berharap kunjungan para menteri dan delegasi peserta forum ke Tabanan bisa memberikan pengalaman tersendiri.
“Saya berharap harmoni yang berkembang di Tabanan ini tervibrasi ke seluruh penjuru Nusantara dan negara lainnya,” tandasnya.
Sementara itu, H Ketut Imadudin Djamal selaku Kepala Bali Bina Insani Boarding School menjelaskan, sekolah yang dia pimpin sesungguhnya sebuah lembaga yang mengajarkan kebersamaan serta toleransi. “Bahwa, ciptaan semua manusia semuanya bersaudara. Manusia diciptakan untuk saling menyayangi, saling memberi. Perbedaan yang ada di tiap bangsa dan negara adalah karunia Tuhan,” ujarnya.
Dikatakan, di Indonesia ada Pancasila. Sementara, di Bali Bina Insani Boarding School juga diajarkan tentang Pancajiwa yang terdiri dari keikhlasan, loyalitas, integritas, persaudaraan, dan kesederhanaan.
“Sebanyak 341 santriwan santriwati di Bali Bina Insani kami ajarkan Pancasila dan Pancajiwa. Kami biasa berbeda di sini. Karena dalam pandangan kami, pelangi itu indah karena warna-warninya. Sebuah taman itu indah karena ada bunga dan aneka ragam tanaman,” jelasnya.
Dia menambahkan, pluralisme adalah sebuah keniscayaan. Di Bali Bina Insani, pluralisme bukan lagi sebuah ide atau gagasan semata, namun fakta.
“Kami kesampingkan perbedaan. Kami kedepankan persamaan. Orang lain berbicara soal toleransi sebagai sebuah ide, kami telah menjadikannya fakta. Sebanyak 16 guru di Bali Bina Insani beragama Hindu. Bahkan, di MA (Madrasah Aliyah), 50 persen gurunya beragama Hindu. Dan, kami tidak mempermasalahkan,” ujarnya.
Selain itu, sambungnya, ada kitab yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Bali. Kemudian, dalam aktivitas kurikulum ada ekstrakurikuler yang merujuk pada kearifan lokal. Salah satunya, ekstrakurikuler tari Bali. “Kami juga mengelola penggemukan sapi dengan melibatkan saudara-saudara kami yang beragama Hindu,” imbuhnya. (SB-humtab)

Comments

comments