Kele R. Sanele sedang di atas hotel Grand Inna, Kuta (foto Ijo).

SULUHBALI, Mangupura – Kele R. Sanele wisatawan asing asal Australia yang sempat melakukan aksi gila dengan memanjat genteng Hotel Grand Inna Kuta. Kele melakukan aksi gilanya tersebut lantaran dirinya dibawah pengaruh minuman yang hingga saat ini belum diketahui jenisnya.

Menurut catatan keimigrasian, Kele diketahui merupakan Wisatawan bekerwarganegaraan New Zealand yang memasuki Bali pada 22 mei 2016 lalu, bersama istrinya yang berangkat dengan Bandara Sri Begawan dengan menggunakan pesawat Brunei Darussalam dengan Nomer Penerbangan BI 1758.

Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Ngurah Rai mengungkapkan hingga saat ini pihaknya masih mencari tahu tempat tinggal atau tempatnya menginap. Pasalnya, ketika ditanya Kele tidak ingat sama sekali dimana dan bersama siapa dirinya di Bali.

“Kita masih mencari tahu tempat tinggal atau tempatnya menginap bersama istrinya. Karena ketika dia sadar siang tadi, waktu kami tanya tempatnya tinggal atau menginap dia (Kele) tidak ingat sama sekali. Sepertinya dia habis bertengkar dengan pasangannya sehingga dia pergi keluar hotel untuk minum dan tidak tahu jenisnya apa sekarang pun dia mau kembali ke hotelnya juga tidak tahu,” ungkapnya, Kamis (26/05/2016).

Yoseph mengakui tentu dari kejadian ini pihaknya menyadari ada hal yang menjadi kelemahan Imigrasi yang sangat krusial mengenai visa bebas kunjungan selama orang asing berada di Indonesia. Dimana, Imigrasi hanya memiliki data sebatas data perlintasan mengenai orang asing yang akan masuk wilayah Indonesia.

“Mengenai visa bebas kunjungan, Imigrasi memiliki kelemahan yang sangat krusial. Saat orang masuk wilayah Bali, kita tidak tahu orang asing tersebut akan menginap dimana dan akan berapa lama mereka akan tinggal. Setelah dari Bali akan kemana, karena yang kita punya hanya data perlintasan saja, sehingga hanya itu data yang bisa kami miliki,” ujarnya.

Lebih lanjut, Yoseph mengatakan seorang pejabat Imigrasi berhak untuk melakukan penyitaan atau pendepostasian sesuai yang tercantung dalam  undang-undang ke Imigrasian pasal 75 ayat 1 yang menyebutkan pejabat Imigrasi berwenang melakukan Tindakan Administratif Keimigrasian terhadap orang asing yang berada di wilayah Indonesia yang melakukan kegiatan berbahaya dan patut diduga membahayakan keamanan dan ketertiban umum atau tidak menghormati atau tidak menaati peraturan perundang-undangan.

“Tindakan Administratif Keimigrasian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa, pencantuman dalam daftar Pencegahan atau Penangkalan, pembatasan, perubahan, atau pembatalan Izin Tinggal, larangan untuk berada di satu atau beberapa tempat tertentu di Wilayah Indonesia, keharusan untuk bertempat tinggal di suatu tempat tertentu di Wilayah Indonesia, pengenaan biaya beban atau Deportasi dari Wilayah Indonesia,” bebernya.

Atas dasar tersebut, pihaknya akan memberlakukan pendeportasian lantaran aksi yang dilakukan Kele selain membayakan dirinya dan juga dapat membahayakan keselamatan orang lain.

“Bisa saya pastikan yang bersangkutan akan kita Deportasi karena aksi yang dilakukan kemarin sangat membahayakan orang dengan cara memanjat gedung tinggi. Seandainya dia jatuh, kemudian menimpa orang lain tentu saja itu juga bisa mencelakakan orang lain,” tegasnya. (SB-Ijo)

 

Comments

comments