Buku Seri 3 | Jelajah Keris Bali, Tradisi Satu Keluarga Satu Keris

173

SULUH BALI, Denpasar – Pemerintah Kota Denpasar melalui Disperindag Kota Denpasar bekerjasama dengan Tim Peneliti dan Penerbitan Buku meluncurkan Buku seri 3 yang berjudul “Jelajah Keris Bali, Tradisi Satu Keluarga Satu Keris serangkaian acara Petinget Rahina Tumpek Landep 2015 Kota Denpasar 11 Mei -13 Mei 2015.

Buku seri 3 merupakan lanjutan dari buku yang sudah terbit sebelumnya, seri 1 berjudul Jelajah Keris Bali, Pusaka Budaya Nusantara, Sejarah, Filosofi Bentuk terbit tahun 2013. Seri 2 Jelajah Keris Bali, Proses Kreatif dalam Pembuatan dan Perawatan, Basis Etika, estetika, Spiritualitas, terbit tahun 2014

Pada tahun ini, menurut I Wayan Geriya, Budayawan sekaligus Tim Penyusun Buku Jelajah Keris Bali, Tradisi Satu Keluarga Satu Keris lebih jauh mengangkat tentang pamor keris dan kegunaanya. “Jelajah keris 3 isinya antara lain tentang pamor keris” ungkapnya di Denpasar Senin (11/5/2015).

Ia juga menambahkan bahwa pamor keris memiliki kegunaan dalam berbagai bidang kehidupan, sehingga dalam buku dini dicantumkan 25 jenis pamor keris sesuai dengan kegunaannya untuk bisa dimanfaatkan bagi pencinta keris.

“Pamor ini sangat penting, tim peneliti dapat meneliti dari 68 pamor yang ada 25 dicantumkan dalam keris ini dan dapat dimanfaatkan oleh pecinta keris” tambahnya.

Kegunaan dari pamor keris menurut I Wayan Geriya mulai dari kepemimpinan, untuk angkatan perang, politisi bahkan sampai dengan mencari keuntungan khusus bagi seorang yang bergelut dibidang perdagangan.

“Ada pamor memberi tuntunan tentang kepemimpinan, ada pamor dimana keris itu cocok untuk angkatan perang, ada juga dimana keris itu cocok untuk mencuri, ada juga pamor cocok untuk berdebat politisi, dan ada juga tidak kalah pentingnya pamor untuk berdagang” terangnya.

Begitu besar manfaat dari keris yang sudah ada sejak jaman Kerajaan Majapahit dan telah mentradisi di setiap keluarga, melalui terbitnya buku seri 3 ini Ia berharap mulai hidup Tradisi Satu keluarga Satu Keris di Bali yang dimulai dari ibu kota Provinsi Bali, yaitu Kota Denpasar.

“Upaya kita menghidupkan tradisi justru dari ibu kota Provinsi ini tradisi ini di bangkitkan, satu keluarga satu keris” harapnya. (SB-Su)

Comments

comments