Buka “Cakepan Lontar” Tandai Pembukaan Denfes Ke-10

27
Walikota I.B Rai Dharmawijaya Mantra bersama Wakil Walikota I GN Jaya Negara, Sekda Kota Denpasar A.AN Rai Iswara dan Ketua DPRD Denpasar, I Gusti Ngurah Gede, Kamis (28/12) di Catus Pata Catur Muka Denpasar membuka “cakepan lontar” tandai pembukaan secara resmi Denfes Ke-10

SULUH BALI, Denpasar – Satu dasawarsa atau 10 Tahun pelaksanaan Denpasar Festival (Denfes) resmi dibuka Walikota I.B Rai Dharmawijaya Mantra bersama Wakil Walikota I GN Jaya Negara, Sekda Kota Denpasar A.AN Rai Iswara dan Ketua DPRD Denpasar, I Gusti Ngurah Gede Kamis (28/12) di Catus Pata Catur Muka Denpasar. Ditandai dengan membuka “cakepan lontar” Denfes Ke-10 berlangsung dari tanggal 28-31 Desember mendatang mengusung tema Rawat Pusaka Cipta Inovasi, Tresnaning Jagat Rahayu. Tema ini juga mengedepankan filosofi Tat Twam Asi kepedulian bersama kawasan rawan bencana Gunung Agung. Filosofi Tat Twam Asi ini juga terlihat dalam pembukaan Denfes dengan “cakepan lontar” diserahkan kepada perwakilan pengusaha muda, seniman, dan teruna teruni Denpasar sebagai tanda kebersamaan dalam membangun Denpasar.

Ratusan seniman terlibat dalam inagurasi pembukaan Denfes Ke-10 membawakan berbagai garapan seni, termasuk parade anak-anak yang mengekspresikan kegembiraan dalam memaknai Denpasar sebagai Smart City, Kota Kreatif dan Kota Pusaka. Secara khusus SMKN 5 Denpasar menampilkan garapan seni  tentang bagaimana masyarakat Kota Denpasar membangun dan menjalani hidup dikotanya, yang mengambil kisah I Gusti Ngurah Made Agung (Raja Badung ke-VIII) dalam membangkitkan perjuangan melawan penjajah dengan prinsip Nandurin Karang Awak.

Konsep gambelan Bali diangkat dalam garapan ini meliputi “Ding, Deng, Dung dan Dang” mengarah empat mata angin diisi dengan penampilan berbagai Tari Baris sebagai Maskot Kota Denpasar. “Ding” menunjukan wilayah bagian timur Kota Denpasar dengan Tari Baris Kupu-kupu diciptakan seniman asal Desa Sumerta sekitar Tahun 1930an. “Deng” wilayah bagian utara dengan tari khasnya Baris Poleng. “Dung’’ wilayah bagian barat dengan Tari Baris Gede, dan “Dang” wilayah bagian selatan dengan tari khasnya Baris Cina. Berlangsung selama empat hari, Denfes menampilkan kuliner heritage khas Denpasar, fashion on The Streettenun endek, ragam kuliner, panggung ekspresi kreatif anak muda, CSR UKM, pameran edukasi kerajinan dan industri, serta urban farming dan agro.

Walikota I.B Rai Dharmawijaya Mantra mengatakan Denfes Ke-10 mengedepankan spirit membuka kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat untuk terlibat dalam membantu saudara-saudara yang terkena dampak erupsi Gunung Agung. Tidak hanya menjadi ajang pemanggungan kreativitas yang mencerahkan lahir batin, Denfes ke-10 juga menyiapkan zona edukasi terkait erupsi dan juga pos-pos untuk menampung donasi bantuan masyarakat Denpasar.

Rai Mantra berharap pelaksanaan satu dasawarsa Denfes dapat dinikmati dan dimanfaatkan publik membangun kesadaran dan keseimbangan kultural dalam merawat warisan budaya tradisi dan menciptakan peluang-peluang ekonomi kreatif yang meliputi iptek, seni, budaya, dan kewirausahaan. Hal ini diharapkan pula dapat berguna bagi alam, peradaban manusia dan lingkungan Denpasar serta Bali pada umumnya.

“Menjadi kota yang produktif dengan terus bermunculan wirausaha-wirausaha baru yang terus kita apresiasi setiap tahunnya dalam ajang Denfes,” ujarnya sembari mengatakan kesempatan Denfes tahun ini juga menampilkan kreatifitas warga masyarakat KRB Gunung Agung yang mengungsi di Denpasar. (SB-humasdps)

Comments

comments