Broken Radio “Jengah” dalam Berkarya

587
Broken radio saat menunjukkan album terbaru mereka. |foto-dwi|

SULUH BALI, Denpasar – Kelompok musik Bali, Broken Radio terbentuk 21 April 2011 tetapi sebelumnya sudah menelurkan album perdananya tahun 2011 berjudul Tusing Menyerah. Akhirnya di tahun 2016 ini, mereka mengeluarkan album keduanya berjudul Jengah. Album ini sebagai bentuk perjuangan mereka untuk tetap bisa berkarya di belantika musik Bali.

Penggarapan album ini memakan waktu tiga tahun. Itu pun karena ada beberapa kendala internal mereka. Proses rekaman dibantu Made Jani (Sitangsu Studio), Silahomestudio, dan Studimaya. Sementara untuk visual dibantu Gede Purnama Jaya dari Visual room, dan Andi Duarsa. “Di album kedua kami ini konsep musik mau pun videonya lebih matang, ” ujar Shandi Saputra selaku vokalis dan gitar Broken Radio saat bertatap muka dengan awak media, Rabu (3/2) di Warung Tresni, Renon, Denpasar.

Album Jengah ini dicetak dalam format Compact Disc (CD) yang berisi sembilan lagu dan satu intro. Di antaranya Kutakanafeesinyaka, Ampurayang, Tenanglah, Sederhana, Jengah, Hidup Bli, Ada Cinta, Sometimes, Malam Ini.  Memilih judul Jengah  dalam album sejatinya mereka menunjukkan sebuah perjuangan hidup. Bahwa setiap musisi mesti memiliki rasa jengah dalam berkarya sehingga dapat memberikan sebuah energi positif di belantika musik Bali. “Album Jengah  ini masuk dalam perjalanan kami bermusik. Selain itu album ini juga untuk menuangkan kerasnya perjuangan hidup, cari makan dan lain sebagai di era sekarang ini, ” tandasnya.

Imbuh Balok pemain bas Broken Radio, dari sisi musical konsep musik di album kedua memang beda dengan album pertama mereka. Sebab di album pertama mereka lebih ke pop dengan nuansa alternatif. Tetapi di album kedua ini mereka lebih banyak bereksperimen di musik. Seperti  banyak bermain electro tapi tidak lari dari karakter aslinya mereka. “Dari segi komposisi musik berbeda dari album pertama, album pertama lebih alternatif dan ada pop. Album kedua banyak eksperimen, kita ingin sesuatu yang berbeda, ” jelasnya.

Sementara untuk konsep klip, Gede Purnama Jaya, Visual Room mengatakan, pertama lagu Jengah ini dipilih sebagai judul album karena mewakili rasa jengah mereka. Tiga tahun bukan waktu singkat. Karena semua video klip tiga tahun yang lalu sudah jadi. Karena banyak kendala yang dialami akhirnya mereka  sudah menuntaskan tujuh klip dan pertama akan dikeluarkan klip dengan lagu berjudul Kutakanfessinyaka tetapi sudah dua klip sudah ditayangkan di YouTube yang berjudul Hidup Bli dan Sederhana “Setelah melihat materi lagunya memang bagus dan kami mendukung Broken Radio dalam penggarapan video klip ini, ” terangnya.

Band yang diperkuat Shandi Saputra (vokal, gitar), Balok (bas), Wah Alit (drum) dalam penjualan album menggunakan sistem online yang bisa dipesan melalui media sosial mereka dan juga door to door. Mereka mencetak album ini baru 500 keping CD. Selain itu, untuk promosi mereka melakukan promosi di radio-radio di Bali, media massa dan juga media sosial. “Harapan ke depan biar dikenal banyak orang, kita punya banyak link, dan bisa bikin sesuatu, ” pungkas Wah Alit. (SB- dwi)

Comments

comments