Brahmana Keling | Datang Ke Bali Dihina, Pada Akhirnya Menjadi Dalem Sidakarya

SULUH BALI, Denpasar – Tersebutlah seorang Brahmana beraliran Siwa dan Budha yang sangat mulia bernama Brahmana Walasakya atau Brahmana Keling yang berasal dari Keling, Jawa Timur.

Berkat petunjuk ayahandanya yang bergelar Dang Hyang Kayumanis agar Brahmana Keling datang ke Bali menemui saudara ayahnya yakni Dang Hyang Nirartha yang saat itu telah menjadi bhagawanta (pedeta kerajaan) Raja Dalem Waturenggong yang berkuasa di kerajaan Gelgel.

Disebutkanlah perjalanan sang Brahmana menuju ke tanah Bali, dengan perjalanan yang cukup panjang maka keadaan pakaiannya terlihat begitu kotor.

Perjalanan Brahmana Keling berlanjut menuju ke Pura Besakih dimana akan diadakan karya besar Ekadasa Rudra Penangluk Merana (Upacara yang diadakan 100 tahun sekali).

Sesampai di jaba (sisi) pura Besakih dicegatlah sang Brahmana yang dikatakan sebagai orang gila dimana memakai pakaian kotor dengan keadaan compang-camping mengaku sebagai saudara raja.

Meski dihalangi, sang Brahmana tetap saja masuk ke areal pura yang akhirnya sampai pada Meru Surya Candra, disana Brahmana Keling berpikir untuk ikut terlibat dalam upacara besar itu.

Melihat sang Brahmana duduk di atas Meru Surya Candra marahlah abdi-abdi sang Raja sehingga menyeret sang Brahmana turun dan menghina serta mencaci serta mengusirnya.

Sesungguhnya kedatangan Brahmana Keling ke pura Besakih ingin ikut serta membantu agar berjalan dengan baik, namun apadaya dengan kerendahan hatinya, sang Brahmana meninggalkan pura Besakih menuju ke arah Barat Daya.

Sebelum pergi, disana sang Brahmana mengeluarkan kutukan (pemastu) agar upacara besar yang sedang berlangsung tidak akan berhasil, terjadi bencana serta segala tanaman maupun buah-buahan gagal panen.

Sementara manusia disusupi dan diganggu oleh Butha Kala, serta diganggu oleh mahluk-mahluk lainnya. Setelah mengucapkan pemastu sang Brahmana melakukan perjalanan dan tiba di sebuah daerah bernama Bumi Bandana Negara yang berada di bawah kekuasaan I Gusti Tegeh Kori keturunan Arya Kenceng beserta beberapa Pasek.

Di Bandana Negara, Brahmana mendirikan pesraman semua warga disana berbakti dan hormat atas keberadaan sang Brahmana.

Disisi lain, di Besakih sedang terjadi kehancuran segala pastu (kutukan) yang dikeluarkan sang Brahmana terjadi. Semua alat upacara tidak bisa digunakan sehingga terjadi kebingungan sang raja oleh hal itu.

Karena kejadian itu, Dang Hyang Nirartha bersama Ida Dalem Waturenggong melakukan semedi, dalam semedinya mendapat pewisik semua terjadi karena telah melakukan kesalahan besar yakni mengusir sang Brahaman Keling.

Mendapat pewisik seperti itu, diutuslah segera Sirarya Kepakisan, Patih Ularan, Arya Pangalasan dan yang lain untuk menjemput sang Brahmana.

Setelah sampai di Bandana Negara semua utusan memohon ampun dan meminta maaf kepada sang Brahmana dan membujuknya untuk kembali ke Besakih sebagai titah sang raja.

Diceritakan Brahmana Keling segera menuju ke Pura Besakih, berkat kesidian (kesaktian) yang dimiliki apa yang sebelumnya terkena musibah kembali seperti semula.

Melihat hal itu sang raja menjadi heran dan memohon maaf serta mengeluarkan bisama (keputusan) bahwa Brahmana Keling adalah benar saudaranya dan memberikan gelar Brahamana Keling sebagai Dalem Sidhakarya.(SB-ist)

baca juga :

http://suluhbali.co/kesidian-dalem-sidakarya-leak-dan-mahluk-halus-sebagai-pengikutnya-namun-penuh-kasih/

Comments

comments

Comments are closed.