BPMPD | Gerbangsadu Tingkatkan Ekonomi Desa

493
Kepala BPMPD Provinsi Bali, Ketut Lihadanya. |foto-ijo|
SULUH BALI, Denpasar – Program Gerakan Desa Terpadu (Gerbangsadu) yang disebut-sebut sebagai program pro rakyat nyatanya telah menunjukan keberhasilan secara perlahan. Perekonomian di Desa tertuju terus menunjukan perkembangan, seiring terbantunya Rumah Tangga Miskin (RTM).
‎Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa (BMPD) Provinsi Bali, terus melakukan evaluasi. Meski tidak sepenuhnya berhasil, namun hal tersebut dapat terus dilakukan untuk melakukan pembenahan.
Kepala BPMPD Provinsi Bali, Ketut Lihadanya mengungkap, hingga akhir tahun 2014, sebanyak 177 desa Gerbangsadu telah diluncurkan. Jumlah ini tersebar di seluruh kabupaten di Bali. Bahkan, tahun 2015 ‎jumlahnya akan ditingkatkan dengan tambahan 25 desa.
Berdasarkan hasil evaluasi di tahun 2014, dari 177 desa sasaran, hanya 6 desa yang dinyatakan belum menunjukkan perkembangan signifikan. Yakni, Gerbangsadu di Desa Bunga Mekar, Kabupaten Klungkung, Desa Seraya di Kabupaten Karangasem, Desa Bila, Banyuasri, dan Lokapaksa di Kabupaten Buleleng, serta Desa Trunyan di Kabupaten Bangli.
Menurutnya, program Gerbangsadu di enam desa tersebut tidak sepenuhnya gagal. Hanya saja, perkembangannya khususnya dalam pemanfaatan dana bantuan tidak segesit di desa-desa lainnya. Penyebabnya bervariasi, mulai dari terkendala sistem, sering gonta-ganti kepengurusan di desa hingga kredit macet.
“Programnya jalan, tetapi belum mencapai keberhasilan seperti yang kita harapkan. Misalnya kredit macet, tapi sampai saat ini kami belum menemukan kasus kredit yang macet secara keseluruhan,” ungkapnya beberapa waktu lalu.
Menyikapi persoalan ini, BPMPD tentu tidak akan tinggal diam. Lihadnyana beserta jajarannya akan memanfaatkan hasil evaluasi sebagai acuan untuk berbenah. Gerbangsadu yang diluncurkan tahun 2015 akan diawasi lebih ketat. Pengalokasian dana sebesar Rp 1,02 miliar ke masin-masing desa telah ditentukan.
Yakni, Rp 20 juta untuk administrasi, selanjutnya Rp 800 juta akan digurikan dalam Badan Usaha Milik Desa (BumDes), sisanya Rp 200 juta yang sebelumnya bebas dipergunakan infrastruktur desa, kini wajib dipergunakan untuk mengembangkan pasar desa. Dengan cara demikian, Lihadnyana yakin perekonomian di pedesaan akan semakin hidup. Bahkan hal yang mustahil, jika pasar desa akan mengalahkan pasar modern yang kian menjamur. ( SB-Ijo)

Comments

comments

Comments are closed.