Benang Tri Datu Diperjualbelikan | Fenomena Pasar Agama

2671
Ilustrasi.

SULUH BALI, Denpasar – Tidak bisa dipungkiri globalisasi, libralisme dan neolibralisasme saat ini memunculkan ideologi pasar. Bahkan, urusan keyakinan agama pun tidak luput dari pengaruh pasar yang kemudian memunculkan pasar agama yang memperjualkan simbol-simbol agama untuk kepentingan bisnis.

“Kita sadari saat ini tidak hanya terjebak pada agama pasar, kita juga  terjebak pada agama pasar dan pasar agama memperjualkan simbol-simbol agama sekarang. Benang tri datu, baju kaos berisi simbol-simbol agama dan cindramata,” ungkap Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja, MA, Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja saat ditemui www.suluhbali.co di Kampus setempat, Kamis (20/4/2017).

Keadaan ini memunculkan keinginan dan kepentingan atas simbol-simbol agama untuk dijadikan sebagai penghasil uang dan dipasarkan sebagai komoditi menghasilkan keuntungan.

“Kalau di barat hal inilah yang disebut agama bisnis dan bisnis agama,” ujarnya.

Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja, MA (foto su).

Fenomena ini pun menurut Prof. Bawa akan memungkinkan mengikis pemahaman agama masyarakat, memunculkan adanya acuh terhadap simbol agama dan bahkan mampu mengikis sakralnya simbol-simbol agama.

“Simbol-simbol agama menjadi campah, sulit jadinya membedakan mana yang sakral dan mana yang profan,” kata dosen penulis buku “Ajeg Bali Gerakan, Identitas Kultur, dan Globalisasi”.

Hal ini yang menurutnya menjadikan desakralisasi simbol-simbol agama. Pemahaman masyarakat menjadi bingung atas sakral dan profan simbol-simbol agama.

Meluruskan pemahaman atas kondisi ini ia mengharapkan guru agama yang memberkan pemahaman agar hal-hal yang berkaitan dengan desakralisasi simbol agama tidak lagi dilakukan oleh umat. Khususnya pemahaman kepada anak-anak yang dianggap masih belum paham atas sakral dan profane.

“Fenomena ini menjadi tugas guru agama yang memberikan pemahaman membedakan mana yang sakral dan mana yang profan kepada anak-anak,” katanya. (SB-Skb)

 

Comments

comments