Ilustrasi salah satu kegiatan di desa adat.

SULUH BALI – Di masa lalu di desa, di banjar maupun sekaa jarang terjadi pergantian pengurus atau pemimpin. Karena orang yang telah dipercaya untuk menjadi pengurus tersebut posisinya itu akan selalu diperpanjang. Saat pergantian pengurus, bukannya banyak yang berebut malah kebanyakan berkelit. Maka yang jadi pengurus orangnya itu-itu saja. Bahkan tidak jarang si pengurus sendiri sampai minta untuk berhenti, karena faktor usia maupun kondisi kesehatannya. Ternyata orang yang diberi kepercayaan
tersebut, bukan karena pintar saja. Kalau mencari orang pintar di banjar atau sekaa tersebut banyak. Lalu kenapa bukan yang pintar-pintar itu yang dipilih atau diberikan kepercayaan oleh warga ? Pintar saja belum cukup ternyata. “Nak ane dueg dong liu. Ngalih ane polos tur jujur ento ane keweh,” begitu kriteria yang sering disampaikan warga, kalau sudah menyangkut urusan mencari pengurus.

“Kanggoang belogan bedik, ane penting jujur,” pesan seorang sesepuh menambahkan. “Nu ngadenan belog, sakewala polos tur jemet. Ane dueg konden karoan lung. Bise nyen nueg-nueg dogen,” yang vokal menimpali seperti memberi dukungan terhadap sesepuh tadi.
Sepertinya di dasar hati warga sudah terpateri, pintar hanyalah menyangkut keterampilan. Terampil dalam membuat sarana upakara, terampil dalam urusan membuat dan menyiapkan suguhan atau makanan.

Terampil dan piawai dalam menyampaikan, mengolah kata dan kalimat dengan bahasa yang indah dan tinggi-tinggi. Terampil dalam bersilat lidah. Polos merupakan karakter kejujuran, bertanggungjawab, terbuka apa adanya. Karakter dan sikap polos yang dimiliki seseorang justru mendapatkan nilai lebih daripada mereka yang (cuma) pintar. Pintar
saja tidak cukup. Kalau bisa orangnya yang pintar sekaligus jujur.

Tapi bagi warga orang sempurna seperti itu jarang, bahkan hampir tidak ada. Namun yang belog polos yang disukai ini, yang belog polos yang diberi kepercayaan oleh kebanyakan warga ini sejatinya bukanlah belog atau bodoh. Kalau tidak tahu dia akan bertanya, kalau tahu dia tidak akan mengatakan dirinya lebih tahu. Dia seadanya dan apa adanya. Karena
memang dia tidak “pintar” membuat-buat. Apalagi dibuat-buat. Karenanya dia dicap belog polos. Orang belog polos ini biasanya relatif tenang, bedik ngeraos dan jemet (rajin). Sedikit punya daye (akal-akalan). Karena dia tidak pintar membuat alasan dan mengolah kalimat, sebagai taktik untuk menyembunyikan kebohongan. Lebih memilih bekerja daripada berbicara. Tidak menonjol, karena dia tidak ambisius. Juga tidak berhitung akan
apa yang dia dapat. Karena dia belog polos.

Sekarang, apakah masih ada orang seperti ini? Kalau ada, apakah warga akan memilihnya untuk jadi pengurus atau pemimpin? Menjadi pintar itu penting dan perlu. Tapi menjaga integritas, kejujuran itu juga tak kalah pentingnya. Karena itu yang diinginkan dan jadi idaman warga. (SB-Rk)

Comments

comments