BEC Dokumentasikan 19 Motif Endek Buleleng

552

Cuplikan film cinta di selembar endek.

 

SULUHBALI.CO, Singaraja – AJANG Buleleng Endek Carnaval (BEC), bukan hanya menjadi ajang kebangkitan kain endek khas Buleleng, namun juga menjadi ajang mendokumentasikan motif-motif endek khas Buleleng. Kini sebanyak 19 motif endek khas Buleleng telah terdokumentasikan dan disimpan dalam bentuk karya film dokumenter.

Film dokumenter berjudul Cinta di Selembar Endek (Selayang Pandang Kain Endek Buleleng) itu, digarap sutradar asal Buleleng, Putu Satria Kusuma, yang telah meraih sederet penghargaan pada Pesta Kesenian Bali (PKB). Film dokumenter yang digarap Putu Satria itu, memiliki durasi sepanjang 19 menit dan 40 detik, dan akan ditayangkan pada 9 Agustus mendatang, disela-sela lomba fashion anak dan lomba fashion ke kantor.

Ketua Panitia BEC, Gede Suyasa mengatakan, dokumentasi dalam film dokumenter sengaja dibuat, agar dokumentasi mengenai endek Buleleng, tidak bersifat dokumentasi statis. Sehingga film itu dapat didistribusikan ke seluruh satuan kerja perangkat dinas (SKPD) dan dapat diputar dalam berbagai kegiatan pemerintah, termasuk diantaranya pameran.

Suyasa mengatakan dokumentasi itu sangat penting, untuk menjaga keaslian dan kualitas endek khas Buleleng. Sekaligus mencegah motif endek khas Buleleng dari kepunahan. Mengingat beberapa motif endek kini sudah tidak diproduksi lagi, karena punah.

“Ini dokumen mengenai motif yang tidak kita kenal, harus diakui ada banyak motif yang memang tidak kita kenal, tapi ternyata ada,” ujar Suyasa, Rabu (30/7).

Motif-motif itu ditemukan di empat desa. Yakni di Desa Sinabun dan Desa Giri Emas di Kecamatan Sawan, Desa Bondalem di Kecamatan Tejakula, serta Desa Kalianget di Kecamatan Seririt. Nantinya perajin dari empat desa itu akan diberikan stand tersendiri saat Buleleng Festival, 6-10 Agustus mendatang.

Sebenarnya, menurut Suyasa, cukup banyak perajin yang ada di Buleleng. “Tapi setelah kami eksplorasi, ternyata itu songket, bukan endek. Makanya tidak kami dokumentasikan,” imbuhnya.

Sementara itu, sutradara film, Putu Satria Kusuma mengungkapkan, ada banyak motif yang selama ini tak dikenal. Salah satunya motif singa yang berasal dari Desa Kalianget. Motif ini berbeda dengan motif Singa Ambara Raja, dan konon motif itu ditemukan sejak zaman penjajahan Belanda.

“Ada juga beberapa fakta-fakta penggunaan endek yang sekarang mengalami pergeseran. Ada beberapa endek yang sebenarnya digunakan pada acara khusus, seperti manusa yadnya, tapi sekarang digunakan untuk acara sehari-hari, sudah dimodifikasi,” jelasnya.

Satria mengaku menemukan 19 motif endek dalam risetnya. Motif-motif itu meliputi dobol kesitan, dobol mekirig, singa, kukusan, matahari, sekordi, ceplok, anggrek, cegcegan, wayang nagasepeha, tombak gongseng, daun anggur, wajik, gempolan, naga candi, kembang jepun, singaraja, pitolo, dan kembang jepun.

Dari motif-motif itu, beberapa diantaranya sudah terancam punah. Diantaranya motif Wayan Nagasepeha yang kainnya ditemukan secara tak sengaja pada tahun 1960-an, naga candi, dan motif singa.(SB)

Comments

comments