Bayi Asal Manggarai Menunggu Janji Bupati Yosep Tote

79
Bayi bernama Safrianus Loyra dari Manggarai, NTT (foto ist).

SULUH BALI, DENPASAR – Safrianus Loyra, seorang bayi yang baru berusia 5 bulan sempat tertahan di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah Denpasar pasca operasi karena tersendat biaya. Orang Tua bayi Leonardus Arveno dan Serila Tanggo menjelaskan, jika anaknya yang baru berusia 5 bulan tersebut masuk ke RS Sanglah Denpasar pada tanggal 19 February dan keluar pada tanggal 23 Maret 2017 untuk menjalani operasi usus.

Namun, sebelum keluar pasca operasi, pihak Rumah Sakit Sangalah sempat menahan keluarga pasien karena belum membayar semua biaya operasi. Jumlah biaya yang dirilis oleh RS Sanglah senilai 75 juta rupiah. Angka ini sungguh terlalu besar bagi warga asal Manggarai Timur, Nteweng, Desa Leong, Kecamatan Poco Ranaka, Flores-NTT.  Hal tersebut disampaikan Leonardus Arveno didampingi istrinya Serila Tanggo pada, Senin (3/4) di Denpasar.

Pria yang akrab disapa Leo menjelaskan, RSUP Sanglah membuat suatu kebijakan yang sedikit melegahkan dengan membuat perjanjian yakni keluarga boleh pulang, namun setiap bulan pihak keluarga harus membayar angsuran 500. 000, 00 (lima ratus ribu rupiah) sampai semua utang tersebut lunas.

Sebagai jaminan KTP keluarga pasien dan penjamin lain ditahan oleh pihak RS Sanglah. Leo menjelaskan jika dirinya saat ini hanya mengharapkan belas kasihan dan uluran tangan kasih dari para donator yang bersedia memberikan bantuan seberapa ada untuk meringankan beban biaya tersebut.

“saya minta harapan belas kasih dari pak Bupati Manggarai Timur dan DPR manggarai Timur serta ase –kae (saudara) Manggarai yang ada di Bali untuk meringankan beban biaya anak saya. Karena saya tidak bisa membiayai biaya yang sangat besar. Saya hanya berdoa saja semoga ada yang membantu keluarga saya,” ujar Leo dengan nadah sedih.

Sementara itu beberapa waktu lalu melalui pemberitaan media online lokal menjelaskan jika Bupati Manggarai Timur, Yosep Tote  bersedia untuk membantu melunaskan biaya  perawatan bayi  Safrianus Loyra. Dan ia pun meminta kepada keluarga pasien untuk  mengurus berbagai surat keterangan dari rumah sakit diserta dengan rincian biaya selama operasi karena hal tersebut sebagai acuan dan pegangan pemerintah Matim untuk mencairkan anggaran.

Menurut Bupati  dua periode ini, bahwa meskipun hal tersebut berupa  bantuan sosial tetapi pihaknya tetap membutuhkan bukti administrasi yang harus dipenuhi oleh keluarga agar tidak disalahkan dalam pemeriksaan. Dia menambahkan jika  jumlah bantuan disesuaikan dengan ketersedian anggaran yang ada.

Untuk kondisi bayi hingga saat ini sudah sehat namun masih melakukan rawat jalan. Sementara kedua orang tua pasien saat ini tinggal di rumah Bapak Yohanes Harmin di Jalan Akasia 16, Denpasar Timur. Mereka tinggal di sana karena tidak mampu membayar kontrakan.

Selama ini, Yohanes Harminlah yang mengurus semua kebutuhan dan yang lain lain untuk bisa keluarga tersebut keluar dari rumah sakit. Sementara itu, Istri Yohanes Harmin yakni Teresia Mita yang selama ini setia membantu keluarga pasien mengharapkan belas kasih dari Keluarga Ikatan Manggarai Bali (IKMB) dan Ikatan Keluarga Flobamora Bali.

Sementara itu, Ketua Ikatan Keluarga Flobamora Bali, Yusdi Dias saat dikonfirmasi menjelaskan bahwa kasus masalah operasi dan perawatan bayi asal NTT di Bali sudah sangat sering terjadi. Dan hal ini membuatnya sangat prihatin.

“Kita (Flobamora) sangat prihatin dengan kasus-kasus bayi di RS. Dan kita akan siap membantu untuk mengkomunikasikan hal ini kepada saudara semua (flobamora bali),” ujar Yusdi Dias saat dihubungi melalui sambungan seluler.

Menurutnya, kasus seperti ini mesti melibatkan semua keluarga flobamora Bali karena menyangkut kemanusiaan. Selama ini kebanyakan warga NTT di Bali lebih antusias dengan kegitan yang bersifat olahraga dan rekreasi tetapi untuk kewajiban bantuan sosial banyak yang tidak peduli.

Karena itu dia menghimbau agar semua warga Flobamora ikut berpartisipasi dalam hal apa pun termasuk masalah sosial. Dia menambahkan selama ini Flobamora selalu menjadi sandaran bantuan ketika ada masalah. Karena itu, diharapkan kepada warga asal NTT yang ada di Bali agar ikut berpartisipasi aktif kalau ada kegiatan Flobamora Bali dan jangan hanya mencari Flobamora ketika sedang mengalami masalah. “intinya masalah ini kita turut prihatin tetapi kita siap membantu,” ujarnya.  (SB-Rio)

 

Comments

comments