Banyak Beritakan Orang Miskin, Pastika Beri Wartawan Ini Penghargaan

33

SULUH BALI, Denpasar – Wartawan kalau mewartakan hal yang jelek di rakyat, biasanya dimarahin oleh para pejabat. Tapi sebaliknya, Mangku Pastika justru berterimakasih dan memberi ganjaran hadiah dan penghargaan kepada wartawan yang telah dengan gagah berani memotret dan memberitakan kemiskinan di Bali. “Kalau tidak wartawan yang memberitakan, kita pun tidak tahu,” ujar Pastika.

“Kita patut berterimakasih kepada para wartawan yang sudah meliput (orang miskin) itu, dan memasukkan ke medianya. Sehingga dengan demikian kita tahu,” ungkap Pastika disela-sela sambutannya pada acara malam Penganugerahan Bali Mandara Parama Nugraha 2017, di Panggung Terbuka, Taman Budaya, Denpasar, Selasa malam (29/8).

“Oleh karena itu, saya secara khusus akan memberikan penghargaan kepada 2 orang wartawan yang paling banyak memberitakan orang miskin. Saudara, wartawan kalau sampai potret orang miskin, tahu berarti jalannya jauh itu. Karena tidak ada orang miskin seperti itu di pinggir jalan besar. Pasti pakai jalan kaki ke dalam… jauh,” ia melanjutkan.

Pastika kemudian memanggil kedua wartawan yang dimaksud naik keatas panggung. Mereka adalah Anak Agung Gede Ngurah Girinatha (wartawan Pos Bali) dan I Wayan Sumerta (wartawan Fajar Bali).

Pastika ngaku sangat menghargai kedua wartawan tersebut yang dengan sukarela menyampaikan berita-berita tentang orang miskin itu. Karena menurutnya, hal tersebut secara tidak langsung sudah turut mengentaskan kemiskinan di Bali.

“Saudara sudah turut menolong rakyat kita yang luput dari perhatian kita, para pejabat yang juga makan nasinya rakyat itu. Oleh karena itu, sekali lagi saya minta saudara-saudara sekalian, khususnya pegawai pemprov. Jangan buta matanya, jangan buta hatinya. Lihat yang begitu mari kita bantu sebisa kita,” tegasnya di depan para pegawai dan pejabat pemprov yang hadir malam itu.

‘Tadi pagi saya baca koran pagi-pagi. Bahwa ada satu keluarga di Tembuku, yang miskin sekali. Rumahnya hanya 3 x 2, 5 meter lantainya tanah, dinding gedek, atapnya sudah bocor. Penghasilannya sekitar Rp 20 ribu – Rp 30 ribu per hari, kalau dapat pekerjaan. Sehingga dengan hidupnya sangat terbatas. Saya pergi kesana tadi bersama Karo Humas untuk membantu,” paparnya.

“Yang paling bertanggungjawab terhadap masalah itu adalah kita. Tidak bisa kita nuding orang lain. Yang bertanggungjawab saya dan saudara-saudara yang sudah dapat makan dari rakyat Bali. Camkan ini baik-baik. Ini pesan saya. Ya kamu makan enak, rakyatmu masih banyak yang tidak bisa makan. Pikirkan itu, renungkan itu. Maaf saudara-saudara, maaf. Saya otokritik para pejabat kita, mulai dar paling bawah sampai bertingkat itu. Matanya melek tapi tidak melihat.,” sambungnya dengan serius. (SB-Rk)

Comments

comments