Bankir Psikopat Mutilasi Wanita Indonesia di Hong Kong

191

foto Sumarti dan Seneng Mujiasih di akun facebook masing masing.

SULUH BALI, Hong Kong – Setelah berita mutilasi yang menimpa Mayang seorang waria asal Lampung di Australia. Kini publik kembali digegerkan oleh berita mutilasi yang menimpa dua wanita Indonesia di Hong Kong. Bedanya Mayang dimutilasi oleh “sang suami” sedangkan Sumarti Ningsih (23) dan Seneng Mujiasih alias Jesse Lorena Ruri dimutilasi oleh “sang pacar” yang seorang bankir asal Inggris.

Peristiwanya terjadi Sabtu lalu (1/11/2014) ini pertama diketahui sahabat korban Sumarti, bernama Jumiati. Saat pulang kerja Jumiati mencari sahabatnya ini yang berada di lantai 31 apartemen di Distrik Wan Chai, Hong Kong milik seorang banker bernama Rurik Jutting, warga Inggris. Saat ditanya dimana Sumarti, Jumiati mendapat jawaban dari pemilik rumah bahwa Sumarti bersama seorang temannya telah dibunuh dan jasadnya dibuang ke pantai.

Jumiati segera lapor polisi, hingga akhirnya jasad Sumarti ditemukan di rumah Rurik dalam
kondisi terpotong-potong. Polisi berhasil menangkap pelaku dan langsung menahannya.

Sementara itu ayah Sumarti, Achmad Kaliman mengharapkan jenazah anaknya yang menjadi korban mutilasi di Hong Kong, segera dipulangkan ke kampung halaman di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

Saat ditemui wartawan di rumahnya, Grumbul Banaran RT 02 RW 05, Desa Gandrungmangu, Kecamatan Gandrungmangu, Cilacap, Senin malam, Achmad Kaliman (58) mengatakan bahwa Sumarti Ningsih merupakan anak ketiga dari empat bersaudara buah pernikahannya dengan Suratmi (49).

“Saya baru mendapat kabar tentang kematian Sumarti dari anggota kepolisian yang datang ke rumah tadi sekitar pukul 17.00 WIB,” katanya.

Tidak lama kemudian, kata dia, agen tenaga kerja Indonesia di Hong Kong menelepon guna mengabarkan jika Sumarti sudah meninggal dunia dan saat ini masih dalam proses penyidikan oleh kepolisian setempat.

Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa Sumarti yang lahir di Bungo Tebo, Jambi, pada tanggal 22 April 1991, berangkat ke Hong Kong untuk pertama kalinya pada tahun 2011 sebagai pembantu rumah tangga melalui PT Arafah Bintang Perkasa Cabang Cilacap.

Disc Jockey

Setelah dua tahun delapan bulan bekerja, kata dia, Sumarti kembali ke Gandrungmangu dan selanjutnya kursus “Disc Jockey’ (DJ) di Yogyakarta hingga mendapatkan sertifikat “Basic DJ Mixing Course” dengan nilai baik.

“Baru satu bulan di rumah, dia berangkat lagi ke Hongkong tetapi tidak melalui perusahaan penempatan tenaga kerja Indonesia, melainkan menggunakan visa turis. Saya sudah melarang, tetapi dia tetap ingin berangkat untuk mencari uang demi masa depan Muhammad Hafid Arnovan (5), anak hasil pernikahan sirinya dengan seorang warga Semarang bernama Subadar, sehingga saya pun akhirnya mengizinkan,” kata dia yang juga Ketua RT 02 RW 05.

Menurut dia, Sumarti mengaku bekerja di salah satu restoran bersama saudara-saudaranya yang juga mengadu nasib di Hong Kong.

Oleh karena menggunakan visa turis, kata dia, Sumarti hanya berada di Hong Kong selama tiga bulan dan selanjutnya pulang ke rumah sebelum bulan Ramadhan 2014.

Usai Lebaran 2014, lanjut dia, pada tanggal 2 Agustus Sumarti berangkat lagi ke Hongkong dengan menggunakan visa turis.

“Saya terakhir kali berhubungan dengan Sumarti melalui telepon pada tanggal 15 Oktober dan dia mengatakan kalau akan pulang pada tanggal 2 November. Sebelum mendapat kabar tentang meninggalnya Sumarti, saya sempat mencoba menelepon untuk memastikan rencana kepulangannya, tetapi tidak dapat dihubungi,” katanya.

Saat ditanya kemungkinan adanya perubahan sikap maupun keluhan dari Sumarti, dia mengatakan bahwa hal itu sama sekali tidak ditunjukkan oleh anaknya.

Kendati demikian, dia mengaku jika pada Sabtu (1/11) malam sempat bermimpi melihat pesawat terbang di depan rumah dan di jendela pesawat itu terlihat wajah Sumarti.

Sementara itu, ibunda Sumarti, Suratmi mengatakan bahwa pada Senin (3/11) sempat ke bank untuk mencetak saldo rekening tabungan anaknya.

Berdasarkan hasil pencetakan rekening, kata dia, Sumarti diketahui terakhir kali menabung pada tanggal 22 Oktober.

“Sore harinya, saya sangat terkejut karena mendapat kabar kalau Sumarti telah meninggal dunia,” katanya.

Terkait nasib nahas yang dialami putrinya, Kaliman dan Suratmi mengharapkan jenazah Sumarti dipulangkan ke Gandrungmangu bagaimanapun kondisinya agar dapat dimakamkan di kampung halaman.

“Kami berharap pemerintah dapat memfasilitasi pemulangan jenazah Sumarti karena dia masih warga negara Indonesia. Sementara bagi pelaku pembunuhan itu mendapat hukuman yang setimpal, kalau perlu dihukum mati,” kata Kaliman.

Salah seorang tokoh masyarakat Grumbul Banaran, Ngadiman mengatakan bahwa Sumarti dikenal warga setempat sebagai perempuan periang, banyak teman, dan menjadi tulang punggung keluarga.

Menurut dia, selama tiga tahun terakhir, Sumarti selalu berkurban setiap Hari Raya Idul Adha.

“Idul Adha kemarin, dia berkurban seekor kambing. Amal jariyah yang diberikan untuk mushala juga cukup banyak,” kata dia yang juga pengasuh Mushala Hidayatul Sibiyan.

Selain harus kehilangan Sumarti untuk selamanya, kata dia, keluarga Kaliman juga telah diuji dengan hilangnya putri sulungnya, Suyani, sejak enam tahun lalu.

Menurut dia, Suyani yang hendak bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Pantai Indah Kapuk, Jakarta, hilang di Stasiun Jakarta Kota dan sampai sekarang tidak ada kabar beritanya.

“Padahal, Suyani punya seorang anak yang saat ini berusia enam tahun,” katanya.

Seperti diwartakan, Sumarti Ningsih dan seorang rekannya menjadi korban pembunuhan sadis yang dilakukan oleh seorang bankir asal Inggris, Rurik George Caton Jutting (29).

Jenazah Sumarti Ningsih ditemukan dengan kondisi terpotong-potong dalam sebuah koper di balkon lantai 31 apartemen milik Rurik Jutting di Distrik Wan Chai, Hongkong, Sabtu (1/11), dan saat ini pelaku telah ditangkap kepolisian setempat. (SB-ant)

Comments

comments