Bali Terancam Krisis Ekologi, Cadangan Air Tanah 20 Persen

45

SULUH BALI, Denpasar – Cadangan air tanah di Bali tercatat berada dibawah 20 persen, sehingga kondisi Pulau Dewata semakin buruk dan akan terjadi krisis ekologi tahun 2020, karena tidak ada tindakan mitigasi dan pencegahan dalam menanggapi situasi ini.

“Air adalah kehidupan, penggunaan dan kebutuhan kita akan air tanah terus meningkat, sementara kebutuhan untuk pengisian ulang air kembali ke tanah telah dianggap remeh,” kata peneliti Prof Dr Lilik Sudiajeng dari Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali di Denpasar, Selasa (28/4/2015).

Ia mengatakan permintaan yang tinggi terhadap air bersih di Bali terutama di daerah perkotaan padat penduduk dan kawasan pariwisata telah mengakibatkan cadangan air bersih sangat vital untuk daerah pertanian dialihkan ke kawasan pariwisata di Bali bagian selatan.

Dikatakan data ini merupakan hasil penelitian dari pakar teknisi Program Penyelamatan Air Bali (BWP) terdiri dari Politeknik Negeri Bali dan Yayasan IDEP Selaras Alam mengumumkan solusi kolaboratif yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengembalikan cadangan air tanah dan mendampingi penanggulangan krisis air.

Peneliti Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali, Ida Bagus Putu Bintana mengatakan, penelitian unruk solusi yang ekonomis dan efektif telah dimulai sejak 2012, program perdana penyelamatan air dengan biaya kurang dari satu juta dolar AS.

Program tersebut beroperasi setelah mendapatkan pendanaan dan menyasar kelangkaan air tanah dengan membangun sistem sumur penangkap air hujan sebanyak 136 tangkapan di 13 lokasi strategis sumber air yang terintervensi.

Berdasarkan sistem yang telah berhasil di berbagai daerah dengan tingkat kekeringan tinggi, seperti di India, model pengisian ulang air tanah menjadi teknik yang dipilih secara global dan oleh tim akademisi di Bali untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan cepat mengembalikan guna meningkatkan level air dalam jangka waktu tiga sampai lima tahun di daerah yang mengalami krisis air dan terancam intrusi air laut.

“Daerah pesisir dimana air tanah mengalami eksplorasi terus akan mengalami kebocoran dan air laut akan masuk ke dalam tanah yang selamanya tidak dapat dikembalikan seperti semula,” katanya. (SB-Ant)

Comments

comments