Bali Tempoe Doloe di BBB

0
255

Bali Tempoe Doloe

SULUHBALI.CO, Denpasar – Sebuah film berjudul Gods of Bali (1936) akan diputar di Bentara Budaya Bali (BBB), Minggu (27/10). Pemutaran film yang dilanjutkan dengan diskusi ini merupakan kelanjutan dari acara Bali Tempo Doeloe yang pada bulan ini telah digelar untuk ke empat kalinya. Program kali ini merupakan kerjasama  dengan Sinematek Indonesia.

Film berdurasi 55 menit ini menampilkan ragam ritual serta deskripsi mengenai fenomena transeden yang terjadi hampir dalam setiap kegiatan keagamaan, yang memberikan gambaran kepada publik bahwa agama dan keseharian masyarakat sesungguhnya tidak terpisahkan, yang belakangan ditengarai membentuk identitas kultural orang Bali kini.

“Orang Bali meyakini, turunnya para Dewa melalui fenomena trance ataupun kerasukan sejatinya bermakna restu, berkah, ataupun ruwatan bagi kehidupan masyarakat setempat. Itulah sebabnya, ritual-ritual seperti ini dipercaya bertaut erat dengan spiritualitas, kesakralan serta bahkan lebih jauh, keharmonian antara kekuatan baik-buruk, antara dunia manusia dengan alam gaib para dewata dan deitya (roh halus maupun buta kala), “ tutur Purnama Sari, lulusan antropologi Universitas Udayana yang kini tengah melanjutkan studi S2 di UI, serta aktif mengkaji berbagai fenomena budaya di Bali.

Gods of Bali, adalah salah satu film yang terbilang komprehensif menampilkan wujud ritual orang Bali adalah skenario yang ditulis oleh Sidney Carroll dan dirilis F.L.D Strengholt. Selain Gods of Bali, Bali Tempo Doeloe #4 juga akan menampilkan film dengan tematik serupa dalam perspektif kekinian.

“Agenda ini akan dipadukan pula dengan diskusi bersama para pengamat dan pemerhati budaya, yang akan memaknai perubahan kondisi Bali dari masa ke masa. Dialog tidak hanya mengetengahkan sisi eksotika dari Bali masa silam, melainkan juga menyoroti problematik yang menyertai pulau ini selama aneka kurun waktu, termasuk kemungkinan refleksinya bagi masa depan, “ ungkap Putu Aryastawa, penta acara BBB.

Sebagai pembahas  dalam diskusi adalah budayawan, Ida Bagus Agastya, pengajar di Fakultas Sastra Universitas Udayana, penulis berbagai buku, serta dikenal sebagai pemerhati masalah sosial dan agama di Bali.

Bali memang memiliki beragam ritual yang melestari hingga kini. Penyelenggaraan aktivitas keagamaan di pura, baik di desa dan wilayah perkotaan, dengan sering dapat dijumpai, memperlihatkan ritual-ritual berdaya magis, yang mempertautkan nilai kultural, religi, hingga wujud-wujud transedental.

“Tema Bali Tempo Doeloe kali ini, yakni seputar ritual sakral dan pertunjukan profan, berangkat dari fenomena bahwa tak jarang seringkali ritual-ritual itu, tidak terpungkiri, sekarang ditransformasikan untuk kepentingan-kepentingan turistik. Wujud kesakralan pun ‘dimodifikasi’ secara sadar menjadi bentuk pertunjukan, yang tak jarang bersifat profan, “ tambah Purnama Sari.

Di satu sisi ini mungkin memberikan manfaat bagi keleluasaan khalayak luar untuk menyaksikan sebagian dari laku ritual orang Bali, namun di lain pihak dipandang berdampak kontraproduktif bagi perkembangan sosial budaya pulau ini, di mana masyarakatnya disinyalir akan cenderung mengadaptasi kesakralan kebudayaan tradisinya semata untuk tujuan pariwisata.

Misalnya penjor, bambu melengkung tinggi yang dihiasi janur bermakna simbolis Naga Basuki, cerminan mistis pelindung alam semesta, belakangan disesuaikan wujudnya dan dipergunakan sebagai dekorasi acara di luar kepentingan agama. Hal ini tidak hanya terjadi terhadap unsur-unsur upacara, melainkan juga pada ragam tarian di pulau ini. (SB-BBB)

 

 

Info Kami :

www.suluhbali.co solusi marketing dan komunikasi di dunia maya di media sosial seperti facebook, twitter dan google

Bergabung bersama kami di www.facebook.com/suluhbaliCO untuk selalu mendapatkan berita berita yang menginspirasi dan mencerdaskan.

Follow twitter @suluhbalidotco

Hubungi kami di suluhbaliku@gmail.com untuk solusi marketing, iklan, grafis, video dan profil partai serta profil calon legislatif.

Comments

comments