Bali Kesulitan Instrumen untuk Tanggulangi Kapitalisasi

190

IB Agastya sedang bicara, di kanannya Drs I Gde Ardika dan Rektor Unhi Dr. IB Dharmika dan Dr. Jean Couteau.

Dialog Budaya Segara Giri

SULUHBALI.CO, Denpasar—Saat ini Bali kesulitan membangun sejumlah instrumen untuk menanggulangi dampak kapitalisasi di segala lini.

Budayawan Dr. Jean Couteau melontarkan hal tersebut dalam diskusi budaya Sanur Village Festival VIII/2013 bertajuk Segara Giri: Yang Universal & Kontekstual di Sudamala Resort & Villas, Rabu (25/9/2013) petang. Jean tampil sebagai narasumber bersama penekun sastra Bali Drs. IB Agastia, mantan Menbudpar Drs I Gde Ardika dan Rektor Unhi Dr. IB Dharmika.

Jean mengatakan masyarakat kita pada umumnya cenderung sulit menghadapi realita sosial, Perbedaan antara norma dan realita tak mau ditanggapi dan bahkan terabaikan. Idealisme semu pun merajalela, relaitas yang mengganggu ditutupi dengan pernyataan mantrais normatis. Misalnya Tri Hita Karana dikumandangkan semakin seru, justru sejak asas normatifnya semakin tak dipatuhi, banyak pelanggaran di lapangan.

Jean mengkritisi hal ini karena kecintaannya kepada Bali, tempatnya bermukim lebih dari 40 tahun. Kontradiksi yang terjadi, lanjutnya,  tidak bisa dibiarkan begitu saja, perlu kesadaran agar bisa membangun instrumen untuk menanggulanginya. Kata dia waktu ekonomi bersiklus relatif pendek, sedangkan “waktu budaya” dan “waktu pelestarian ekologi” berjangka sangat panjang. Hal ini bisa dilihat aktivitas investor yang dikejar kembalinya investasi melalui  praktik-praktik yang bertabrakan dengan kepentingan generasi mendatang.

Dia juga menyoroti tentang pembangunan yang tak memperhatikan lingkungan dan daya dukung. “Kita perlu melakukan penyelamatan ruang hijau seraya terus memperkuat pelestarian budaya,”  ujarnya.

Peneliti budaya asal Prancis ini mengandaikan kapitalisme tak ubahnya kuda, yang harus dikekang agar tak menjadi liatr. Ia pun mengkhawtirkan jika kuda-kuda tersebut ditunggangi orang yang tidak mengerti ataupun abai terhadap budaya Bali.

Mantan Menbudpar Ardika mengatakan kapitalisme itu seperti lagu, Benci Tapi Rindu. Seharusnya siapapun yang melakukan pembangunan adalah untuk kesejahteraan orang banyk, tapi sayangnya konsep pembangunan kepariwisataan di Bali ditentukan oleh kepentingan luar, entah itu kapitalisme, politik, atau bisnis itu sendiri. Masyarakat Bali seharusnya bisa menyuarakan kenginan, bagaimana pengelolaan pariwisata budaya yang berbasiskan kearifan lokal.

Agastia sepakat kearifan lokal harus tetap dipegang teguh. Apapun yang dilakukan di Bali hendaknya berdasarkan nilai-nilai filsafat warisan leluhur yang telah teruji menjaga keseimbangan alam lingkungan. Dia mengingatkan agar Sanur, juga wilayah Bali lainnya tetap menjaga sumber-sumber spiritualitas yakni segara dan giri, laut dan gunung.

Kata dia Sanur merupakan “terbitnya matahari Bali” sumber energi dan spiritualitas. “Sanur kini semakin terbuka, dapatkah tetap menjaga identitas dan integritas dirinya?”  kata dosen Universitas Udayana ini.

Rektor Unhi Ida Bagus Dharmika menawarkan startegi adaptif yang dapat menyelamatkan lingkungan, budaya, dan masyarakat pesisir. Beberapa halyang perlu diperhatikan adalah memahami secara cermat lewat pengetahuan tentang ekosistem, daya dukung lingkungan, dan keseimbangan dengan mengintegrasikan seluruh pemangku kepentingan.

Jika pemahaman dan  pengetahuan sudah dimiliki, tambah Dharmika, hendaknya dilanjutkan dengan sikap positif untuk berbuat, melakukan aksi nyata secara holistik dan berkelanjutan. “Alam lingkungan, laut dan gunung, bukan milik kita, tetapi milik anak cucu kita,” katanya. (*)

Comments

comments

Comments are closed.