Sekwan DPRD Prov Bali Gusti Ngurah Alit MSi saat menyerahkan cinderamata kepada Kepala Balai Tekkomdik Jogjakarta, Dra Isti Triasih.

SULUH BALI, Jogjakarta – Dengan kemajuan teknologi yang begitu pesat, banyak daerah menginginkan perkembangan teknologi yang sekarang sudah begitu maju bisa diterapkan dalam perkembangan pendidikan di jaman sekarang. Di Bali sendiri pengembangan teknologi dalam bidang pendidikan sejauh ini memang sudah mulai diterapkan, namun tidak begitu optimal karena adanya beberapa kendala yang harus dibenahi. Sehingga tercetuslah dari pihak Prov Bali untuk meneliti lebih lanjut ke jogjakarta bersama awak media, dimana di jogja sendiri sudah diterapkannya sistem E-Learning dengan begitu suksesnya.

Berubah dan maju dengan teknologi (change and moving forward with technology), tagline yang menjadi penyemangat awak tim Balai Teknologi Komunikasi Pendidikan (Tekkomdik) Dinas Dispora Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang dipimpin seorang srikandi Dra Isti Triasih untuk terus berkarya demi pendidikan.

“Kami berusaha untuk terus berubah dan berbenah agar dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang sedemikian cepat,” papar Dra Isti Triasih yang menjabat Kepala Balai Tekkomdik Dinas Dispora DIY kepada awak media Bali yang berkunjung ke Yogyakarta, Kamis (8/3) lalu.

Isti Triasih berharap lewat Tekkomdik, masyarakat dapat terlayani lebih baik, lebih responsif, lebih cepat untuk tercapainya misi pembangunan pendidikan di DIY.
” Balai Tekkomdik punya tugas khusus menyelenggarakan pengembangan, produksi dan layanan pembelajaran serta teknologi komunikasi pendidikan,” paparnya.

Peran Tekkomdik sangat vital untuk mewujudkan e- learning atau kelas maya di Yogyakarta. Bahkan, berdasarkan hasil penelitian pusat diperoleh bahwa e-learning readiness khususnya untuk SMA di Yogyakarta, dikategorikan sudah cukup siap. Alasan ini pula yang melandasi pihak Pemprov Bali mengunjungi Yogyakarta untuk menimba ilmu soal e learning yang dirancang dimulai tahun ini.

Sekwan DPRD Prov Bali Gusti Ngurah Alit MSi saat berkunjung ke Tekkomdik tak menampik bahwa pihak Pemprov Bali ingin mengetahui kendala sekaligus solusi dalam penerapan e-learning.

Di Bali, lanjutnya, baru memulai menggunakan kelas maya di sejumlah SMA sebagai pionir.
” DIY sudah fokus pengembangan pendidikan, dan sudah melakukan e-learning SD sampai SMA, bahkan untuk difable. Jejak pembangunan seperti ini harus diikuti, karena Bali nantinya jadi model Nasional,” papar Gusti Ngurah Alit didampingi Kabag Publikasi, Pengumpulan dan Penyaringan Informasi Pemprov Bali, Drs Made Ady Mastika.

Untuk siswa berkebutuhan khusus, lanjutnya, dilakukan bertahap, karena mau tak mau Bali harus menuju ke arah kualitas pendidikan yang merata. Dalam kesempatan kemarin, Triasih membeber bahwa Program Peningkatan dan Pemerataan Mutu Pendidikan melalui pendayagunaan teknologi informasi dan komunikasi di DIY, merupakan salah satu program strategis di Balai Tekkomdik yang bekerjasama dengan Kementerian Kominfo dan Pemerintah Jepang.

“Kami melayani 500 sekolah, terdiri dari 300 SD dan 200 SMP yang terhubung dalam jaringan virtual private network. Sistem ini dapat diakses setiap saat oleh para pengelola laboratorium dari 500 sekolah,” bebernya.

Layanan strategis lainnya, layanan pembelajaran elektronik (e-learning yang dapat diakses melalui portal Jogjabelajar (http://www.Jogjabelajar.org). “Portal Jogjabelajar merupakan salah satu unggulan Digital Government Services sebagai bagian dari program prestisius bernama Jogja Cyber Province,” terangnya.

Ditambahkannya, layanan strategis kebutuhan masyarakat atas materi materi pembelajaran yang bersifat online, yakni Jogjabelajar (JB) Media,JB Tube,JB Radio, JB Budaya, dan JB Class. Khusus JB Class, lanjutnya, guru membuat kelas maya dan siswa bisa gabung menggunakan nomor pokok siswa nasional, juga libatkan orang tua yang juga mendaftar berdasar nomor induk siswa. ” Dengan cara seperti ini, orangtua juga bisa konsultasi dan beri masukan, sekaligus bisa pantau nilai siswa. Per Agustus ini JB Class tidak lagi dengan web, tapi sudah bisa lewat android,” tegasnya.

Untuk mendukung program Tekkomdik Pemerintah menganggarkan lewat APBD sekitar Rp 9 miliar. Diakuinya soal jumlah tenaga memang masih kurang ideal karena kebutuhannya 42 tenaga, kini baru tersedia 27 orang. Soal gaji, masih mengacu UMR karena kebanyakan tenaga kontrak yang sudah siap mental ntuk mengabdi. “Di sini belum ada subsidi khusus untuk siswa, seperti pemberian gratis laptop untuk siswa seperti yang dilakukan Badung karena PAD sangat tinggi,” ujarnya. Meskipun demikian, pihaknya dan tim punya mimpi menjadi profesional di bidang pendidikan, ingin kualitas bagus, dan merata.

“Kita harus punya mimpi tinggi, bahkan ingin terbaik di kawasan Asia Tenggara di urusan pendidikan, karena DIY hanya ada 4 kabupaten,” akunya. Triasih berkeyakinan pihak Pemprov Bali bakal lebih mudah merealisasikan e-learning karena PAD tinggi, juga lebih mudah menggalang kerjasama dengan pihak luar.

Jadi teknologi yang begitu mulai pesat seperti metode E-Learning ini bisa memudahkan masyarakat dan pelajar untuk memahami materi, pelajaran dan akhirnya akan menjadi kesukaan. Akan tetapi kecanggihan teknologi, Triasih menegaskan peran orang tua dan lingkungan juga sangat diperlukan, agar tidak nantinya malah teknologi ini menjadi boomerang bagi anak – anak kita nantinya dalam hal yang negatif. (SB-arx/dokt)

Comments

comments