Bali Butuh Sosok Pemimpin yang Negarawan dan Visioner Hadapi Perubahan

0
102

SULUH BALI, Denpasar – Bali membutuhkan sosok negarawan yang sepenuhnya berpihak pada kepentingan masyarakat, khususnya masa depan generasi muda. Selain itu, pemimpin ke depan juga diharapkan punya visi yang jelas dalam menyikapi perubahan yang terjadi begitu cepat. Harapan itu mengemuka pada pelaksanaan Simakrama Gubernur dengan masyarakat yang berlangsung di Ruang Wiswa Sabha Utama, Kantor Gubernur Bali, Sabtu (7/4/2018).

Seperti pelaksanaan sebelumnya, Simakrama masih mengusung tema yang sama yaitu  ‘Mencari Gubernur dan Wakil Gubernur Bali 2018-2023’. Hanya saja, dalam pelaksanaannya kali ini, hadir sejumlah tokoh masyarakat, akademisi, pariwisata dan tokoh pemuda. Dalam arahan singkatnya, Gubernur Bali Made Mangku Pastika menyampaikan bahwa tema ini sangat relevan mengingat saat ini proses pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Bali Periode 2018-2023 tengah berlangsung. Secara khusus, Ia kembali menyinggung dinamika yang terjadi di tingkat lokal, nasional hingga internasional yang berubah begitu cepat.

Menurutnya, hal itu akan sangat berpengaruh pada kepemimpinan dalam periode lima tahun ke depan. Kata Pastika, apa yang dihadapi oleh Gubernur lima tahun ke depan akan sangat berbeda dengan yang dihadapinya selama hampir sepuluh tahun memimpin Bali. Menyikapi hal ini, Pastika berpendapat bahwa sosok pemimpin Bali ke depan harus punya program yang visioner dalammenghadapi perubahan yang begitu cepat.

Sementara pengamat politik dan akademisi Dr. I Nyoman Subanda berpendapat, sosok pemimpin yang ideal adalah sosok negarawan. “Kalau politikus berpikir untuk mempertahankan kekuasaan, sedangkan sosok negarawan akan berpikir untuk kepentingan next generation,” ujarnya.Pemimpin Bali ke depan, ujar Subanda, harus lebih banyak melaksanakan program yang memikirkan masa depan generasi muda. “Sikap kenegarawanan itu telah ditunjukkan oleh Bapak Pastika dengan membangun SMAN/SMKN Bali Mandara. Saya harap ke depannya lebih banyak lagi dibangun sekolah sejenis yang sudah terbukti mampu mengangkat derajat anak-anak dari keluarga miskin,” imbuhnya. Selain berpikir tentang next generation, sosok pemimpin harus jujur dan berintegritas. “Kita butuh pemimpin, bukan penguasa. Sosok pemimpin akan selalu hadir untuk memecahkan masalah yang dihadapi rakyat,” tandasnya.

Menambahkan penjelasan Subanda, Ketua Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Provinsi Bali I Dewa Agung Christos Sugandha Putra, S.Sos berpendapat bahwa pemimpin ke depan harus paham manajemen birokrasi, ideologi dan kenegarawanan. Pendapat lain disampaikan tokoh media Emanuel Dewata Odja alias Edo dan Bagus Sudibya selaku praktisi pariwisata. Edo menyinggung pentingnya edukasi politik agar masyarakat tak  menentukan pilihan hanya karena rasa tapi betul-betul paham dengan program yang ditawarkan. Selain itu, Ia juga mengingatkan agar masyarakat beorientasi memilih pemimpin yang jauh dari potensi konflik.
Sedangkan Bagus Sudibya menilai, kualitas kepemimpinan ditentukan oleh kemampuan seorang pemimpin dalam merealisasikan janji-janji kampanye. Selain itu, dia mengharapkan pemimpin ke depan mampu membangun koordinasi yang lebih baik dengan seluruh kabupaten/kota.

Selain paparan dari sejumlah tokoh, peserta simakrama juga mengemukakan berbagai pendapat terkait dengan sosok pemimpin Bali periode lima tahun mendatang. Made Arjaya menyampaikan harapan agar pemimpin ke depan meneruskan perjuangan mewujudkan konsep one island management. Menyusul Ketut Wenten Ariawan yang mengingatkan agar Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih harus mampu memenuhi janji kampanye. Lanang Sudira dan Ketut Marja Abbas yang bicara berikutnya ingin pemimpin yang memberi perhatian pada pelestarian hutan mangrovedan serius dalam penanganan penyalahgunaan narkoba. (SB-humprov)

Comments

comments