SULUH BALI, Mangupura – Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu Dan Keamanan Hasil Perikanan ‎kelas I Ngurah Rai berhasil mengamankan 46 ekor kepiting bakau bertelur asal Timika Papua menuju Denpasar menggunakan jasa pengiriman (Cargo) di Bandara Internasional Ngurah Rai.
Kepala Seksi Pengawasan dan Pengendalian Informasi Balai Karantina Ngurah Rai, Raden Gatot Perdana menyebutkan, kepiting tersebut masuk ke wilayah Bali tanpa dilengkapi sertifikat kesehatan ikan di Timika. Selain itu jenis komuditi kepiting tersebut kebanyakan adalah bertelur, sehingga hal itu terbukti melanggar UU no ‎16 tahun 1992 tentang karantina hewan dan tumbuhan.
“Berdasarkan UU yang ada, komuditi tersebut dilakukan penahanan ‎dan ditindaklanjuti pelepas liaran ke alam dalam hal konservasi sumberdaya hayati perikanan. Dari 46 ekor kepiting tersebut, 23 ekor terbukti bertelur dan 3 ekor mati.‎ Jenis kepiting bertelur ini memang dilarang dilalulintaskan,”papar Gatot.
Puluhan kepiting tersebut rencananya akan disalurkan ke sejumlah rumah makan dan Hotel. Sebab jenis kepiting bakau adalah kepiting yang paling banyak diminati oleh wisatawan.‎ ‎
Keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) dan kelengahan petugas sering kali dimanfaatkan para Stake Holder pengguna jasa di daerah asal. Padahal upaya sudah dilakukan secara ketat, namun hal tersebut masih saja muncul. Pihaknya mengaku sudah melaporkan hal tersebut untuk bisa dijadikan masukan.
“Sanksinya kita informasikan kepada petugas asal disana untuk ditindaklanjuti, sebab disini hanya penerima saja‎. Pengirimnya sendiri bernama olif dan pemasoknya adalah Ibu Ketut. Untuk pemasoknya sedang ditelusuri apakah ini sengaja atau bagaimana prosesnya. Ini sifat pengirimannya masing perorangan‎,” terangnya.
Saat ini puluhan kepiting tersebut telah dilepas liarkan di kawasan mangrove Ekowisata Wanasari, Tuban. Dipilihnya lokasi tersebut, dikarenakan wilayah tersebut sangat tepat dan cocok untuk habitat kepiting. Dengan harapan bisa berkembang biak dan dimanfaatkan oleh masyarakat dengan baik.
“Sampai saat ini kita hanya punya alternatif tempat di Wanasari saja, kita belum melakukan survey di tempat lain, terkait kecocokan pelepasan komuditi kepiting bakau untuk dikembang biakan. Disini banyak mangrove dan memang cocok untuk perkembangbiakan kepiting bakau. Nelayan yang lain kami harap bisa mengembangkan konsep konservasi seperti ini. Apalagi ada upaya penelitian dan pengembangan kepiting bakau. Inilah bentuk suport kami untuk memberikan sumbangsih bagi nelayan,” tutupnya. (SB-Ijo)

Comments

comments