Balai Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu Gelar Uji Sample Ikan di Kedonganan

153
Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu Dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPMKHP) kelas I Denpasar melakukan uji 15 sample ikan di pasar desa adat Kedonganan. |foto-ijo|

SULUH BALI, Mangupura – Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu Dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPMKHP) kelas I Denpasar melakukan uji 15 sample ikan di pasar desa adat Kedonganan diantaranya, cumi-cumi, kerang, sarden, baronang, udang vaname, kerang, kerapu, lemuru, kakap putih, kakap merah, trimbang dan sebagainya.

Hal tersebut dilakukan guna memastikan dari 15 jenis ikan yang dijadikan sample terdapat  kandungan formalin dan logam berat yang terdapat dalam ikan yang dipasarkan di pasar adat Kedonganan.

“Kita ujikan kadar Pelumbung, Mercury, Cadnium yang terdapat dalam sample ikan, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Jika ini terjadi maka akan sangat membahayakan bagi pengkonsumsi ikan terkait,”terang Kepala BKIPMKHP kelas I denpasar, Habrin Yake usai melakukan pemeriksaan, Juma’at (03/06/2016).

Habrin menambahkan, sample-sample tersebut diuji dengan alat stometer, selain itu pihaknya juga telah berupaya dengan mencegah dan memberikan informasi kepada pengusaha ikan dan nelayan, untuk tidak menambahkan formalin kepada ikan yang akan dijual.

Sebab hal tersebut tentunya akan merusak mutu ikan untuk dikonsumsi dan membahayakan bagi si pengkonsumsinya.

“Nanti sample ini akan kita tindak lanjtui untuk diuji kadar logamnya di laboratorium kantor. Jika dilakukan disini tentu tidak bisa karena prosesnya lama dan alatnya standby di kantor,”sebut Habrin.

Habrin menjelaskan, formalin ikan terdiri dari 2 unsur, yakni formalin alami yang terbentuk karena degradasi mutu ikan. Sehingga kejadian tersebut akan menimbulkan bau yang nantinya berubah menjadi formalin. Sedangkan yang kedua adalah formalin tambahan yang menjadi atensinya.

“Kalau ditambahkan, nanti kita akan sampaikan ke Disnakanlut dan desa adat. Untuk selanjutnya dilaksanakan pemusnahan, sebab ini akan berbahaya bagi yang mengkonsumsi ikan tersebut. Sedangkan sanksi lainnya kita harapkan diberikan Pemda dan BPOM, terkait UU pangan. Kami disini sifatnya hanya memberikan himbauan,”jelas Habrin.

Sementara itu, untuk di pelabuhan Watununggul Kedonganan, pengecekan dilaksanakan secara periodik. Dimana untuk pemantauan dilakukan setiap triwulan dan pemeriksaan kandungan formalin dilaksanakan tiap bulan bersama dinas perikanan Badung melalui UPT PPI dan pihak Desa Adat Kedonganan.

Ditemui terpisah, Ketua UPT Pembinaan Penangkapan Ikan Belawan (PPI Belawan) Disnakanlut Badung, Made Kena menerangkan, setiap harinya ada sekitar 75-100 unit kapal yang beroperasi di pelabuhan ikan Watununggul Kedonganan. Sedangkan saat masa puncak ikan yang biasanya terjadi di bulan Juni, Juli, Agustus ada sekitar 250 unit kapal.

“Kalau produksi ikan, sehari-hari itu sekitar 20-30 ton, tapi kalau masapuncaknya bisa sampai 100 ton perhari. Selama ini berapapun produksi ikan dari nelayan pasti terserap habis,”ujar Kena. (SB-ijo)

Comments

comments