Artikel | Baik dan Buruk, Satu Sumber Dua Sisi

389

Oleh : I Wayan Supadma Kerta Buana

 

Baik dan buruk ketika secara subjektif akan terlihat seperti sebuah kata yang kontradiktif. Baik memiliki nilai yang baik dan mulia, sementara buruk memiliki nilai tidak baik yang bertentangan dengan baik maupun mulia. Dalam konteks sudut pandang subjektif, segala yang bersifat baik dan buruk akan selalu bertentangan dan berlawanan.

Pada ranah subjektif, baik dan buruk seolah-olah memiliki sebuah sekat pembatas. Maka kemudian, akan terjadi pengelompokan paradigma sebagai kumpulan baik maupun kumpulan buruk. Pada kumpulan baik, buruk adalah pertentangan demikian pula pada kumpulan buruk, baik adalah sebuah pertentangan.

Akan tetapi, jika dilihat secara objektif, antara baik dan buruk sesungguhnya memiliki makna dan arti yang mendalam. Pada ranah agama bahkan disebutkan Dharma Sadhu (mewakili baik) dan Dharma Weci (mewakili buruk) adalah satu sumber dan tunggal keberadaannya. Keduanya memiliki sumber yang sama namun kemudian menjadi berbeda karena cara praktek dan tindakannya.

Ada juga konsep kiwa dan tengen, dimana kiwa (kiri) dikaitkan dengan buruk sementara tengen  (kanan) dikaitkan dengan baik. Konsep kiwa tengen juga mewakili bahwa kedua hal ini adalah satu sumber, namun dua sisi ini menjadi berbeda ketika masing-masing menjalankan baik dan buruk. Ketika yang dijalankan adalah baik maka kemudian bernama tengan, sebaliknya ketika buruk maka akan menjadi kiri.

Kemudian konsep rwa bhineda yang berarti dua yang berbeda, diartikan sebagai dua hal yang berlawanan namun harus ada sebagai bentuk keseimbangan. Seperti siang-malam, laki-perempuan, hitam-putih, baik dan buruk dan sebagainya. Konsep ini adalah satu kesatuan yang memiliki arti bahwa perbedaan adalah wujud keseimbangan dan keharmonisan.

Dua sisi ini, yakni baik dan buruk juga melekat pada setiap manusia. Dalam ajaran Hindu disebabkan karena dipengaruhi oleh guna yang terdiri dari tiga guna. Diantaranya sattwam (kebajikan), rajas (dinamis) dan tamas (malas). Guna sattwam akan berpengaruh kepada sifat baik manusia sementara guna tamas akan berpengaruh terhadap sikap buruk manusia.

Baik dan buruk hanya dibedakan oleh cara pandang nilai yang disebabkan oleh pelaksanaannya. Seperti contoh, penggunaan pisau yang jika digunakan untuk memotong sayur akan bernilai baik, sementara jika digunakan untuk menyakiti mahluk hidup akan sebaliknya yakni akan menjadi bernilai buruk.

Konsep baik buruk akan menjadi harmonis ketika apa yang baik dijadikan semakin baik, sementara apa yang buruk diubah menjadi baik. Hal ini sejalan dengan konsep somia, dimana Dewa yang berwujud Butha yang bertugas untuk meluruskan tatanan kehidupan manusia. Para Butha Kala ditugaskan untuk menghukum orang yang berada diluar jalan dharma, namun hal itu akan kembali harmonis ketika manusia sudah kembali ke jalan dharma sehingga kembali berwujud Dewa dan memberikan kesejahteraan.

Dari memahami konsep-konsep tersebut maka penting kiranya konsep ini dilihat secara utuh dan objektif. Pemikiran subjektif akan kedua ini akan membuat pertentangan serta membuat tembok pembatas menjadi semakin tebal dan tinggi. Sementara itu, substansi dari ajaran keseimbangan dua kutub yang berbeda ini tidak akan bisa diselaraskan dengan baik. Baik buruk yang bersumber dari satu dengan dua sisa kemudian dikembalikan sehingga bersatu untuk mewujudkan keharmonisan dan kesejahteraan dunia.

Comments

comments