‘Asu Pundung’ dan ‘Alangkahi Karang Hulu’ | Perkawinan ‘Nyerod’ yang Dipandang Begitu Rendah

657

SULUH BALI, Denpasar – Perkawinan ’nyerod’ nampaknya begitu rendah dimata sistem tri wangsa  dan sudra  di Bali meskipun saat ini jenis perkawinan ini cukup lumrah untuk dilakukan. Akan tetapi bayang-bayang kelam akan pandangan buruk seorang tri wangsa  menikah dengan sudra pun masih melekat hingga saat ini dalam fenomena pernikahan masyarakat Bali.

Dr. Nyoman Yoga Segara, antropolog IHDN Denpasar bahkan mengulas menarik dan membedah mendalam mengenai perkawinan nyerod yang ditulis dalam sebuah buku berjudul Perkawinan Nyerod Kontestasi, Negosiasi, dan Komodifikasi di atas Mozaik Kebudayaan Bali.

Dalam buku ini yang salah satunya menyampaikan adanya pergulatan batin seorang perempuan yang berwangsa tri wangsa (brahmana, ksatria, wesya) yang dihadapkan oleh bayang-bayang perlakuan tidak mengenakkan oleh keluarga ketika berani mengambil keputusan nyerod (menanggalkan status triwangsanya) untuk laki-laki jaba yang dicintainya.

Nyerod bahkan dipandang begitu rendah sebagai asu pundung dan alangkahi karang awak. Kedua ini merupakan istilah yang memposisikan dan menganalogikan sorang jaba  dalam posisi yang begitu rendah dibandingkan dengan posisi tri wangsa.

Segara (2015: 112) menjelaskan Asu pundung secara harafiah artinya menggendong anjing. Anjing di sini adalah kiasan untuk menyamakan laki-laki dari wangsa ksatria, wesya, dan jabawangsa ksatria, wesya, dan jaba yang dianggap lancing menikahi perempuan dari wangsa brahmana yang berwangsa brahmana yang berderajat jauh lebih tinggi, sehingga perkawinan beda wangsa ini digambarkan seperti perempuan yang berjalan sambil mengendong anjing.

Alangkahi karang hulu artinya melangkahi kepala orang yang derajatnya lebih tinggi. Misalnya, laki-laki berwangsa wesya yang jika menikahi perempuan ksatria, atau laki-laki jaba yang menikahi perempuan ksatria dan mesya akan dianggap telah melangkahi kepala orang yang lebih tinggi (Segara, 2015: 112).

Bahkan ketentuan ini diatur dalam ebuah Paswara tertanggal 15-17 September 1910 yang jika dilakukan akan diberikan hukuman yang berat dari denda besar sampai dengan yang paling berat yaitu pembuangan keluar pulau Bali seumur hidup.

Sementara di era modern meskipun banyak yang melakukan perkawinan nyerod, paswara perkawinan nyerod ini sudah tidak berlaku lagi karena bertentangan dengan prinsip kemanusiaan yang adil dan beradab serta Hak Asasi Manusia (HAM). Akan tetapi, bayang-bayang dilema perkawinan nyerod masih terasa secara psikologis hingga saat ini terutama bagi mereka (perempuan) yang mengalaminya. (SB-Skb)

Comments

comments