Artikel | Tahun Baru dan Upaya Menjauhi Ujaran Kebencian

69
Ilustrasi.

Oleh: Rahmat Effendy )*

 

Antusiasme dalam menyambut momen pergantian tahun sangat terlihat, baik anak-anak, remaja atau kaum muda, maupun orang dewasa. Pergantian tahun seakan menjadi hari besar yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat dunia. Tidak sedikit orang yang sengaja mengambil cuti kerja selama beberapa hari guna mencari waktu luang untuk persiapan liburan menyambut momen tahun baru.

Hal itu memang terlihat wajar dan manusiawi, karena momen seperti ini hanya terjadi setiap setahun sekali. Tak hanya disitu, momen pergantian tahun juga sering dijadikan sebagai acuan bagi seseorang untuk membuka lembaran baru dengan harapan dan semangat baru dalam melakukan hal-hal yang baru.

Acara pergantian tahun biasanya diisi dengan berbagai kegiatan yang meriah, mulai dari dari pesta kembang api hingga konser besar musisi papan atas. Di sisi lain, banyak juga yang merayakan dengan cara berkumpul bersama keluarga, berwisata kuliner, berwisata alam, serta tempat berbelanja.

Selain itu, ada juga sebagian masyarakat di Indonesia yang merayakannya dengan menggelar acara keagamaan. Membaca Al-Qur’an bersama keluarga, bersedekah untuk anak yatim, dan membuat acara syukuran kecil-kecilan juga bisa dilakukan untuk menciptakan momen tahun baru agar lebih meriah. Banyaknya ativitas masyarakat menyambut tahun baru menunjukkan bahwa Indonesia memanglah negara yang berbhineka atau majemuk yang diharapkan oleh para pendahulu bangsa ini supaya terus bersatu dalam kemajemukan tersebut.

Banyak hal yang dapat dinikmati selama perayaan tahun baru dan perayaan ini tak hanya dilakukan di Indonesia, tetapi di berbagai negara di berbagai penjuru dunia. Perayaan tahun baru sepertinya sudah menjadi tradisi turun-temurun di kalangan masyarakat dunia. Sehingga, tidak heran jika perayaan tahun baru begitu dielu-elukan oleh masyarakat, terutama remaja dan anak muda.

Dengan kata lain, sah-sah saja jika ingin merayakan dengan cara apa pun selama itu tidak menimbulkan provokasi-provokasi yang mengandung SARA dan bertentangan dengan hukum di Indonesia.

 

Menjauhi Kegiatan Keagamaan Yang Provokatif

Dalam beberapa waktu terakhir, banyak kegiatan-kegiatan keagamaan yang diadakan guna mengisi momen pergantian tahun. Hal tersebut sebenarnya adalah hal positif karena diharapkan menjadi pengingat bagi setiap pihak bahwa pergantian tahun adalah momentum untuk memperbaiki diri di masa mendatang. Namun, sangat disayangkan ada sebagian dari kegiatan itu yang digunakan untuk menjadi wahana pemecah belah persatuan.

Secara tersirat maupun tersurat, sekelompok orang memanfaatkan kegiatan keagamaan itu untuk mengkafir-kafirkan orang dan mencaci yang ikut merayakan momen pergantian tahun ini. Akibatnya, kegiatan agama yang merupakan perbuatan mulia dan memiliki tujuan positif serta dilakukan dengan cara yang baik, dengan adanya aksi dari sebagian oknum ini, menjadi tercoreng.

Ujaran kebencian yang muncul dalam kegiatan keagamaan dapat memberikan efek yang buruk bagi jamaahnya dan membawa dampak yang serius bagi tata kehidupan sosial masyarakat, seperti permusuhan, pertikaian, dan kebencian antara satu orang dengan orang lain dan antara golongan dengan golongan yang lain.

Pemerintah melalui Kementerian Agama sebenarnya telah mengeluarkan seruan tentang ceramah di rumah ibadah guna menyikapi maraknya ujaran kebencian yang belakangan ini banyak ditemukan. Dari sembilan poin seruan yang dikeluarkan pada 29 April 2017 tersebut, ceramah dalam kegiatan keagamaan hendaknya “Disampaikan dalam kalimat yang baik dan santun dalam ukuran kepatutan dan kepantasan, terbebas dari umpatan, makian, maupun ujaran kebencian yang dilarang oleh agama manapun.” Kendati pemerintah hanya mengeluarkan seruan, peran masyarakat juga tetap diperlukan agar kegiatan keagamaan tetap berada dalam marwahnya.

Cerdas Memilih Kegiatan Keagamaan

Mulai bertebarannya kegiatan-kegiatan yang bersifat provokatif, bersifat menyinggung atau menghina dalam konteks SARA tentunya harus bisa ditekan. Karena segala hal tersebut pastinya akan menimbulkan perpecahan. Tahun baru 2018 seharusnya menjadi tahun yang lebih baik dari 2017 terutama dalam hal persatuan. Segala kegiatan yang terkesan provokatif semacam ini haruslah diredam dengan cara tidak ikut-ikutan meramaikan acaranya.

Berbagai bentuk ceramah yang mengkafirkan orang lain dan menyampaikan hujatan kepada kelompok lain adalah bentuk penghancuran persatuan dan kesatuan. Indonesia itu negara yang sangat bermajemuk dan menjunjung tinggi tingkat toleransi yang tinggi. Sehingga sangat tidak pantas, apabila pemuka agama menyampaikan sesuatu yang buruk kepada ummatnya.

Oleh karena itu, masyarakat Indonesia harus mulai sadar untuk menghindari kegiatan-kegiatan provokatif yang dibungkus dengan acara keagamaan atau kegiatan lain. Dengan tidak meramaikan acara-acara semacam ini maka otomatis akan menenggelamkan citra acara tersebut apabila dilakukan secara berulang. Momen pergantian tahun sebenarnya adalah momen yang baik dimana kita bisa membantu saudara kita yang berjualan pada momen tersebut, bersosialisasi dengan orang lain, mendekatkan diri dengan keluarga bahkan memperbaiki akhlak.

Jangan sampai momen ini dirusak oleh sebagian orang yang tak bertanggung jawab dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat provokatif dan bernuansa SARA. Indonesia ini majemuk, para pendahulu itu sadar dengan keberagaman ini dan hal tersebut merupakan bentuk anugerah tidak ternilai dari Tuhan Yang Maha Esa.

Semoga Indonesia menjadi negeri yang lebih baik ke depannya dan makin erat tali persatuannya sehingga amanah para pendahulunya dapat dijaga.

 

)* Penulis adalah Kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia (LSISI)

Comments

comments