Artikel | Saat Ahok vs Anis, Jangan Sampai Muncul SARA

ilustrasi.

Oleh: Ardian Wiwaha )*

 

Pilkada serentak tahun 2017 yang digelar di 101 daerah di Indonesia kemarin berhasil berjalan dengan damai dan lancar. Sujud syukur dapat dihanturkan oleh para stakeholder dan penyelenggara Pilkada, karena setelah sekian lama realisasi pelaksanaan Pilkada serentak tahun 2017 dapat berjalan sesuai dengan harapan dan ekspektasi.

Seperti halnya di Aceh, dimana provinsi yang dijuluki dengan Serambi Mekah tersebut pada pemilukada kali ini berhasil terbebas dari kerusuhan, provokasi, dan intimidasi, yang apabila dilihat dari pengalaman sebelumnya, Aceh memiliki tingkat kerawanan politik yang pasti memakan korban.

Akan tetapi, proses demokrasi tidak hanya berhenti dan fokus terhadap Aceh, berbagai polemik diprediksi akan muncul tatkala beberapa wilayah pilkada serentak seperti halnya DKI Jakarta yang akan melaksanakan Pilkada tahap kedua, yang kini mempertemukan dua tokoh calon gubenur yang masing-masing memiliki pengalaman dan latar belakang berbeda.

 

Ahok dan Djarot

Perbedaan yang mutlak dapat dinyatakan terhadap Pasangan Calon (Paslon) Gubernur DKI Ahok-Djarot dan Anis-Sandi. Bagaimana bisa? Hal ini dapat dilihat dari masing-masing latar belakang dimana Ahok dan Djarot terkenal sebagai politikus tulen yang merangkak dari kursi jabatan paling bawah, sedangkan Anis-Sandi merupakan pasangan kombinasi yang berasal dari kalangan akademisi dan pengusaha tulen.

Akan tetapi, bukan faktor tersebut yang membedakan kedua pasangan secara mutlak. Namun terdapat faktor mutlak lain yang dikhawatirkan akan dijadikan bahan bagi sebagian kelompok kepentingan sebagai dasar memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Suku, Agama, Ras, dan Golongan atau yang dikenal dengan SARA lah, hal yang dikhawatirkan akan dijadikan manuver sebagian kelompok kepentingan untuk merongrong masuk menyelimuti perpolitikan bangsa ini.

Bagaimana bisa? Jelas sangat bisa, ketika Ahok seorang politikus asal Belitung Timur ini berasal dari etnis Tionghoa, seringkali mendapatkan sentimen dari beberapa kelompok pribumi yang sensitif dan memiliki pehamanan egosentris yang hanya menganggap etnis Ahok sebagai etnis pendatang.

Terlebih lagi dengan latar belakang agama Ahok, yang jelas bukan pemeluk agama mayoritas di negeri ini. Sangat jelas dan rawan bahwa hal tersebut akan menimbulkan  persepsi kelompok-kelompok radikal yang enggan menaruh kepercayaan diatas sebuah perbedaan.

 

Anis dan Sandi

Berbeda dengan Anis dan Sandi, yang mana keduanya berasal dari suku pribumi dan latar belakang agama Islam yang mendominasi kepercayaan di negeri ini. Anis yang memiliki darah minang sedangkan Sandiaga merupakan putra yang berasal dari daerah Pekanbaru. Tentunya hal tersebut tidak akan menjadi faktor pembeda yang akan dipermasalahkan oleh sebagian besar kelompok kedaerahan di Indonesia. Meskipun demikian, yakinlah hal serupa yakni sentimen dan kebencian kerap kali terbangun oleh kelompok-kelompok yang berdiri dan berasal dari latar belakang dan perbedaan yang  berseberangan.

 

Agus-Sylvi

Perolehan persentase suara yang tidak melebihi angka 20 persen oleh pasangan calon Gubernur nomor urut 1 Agus-Sylvi tidak berhasil mengantarkan keduanya melaju ke putaran kedua Pilgub DKI. Meskipun demikian, paslon Agus-Sylvi tetaplah memiliki peranan penting terhadap pencapaian kedua calon lain untuk duduk di kursi DKI 1.

Ketika perolehan pasangan Ahok-Djarot dan Anis-Sandi hanya mencapai angka rata-rata 40 persen, tentu perolehan suara 20 persen Agus-Sylvi menjadi pertimbangan kedua calon lain untuk menggalang dan membentuk sebuah koalisi. Meskipun belum diketahui kemana arah politik Agus-Sylvi akan berlabuh, namun yang pasti kesamaan latar belakang dapat menjadi salah satu landasan bagi Paslon nomor urut 1 ini untuk menapakkan kaki nya menuju sebuah kemenangan, meskipun kadang politik memang sulit untuk ditebak.

 

Awas isu SARA

Menyikapi potensi kerawanan terkait perbedaan yang terjadi di Pilkada DKI selaku barometer politik bangsa ini, publik diharuskan bersikap dewasa dan mulai menaruh perhatian dari kacamata yang objektif.

Objektif disini diartikan sebagai perspektif atau cara pandang yang adil dan bijaksana dengan menggunakan bingkai Pancasila dan UUD 1945 sebagai filter dalam menyikapi isu dan perbedaan etnis dan latar belakang keduanya.

“Politik boleh hangat, namun hati harus tetap dingin”, hal ini dapat diungkapkan ketika nanti para buzzer dan juru kampanye masing-masing pendukung mulai melakukan berbagai manuver bodoh yang memicu perpecahan demi memenangkan masing-masing Paslon.

Disinilah peran kita, selaku masyarakat yang memiliki andil dan pengaruh juga berperan sebagai agen pengontrol terhadap netralitas suasana politik dan toleransi kebudayaan ibu pertiwi. Karena cepat atau lambat, yakinlah isu SARA dalam putara kedua Pilkada DKI, pasti akan diangkat oleh masing-masing tim pendukung atau kelompok kepentingan, entah itu digunakan sebagai alat kampanye gelap atau mungkin sengaja diciptakan dengan misi merongrong stabilitas negara demi sebuah kepentingan.

 

)* Mahasiswa FISIP Universitas Indonesia

 

Comments

comments