Artikel | Rupiah Melemah Takkan Picu “Krisis 98”

Oleh : Ayuningtyas Widiasih

 

Pelemahan nilai tukar rupiah yang kini telah mencapai Rp 14.040 per USD merupakan dampak tekanan ekonomi Global. Tekanan tersebut berasal dari efek perbaikan ekonomi Amerika Serikat yang mengakibatkan dollar AS menguat, devaluasi nilai mata uang beberapa negara adi daya serta ketergantungan impor Indonesia.

Tekanan ini meyebabkan nilai rupiah semakin melemah terhadap dollar AS. “Rupiah menyentuh level Rp 14.020 per USD karena kondisi perekonomian global yang kurang baik turut mempengaruhi perekonomian Indonesia”, kata pengamat Ekonomi dari Universitas Katolik Widya Mandira (Unika) Kupang, Thomas Ola Langoday, Rabu (26/8/2015). Menurutnya, keraguan bank sentral Amerika Serikat (AS), yakni the Fed mengeluarkan keputusan terkait suku bunga acuan menimbulkan gejolak sentimen ekonomi dunia.

Keputusan The Fed terkait suku bunga acuan adalah kebijakan pemerintah AS untuk memperbaiki keadaan ekonomi Amerika setelah mengalami krisis pada tahun 2008 lalu. Beberapa negara adi daya seperti China, Jepang, Korea merespon kebijakan tersebut dengan melakukan devaluasi mata uang mereka sehingga memicu perang mata uang antar negara adi daya. Akibat keadaan inilah negara-negara yang masih ketergantungan impor mendapatkan dampak buruk seperti Indonesia serta negara berkembang lainnya.

Pengamat Valas, Farial Anwar mengatakan, China lebih dulu mengambil langkah devaluasi Yuan untuk merangsang kinerja ekspor. Kebijakan tersebut juga disusul Vietnam yang sengaja mendepresiasi Dong,Jakarta, Senin (24/8/2015). Menurutnya, negara pengekspor seperti Thailand, Korea dan Jepang akan mendevaluasi mata uangnya. Depresiasi mata uang dilakukan untuk memperbaiki neraca perdagangan hingga mendapatkan surplus. Oleh karena itu, nilai rupiah turut ikut terdepresiasi untuk mengimbangi produk-produk Indonesia di luar negeri. Pemerintah melakukan hal tersebut untuk mengimbangi nilai rupiah dengan nilai tukar negara lain.

Menteri Koordinator Perekonomian,Darmin Nasution, mengatakan Pemerintah Indonesia telah menyiapkan paket kebijakan untuk mendongkrak nilai rupiah. Paket kebijakan terebut berkaitan dengan sektor riil, sektor keuangan, deregulasi dan pemberian insetif pajak atau tax holiday, Kamis (27/8/2015). Paket-paket kebijakan ini dilakukan untuk meningkatkan dan menjaga aliran modal yang masuk ke tanah air (capital inflow).

Akan tetapi, isu-isu rupiah yang semakin melemah, terjadinya inflasi serta adanya kemungkinan terjadi krisis 98 telah meresahkan pasar modal Indonesia. Sentimen negatif tersebut mendorong para investor untuk membawa modalnya kembali ke Amerika yang dinilai lebih aman. Semakin banyaknya terjadi arus modal keluar (capital outflow) akan memicu keterpurukan ekonomi Indonesia. Kemungkinan hal ini akan semakin parah akibat gangguan dalama negeri itu sendiri, yakni adanya kemungkinan aksi-aksi unjuk rasa dari kalangan buruh ataupun mahasiswa yang berujung pada anarikistis dan memicu ketidak stabilan politik dalam negeri. “Kita datang untuk mengkoordinasi aksi yang rencananya tanggal 1 September nanti. Kita akan lakukan unjuk rasa untuk meminta pemerintah menyelesaikan masalah PHK dan melemahnya rupiah,” ujarPresiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, Sabtu (29/8/2015).

 
Sementara dari kelompok mahasiswa dari Barisan Oposisi Mahasiswa dan Masyarakat (BOMM) telah lebih dahulu melakukan aksi unjuk rasa.Koordinator Aksi, Aziz Fadirubun mengatakan, massa yang terhimpun dari berbagai elemen mahasiswa dari Universitas Nasional (UNAS), Universitas Bung Karno (UBK), Himpunan Mahawasiswa Indonesia (HMI) cabang Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, dan Jakarta Utara, dan beberapa kampus yang ada di Jakarta, akan menuntut Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mundur dari jabatannya, Senin (31/8/2015).

Sangat disayangkan ketika pemerintah mencoba untuk menjaga kestabilan perekonomian Indonesia, ada masyarakat Indonesia yang mencoba menimbulkan kekacauan di dalam negeri sendiri. Hal ini tentunya akan semakin memicu investor untuk membawa modalnya ke negeri-negeri yang lebih aman.Tekanan ekonomi global yang dialami oleh Indonesia tidak begitu parah seperti tahu 1998. Negara Malaysia mengalami keterpurukan ekonomi yang lebih parah dari Indonesia. Indonesia mampu bertahan dalam tekanan krisis ekonomi global karena pemerintah telah mengeluarkan kebijakan-kebijakan antisipatif.

Namun dalam menjalankan kebijakan tersebut tentu akan membutuhkan proses. Proses inilah yang harus kita awasi bersama. Bukan melakukan tindakan dan aksi yang justru merugikan kita. Kita tidak mungkin mengulangi peristiwa kirisis 98. Saat ini, kondisi fundamental ekonomi Indonesia jauh lebih baik dari tahun 1998 lalu. Berdasarkan data Bank Indonesia, Senin (31/8/2015), pertumbuhan eknomi tahun 1998 menunjukkan pertumbuhan negatif -13,13%, sedangkan tahun ini tumbuh positif 4,9%. Pelemahan rupiah saat ini hanya sedikit memperlambat pertumbuhan ekonomi Indonesia, bukan menyebabkan tingginya inflasi serta isu-isu negatif lain.

Peristiwa 98 harusnya mengingatkan kita untuk merespon suatu masalah dengan lebih tenang dan lebih baik. Apabila terjadi krisis sebaiknya kita lakukan dengan memberikan kritik yang membangun kepada pemerintah. Sangat memalukan jika kita melakukan aksi-aksi anarkis yang bahkan menyebabkan korban jiwa dan materil.

Keledai saja tak mau jatuh pada lubang yang sama, demikian juga kita sebagai masyarakat Indonesia yang cerdas dan beradab makan cara menanggapi krisis yang dihadapi Indonesia harus dengan cara yang cerdas juga sehingga bangsa Indonesia akan tetap kuat. Untuk itu, mari kita bantu Indonesia bertahan dari tekanan ekonomi global dengan mendukung kebijakan pemerintah dan memberikan kritik yang membangun.

Ayuningtyas Widiasih : Penulis adalah Aktivis Perempuan Pada Pemberdayaan Potensi Ekonomi Masyarakat Pedesaan.

Comments

comments