ilustrasi.

Oleh :  Abdul Aziz )*

 

Kinerja Pemprov DKI Jakarta saat ini sedang menjadi pusat perhatian masyarakat di seluruh Indonesia menjelang berlangsungnya Asian Games 2018, hal ini dikarenakan Jakarta sebagai jantung penyelenggaraan Asian Games dianggap belum siap menjadi kota perhelatan festival olahraga terbesar di Asia tersebut.

Bukan tanpa alasan, berbagai kebijakan dan persiapan yang dilakukan oleh Pemprov DKI dianggap masyarakat terlalu aneh dan tidak tepat sasaran hal ini dimulai dari kebijakan untuk memasang bendera negara-negara peserta Asian Games dengan Bambu di pembatas jalan, hal ini banyak mendapat perhatian baik dari masyarakat dalam negeri maupun luar negeri karena dianggap seperti persiapan seadanya saja.

Kemudian kebijakan untuk meliburkan 34 sekolah sebagai solusi mengatasi kepadatan kota Jakarta pada saat Asian Games berlangsung, kebijakan ini juga menjadi bumerang kepada Pemprov DKI karena hal ini dinilai tidak perlu dilaksanakan dan bukan solusi yang efektif untuk mengatasi kepadatan lalu lintas. Selain itu, hak para pelajar untuk menerima pendidikan juga terganggu.

Ditambah lagi, permasalahan terkait Kali Item yang lokasinya berdekatan dengan Wisma Atlet terus menjadi bahan pembicaraan oleh masyarakat. Pembukaan Asian Games yang akan dilaksanakan dengan waktu kurang dari satu bulan lagi dianggap tidak cukup untuk mengatasi permasalahan Kali Item. Limbah pembuangan masyarakat sekitar telah mencemari Kali Item sehingga menjadikan warna sungai tersebut hitam dan mengeluarkan bau tidak sedap yang menyengat hingga ke Wisma Atlet. Hal ini juga menjadi perhatian dari Indonesia Asian Games Organizing Committee (INASGOC) karena dikhawatirkan bau tidak sedap dari Kali Item di sekitar wisma atlet akan menggangu kenyamanan para atlet dan memperngaruhi kondisi atlet saat bertanding di event.

Pemprov DKI segera menanggapi permasalahan tersebut dengan cepat dengan memasang waring untuk menutupi wajah sungai dan memasang deodoran untuk mengurangi bau tidak sedap dan menghalangi penampakan kotor kali item. Namun demikian usaha ini mendapat kritikan negatif dari masyarakat karena dianggap merupakan solusi instan yang hanya bersifat sementara dan solusi yang tidak berdasarkan hasil kajian dari para ahli serta tidak menyelesaikan akar permasalahan Kali Item.

Solusi tersebut mendapat perhatian yang besar dari media Indonesia, banyak media online maupun cetak menjadikan permasalahan Kali Item sebagai headline berita harian sehingga menyita banyak perhatian masyarakat. Beberapa media juga melakukan framing berita dengan mengarahkannya kepada kinerja Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang dinilai tidak mempu menyelesaikan permasalahan Kali Item tersebut.

Tentu saja dampak dari pemberitaan media tersebut mulai terlihat dari banyaknya protes masyarakat terhadap kebijakan tersebut.Masyarakat menilai bahwa dirinya tidak mempu melaksanakan tugasnya sebagai Gubernur DKI dan janji-janji politik yang sebelumnya hanya merupakan janji manis kampanye dirinya. Tidak tinggal diam pendukung Anies ikut membalas dengan melakukan framing berita terkait perbandingan kinerja Pemprov sekarang dengan Pemprov sebelumnya.

Kondisi ini akhirnya menimbulkan kondisi saling serang antara pendukung Gubernur DKI Anies dengan pendukung Mantan Gubernur DKI Ahok dengan saling memposting konten negatif dan ujaran kebencian di media sosial. Hal ini menjadikan kondisi persiapan Asian Games juga menjadi tidak kondusif dan menghambat kesiapannya karena masyarakat tidak mendukung secara penuh dan ikut berpartisipasi untuk mempersiapkan perhelatan Asian Games yang baik dan meriah serta dapat diminati oleh seuruh masyarakat terutama masyarakat Indonesia sebagai tuan rumah.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan teknologi media sosial maupun media online telah menjadi wadah untuk mengekspresikan gagasan seseorang. Dengan percepatan pertumbuhan internet, masyarakat juga semakin dimudahkan untuk menggunakan media sosial dan menggunakanya untuk berkomunikasi atau sekedar mencari berita dan kejadian, hal ini menjadikan berbagai informasi yang ada di media sosial dan media online akan menyebar begitu cepat di masyarakat dan dapat berdampak pada perubahan pola pikir masyarakat.

Memang harus diakui bahwa persiapan yang dilaksanakan oleh Pemprov DKI terkesan instan mulai dari cara mempompa volume air kali item untuk mengurangi volume air dan memberikan sirkulasi kepada bakteri disana untuk bergerak sehingga tidak menimbulkan bau namun itupun mengalami gangguan seperti pompa macet dan armada yang dikerahkan tidak memadai. Waring yang dipasangpun juga sudah mulai rusak karena masyarakat tetap membuang sampah ke arah kali sehingga beban yang diberikan sampah tersebut merusak kain waring yang terpasang. Cat warna-warni pembatas jalan pun tidak luput dari kritik masyarakat karena dianggap seperti lambang LGBT.

Jika kita perhatikan animo masyarakat terhadap Asian Games baru terlihat sekitar bulan Juni 2018, padahal bila kita perhatikan pengumuman tuan rumah Asian Games telah di berikan pada 19 September 2014. 4 tahun telah berlalu namun permasalahan seperti tiang bambu dan kali item masih saja mewarnai media-media di Indonesia dan kinerja Pemprov DKI yang tidak dapat mengantisipasi terus di tunjuk sebagai dalang kurangnya persiapan dalam Asian Games 2018. Padahal salah satu kesalahan terbesar ada pada diri kita masing-masing karena tidak ikut menjaga lingkungan atau justru merusak fasilitas  fasilitas Asian Games 2018 seperti Stadion Jakabaring.

Kita tidak boleh lupa, bahwa momentum Asian Games merupakan momentum untuk mengangkat harga diri bangsa di mata Internasional. Dengan demikian, peran media untuk mewujudkan masyarakat yang cerdas dan kritis dalam menyikapi sebuah masalah perlu untuk terus ditingkatkan. Saat ini, bukan saatnya lagi masyarakat untuk saling serang untuk menjatuhkan dan mendiskreditkan pihak-pihak tertentu. Asian Games adalah event Internasional yang mempertaruhkan kehormatan bangsa, apakah Indonesia mampu menjadi tuan rumah yang baik dalam perhelatan tersebut.

Kita sebagai masyarakat Indonesia perlu mendukung perhelatan Asian Games dengan menjadikan acara tersebut sebagai momentum untuk mempersatukan masyarakat Indonesia. Sebagai masyarakat yang cerdas, tidak perlu lagi energi kita terkuras untuk berpolemik yang justru menciptakan kegaduhan publik menjelang tahun politik.Hal ini juga berlaku kepada media-media Indonesia, bukan lagi saatnya untuk melakukan framing berita untuk tujuan tertentu dan menyebarkan rasa kekhawatiran di masyarakat dengan mengangkat isu-isu yang dapat menjadi polemik di masyarakat. Seiring dengan adanya Asian Games 2018, media juga diharapkan mampu menjadi pemersatu masyarakat yang beberapa waktu belakangan ini terbelah oleh berbagai pandangan politik. Dengan adanya pemberitaan yang positif tersebut, maka diharapkan optimisme dan semangat gotong royong masyarakat akan kembali meningkat.

)* Penulis adalah Mahasiswa UIN Mataram

 

 

Comments

comments