Artikel | Partisipasi Masyarakat Diperlukan dalam Menjaga Perayaan Tahun Baru 2016

488
Upacara pengamanan operasi Lilin 2015 di Bali

Oleh : Ahmad Rasid S.Sos

Waktu terus berputar, tidak terasa tahun 2015 sudah hampir habis, perayaan Hari Natal 2015 sudah semakin dekat, masyarakat yang merayakannya bersuka cita untuk menyambutnya. Penyambutan pelepasan akhir tahun 2015 menuju awal tahun 2016 juga sangat dinantikan masyarakat disegala penjuru dunia. Masyarakat khususnya di Indonesia walaupun bergembira dalam merayakan pergantian tahun harus tetap menjaga dan menjaga situasi agar tetap kondusif .

Biasanya setiap akhir tahun dinamika situasi keamanan dan ketertiban di masyarakat, akan meningkat yang memungkinkan memicu terjadinya gangguan keamanan. Masyarakat harus turut berperan aktif mendukung tugas aparat keamanan terutama dilingkungan masing-masing, Keikutsertaan masyarakat menjaga keamanan, penting untuk mempersempit niat orang yang hendak berbuat jahat. Kewaspadaan harus tetap dijaga, tetapi jangan juga terlalu berlebihan atau paranoid.

Kepala Kepolisian Sektor Tegal Barat Resor Tegal Kota, AKP Arianto Salkery SH, MH, terkait perkembangan situasi dan kesiapan Pengamanan Natal dan Tahun Baru 2016, mengatakan
perkembangan situasi saat ini memerlukan kewaspadaan bersama, karena tidak menutup kemungkinan paham radikal akan melakukan aksi yang dapat berdampak pada kondusifitas kamtibmas di masyarakat.

Banyak tempat-tempat ibadah Gereja, Mall, Hotel dan tempat hiburan lainnya di Wilayah Tegal Barat yang bisa menjadi sasaran para pelaku aksi tero. Oleh karenanya Polri bersama instansi terkait lainnya dalam Operasi Lilin Candi akan melaksanakan pengamanan rangkaian kegiatan natal dan tahun baru dengan menempatkan personel di Gereja-geraja.

Setiap pergantian tahun, selain menjaga ketenteraman dan ketertiban di masing masing tempat tinggalnya, hendaknya masing-masing individu/orang dapat berintropeksi yang telah dikerjakannya dalam satu tahun terakhir supaya satu tahun kedepan bisa lebih baik dari tahun sebelumnya. Apa yang dicanangkan pemerintahan Jokowi untuk merevolusi mental bisa dijadikan acuan untuk keadaan yang lebih baik. Dalam kehidupan sehari-hari, praktek revolusi mental adalah menjadi manusia yang berintegritas, mau bekerja keras, dan punya semangat gotong royong.

Revolusi Mental merupakan gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala, seperti gagasan revolusi mental yang pertama kali dilontarkan oleh Presiden Soekarno pada Peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1956. Soekarno melihat revolusi nasional Indonesia saat itu sedang mandek, padahal tujuan revolusi untuk meraih kemerdekaan Indonesia yang seutuhnya belum tercapai.

Inilah ide dasar dari digaungkannya kembali gerakan revolusi mental oleh Presiden Jokowi. Jiwa bangsa yang terpenting adalah jiwa merdeka, jiwa kebebasan untuk meraih kemajuan. Gerakan revolusi mental semakin relevan bagi bangsa Indonesia yang saat ini tengah menghadapi tiga problem pokok bangsa yaitu; merosotnya wibawa negara, merebaknya intoleransi, dan melemahnya sendi-sendi perekonomian nasional.

Dalam kehidupan sehari-hari dan dalam menyambut tahun baru 2016, praktek revolusi mental adalah menjadi manusia yang berintegritas, mau bekerja keras, dan punya semangat gotong royong. Para pemimpin dan aparat negara harus menjadi pelopor untuk menggerakkan revolusi mental, dimulai dari masing-masing Kementerian/Lembaga (K/L). Karena gerakan revolusi mental terbukti berdampak positif terhadap kinerja pemerintahan Jokowi.

Selain revolusi mental dalam menyambut pergantian tahun, toleransi antarumat beragama juga harus dilakukan. Hal ini pernah dilakukan dan patut menjadi contoh , yaitu pada perayaan Misa Malam Natal di Kota Jayapura, Papua, Rabu 24 Desember 2014 malam, oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) setempat. Ada sekitar 100 mahasiswa yang tergabung dalam HMI turut membantu mengamankan pelaksanaan Misa tersebut.

Ketua HMI Kota Jayapura Nasrul, mengatakan ada sekitar 6 anggota HMI yang dikerahkan untuk membantu polisi mengatur arus lalu lintas dan juga mengamankan Misa Malam Natal. Dalam membantu pengamanan ini, pihaknya tidak diberikan imbalan oleh siapa pun. Bantuan tenaga ini didasari niat tulus membantu umat nasrani agar dapat melakukan ibadah dengan baik. Ini juga bukti kami untuk mencerminkan kerukunan umat beragama di Papua dan tetap menjalin komunikasi dengan semua umat ciptaan Tuhan.

Walaupun lelah, mereka senang bisa ikut membantu dalam proses Misa Natal umat nasrani tetap berjalan lancar dan berharap kerukunan umat beragama di Papua dapat ditiru oleh warga lainnya di Indonesia. Menyayangi sesama manusia adalah hal universal, menolong orang lain tidak harus memandang latar belakang. Siapa pun berhak mendapatkan bantuan. Perbedaan keyakinan bukanlah rintangan. Tidak peduli dari mana mereka, dan latar belakangnya. Hal ini harus menjadi perhatian masing-masing umat beragama.

Kita harus menyadari bahwa bangsa kita adalah bangsa yang majemuk. Tidak ada cara lain menghadapi kemajemukan itu kecuali membangun kebersamaan dengan saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Pentingnya persaudaraan dan toleransi agar kerukunan hidup antarumat beragama dan kerukunan antaragama terus tumbuh berjalan dengan baik. Mari perkuat persaudaraan dan toleransi sesama anak bangsa untuk Indonesia yang sama-sama kita cintai.

Dengan perayaan Natal 2015 dan Tahun baru 2016, di dalam kehidupan sehari-hari kita harus bisa merepresentasikan revolusi mental dengan menjadi manusia yang berintegritas, mau bekerja keras, dan punya semangat gotong royong dalam menjaga situasi baik ancaman yang berasal dari paham radikal maupun dari orang-orang atau kelompok yang tidak ingin Indonesia aman. Dengan adanya suasana yang aman, tenteram, dan damai maka makin memperkuat bahwa dalam kemajemukan dan keberagaman, segala perbedaan yang ada dapat dipersatukan untuk hidup rukun bersama menuju Indonesia yang baru seperti menyambut tahun baru 2016.

Ahmad Rasid S.Sos (pemerhati sosial)
.

Comments

comments