Artikel | MOS Harus Mengesankan Bukan “Menggilakan”

1745

Oleh : I Wayan Supadma Kerta Buana

 

Sudah menjadi tradisi bagi setiap sekolah dalam mengenalkan sejak awal sekolahnya kepada siswa baru dalam bentuk kegiatan Masa Orientasi Siswa (MOS) atau sekarang dikenal dengan Masa Orientasi Peserta Didik Baru (MOPDB) . Kegiatan ini dilaksanakan oleh sekolah dengan pelaksanya Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Tujuannya sendiri adalah mengenalkan situasi dan kondisi sekolah kepada siswa baru sebelum dimulainya proses pembelajaran di kelas.

Namun kedatangan masa orientasi siswa baru pada setiap dekade tahun menjadi sebuah polemik di masyarakat. Mos yang tahun-tahun sebelumnya selalu identik dengan kegiatan perpeloncoan yang “menggilakan” membuat keresahan tersendiri bagi siswa baru maupun orang tuannya. Kegiatan perpeloncoan pada mos bisa dibilang sebagai kegaiatan yang “menggilakan”, dimana senior dengan sesuka hati seolah-olah membuat seorang junior menjadi seperti tidak waras.

Perlakuan-perlakuan yang nyeleneh seperti disarankan menggunakan pakian-pakian yang aneh (baca : tidak sesuai dengan tatanan etika) seakan adalah sebuah hal yang wajar disaat mereka-mereka yang menjadi siswa baru ada dalam kesadaran. Membuat mereka menjadi aneh seolah-olah tidak menjadi masalah bagi mereka (baca: siswa baru) dikemudian hari. Sehingga saat ini perpeloncoan mos pun menjadi masalah cukup serius yang menjadi perhatian seluruh pihak maupun pemerintah.

Bahkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam mencegah adanya tindak perpeloncoan pada masa orientasi siswa baru tertanggal 25 Juli 2015 telah mengeluarkan surat edaran kepada Gubernur dan Bupati/Walikota se-Indonesia, Nomor 59389/MPK/PD/TAHUN 2015 tentang Pencegahan Praktik Perpeloncoan, Pelecehan dan Kekerasan Pada Masa Orientasi Peserta Didik Baru di Sekolah.

Aturan tentang kegiatan masa orientasi siswa baru pun sudah cukup jelas dengan dikeluarkannya Permendiknas No 55 Tahun 2015 tentang Masa Orientasi Peserta Didik Baru di Sekolah. Sesuai dengan Pasal 2 Permendiknas No 55 Tahun 2015 disebutkan “Masa orientasi peserta didik bertujuan untuk mengenalkan program sekolah, lingkungan sekolah, cara belajar, penanaman konsep pengenalan diri peserta didik, dan kepramukaan sebagai pembinaan awal ke arah terbentuknya kultur sekolah yang kondusif bagi proses pembelajaran lebih lanjut sesuai dengan tujuan pendidikan nasional”.

Begitupula untuk mengantisipasi adanya penyelewengan yang mengarah ke hal-hal negatif pada masa orientasi siswa baru juga dibebankan kepada Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota untuk ikut mengawasi sesuai dengan termuat pada Pasal 5 Permendiknas No 55 Tahun 2015 “Dinas pendidikan provinsi/kabupaten/kota mengendalikan masa orientasi peserta didik baru menjadi kegiatan yang bermanfaat, bersifat edukatif dan kreatif, bukan mengarah kepada tindakan destruktif dan/atau berbagai kegiatan lain yang merugikan siswa baru baik secara fisik maupun psikologis”.

Mengingat perpeloncoan yang menggilakan adalah sebuah kegiatan yang tidak mendidik dan sudah cendrung menyimpang dari proses pendidikan maka sudah layak untuk tidak dijalankan lagi. Kegiatan-kegiatan yang mengarah pada pendidikanlah yang perlu dilaksanakan sehingga akan ada kesan yang menyenangkan. Tidak aka ada artinya pula jika kegiatan yang dilaksanakan akan membuat sesorang merasa tertekan dalam melaksanakannya.

Meski maksudnya adalah untuk mengenalkan siswa baru tentang situasi kondisi di setiap sekolah dan membuat seseorang melepas rasa malu. Namun jika kondisinya syarat dengan kegiatan perpeloncoan yang menggilakan itu bukannya menghilangkan rasa malu, malah sebaliknya akan membuat timbulnya perasaan sangat-sangat malu. Begitu juga berbicara revolusi mental seperti yang didengungkan Bapak Joko Widodo, Presiden RI akan berbanding terbalik jika sisi pendidikan sejak awal sudah dimulai dengan kegiatan-kegaiatan yang mengarah pada menekan mental.

Kegiatan orientasi siswa baru tentu tidak ada salahnya bahkan hal ini sangat perlu dilakukan mengingat suasana yang baru tentu akan berbeda bagi siswa yang baru melanjutkan ketingkat lebih tinggi. Siswa memang diharuskan untuk mengenal situasi sekolah barunya, begitupula berinteraksi dengan guru dan teman baru. Namun yang menjadi masalah disini bukanlah masa orientasinya, namun perpeloncoan menggilakan yang memang sudah harus dihentikan.

Masih banyak hal yang bisa dilakukan pada masa awal pengenalan siswa terhadap sekolah seperti misalnya memberikan ceramah keberadaan sekolah yang meliputi fasilitas, prestasi, keberadaan guru dan siswa, mengajak siswa baru berkeliling melihat langsung keadaan sekolah dan mengenalkan Kepala sekolah beserta guru-guru.

Menciptakan suasana keakraban juga sangat diperlukan dalam pelaksanaan masa orientasi siswa baru ini. Menghilangkan adanya sekat senior-junior kemudian menjadi sebuah keakrabatan untuk saling merangkul. Seorang senior mengajarkan dan memberikan pengalaman yang mengesankan kepada junior. Sedangkan junior harus menghormati keberadaan junior dan tidak segan-segan untuk bertanya kepada senior tentang keberadaan sekolah.

Mengesankan itulah yang seharusnya menjadi orientasi awal bagi siswa baru dalam memulai mengenal tempat menempuh pendidikannya selanjutnya. Hal ini akan membawa kesan baik akan selalu teringat bagi mereka setelah selesainya kegiatan orientasi itu dilakukan sehingga tidak ada keinginan mereka untuk membalas dendam dikemudian hari kepada juniornya. Kesan yang baik juga akan menjadi asumsi awal bagi siswa tentang keberadaan sekolah, sehingga untuk menciptakan kesan baik bagi sekolah tentu harus dimulai dengan hal-hal yang baik terlebih dahulu.

Comments

comments