Artikel | Media Sosial Perantara Dunia Nyata

2398

Oleh : Andre Zulfikar

Media sosial memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Penggunaan media sosial di Indonesia semakin meningkat dari hari ke hari. Saat ini, sekitar 73,7 juta orang Indonesia, aktif di media sosial baik di Facebook WhatsApp, dan Twitter.

Pengaruh cuitan di media sosial dapat menyebar secara cepat. Setiap akun dapan menjadi sumber berita, setiap aku juga bisa menjadi sumber fitnah ataupun penerus fitnah.

Kemudahan yang diberikan media sosial ini kadang membuat kita lupa akan batasan informasi yang dapat kita bagikan ataupun bentuk kemasan informasi yang akan kita berikan. Sehingga pengaruh media sosial bagi masyarakat Indonesia cenderung ke arah yang negatif. Media sosial telah menghapus batasan-batasan dalam bersosialisasi.

Dalam media sosial tidak ada batasan ruang dan waktu, mereka dapat berkomunikasi kapanpun dan dimanapun mereka berada. Tidak dapat dipungkiri bahwa media sosial mempunyai pengaruh yang besar dalam kehidupan seseorang. Seseorang yang asalnya kecil bisa menjadi besar dengan media sosial, begitu pula sebaliknya.

Pesatnya perkembangan media sosial juga dikarenakan semua orang seperti bisa memiliki media sendiri. Jika untuk media tradisional seperti televisi, radio, atau koran dibutuhkan modal yang besar dan tenaga kerja yang banyak, maka lain halnya dengan media sosial. Para pengguna media sosial bisa mengakses menggunakan jaringan internet tanpa biaya yang besar dan dapat dilakukan sendiri dengan mudah.

Peran media sosial telah menggantikan komunikasi dari mulut ke mulut salah satunya adalah twitter. Twitter efektif digunakan untuk melakukan gerakan sosial dan menggiring isu-isu tertentu.Riset Dewan Pers dan Indonesia Indicator mecatat bahwa twitter merupakan medium yang sangat efektif untuk gerakan sosial spesifik seperti gerakan #SaveKOK, Koin Prita, dan #Kawal Pemilu.

Budaya fitnah di media sosial Indonesia semakin menjamur. Netizen Indonesia berkharakter responsif terhadap isu-isu terbaru. Banyak tanggapan-tanggapan yang ditujukan justru tidak solutif dan kurang membangun.

Seperti beberapa kasus terjadi baru baru ini, foto Presiden Jokowi yang dianggap Rekayasa. Kunjungan Jokowi ke masyarakat Suku Anak Dalam di Jambi dinilai hanya sebuah pencitraan dan tidak terjadi.

Bahkan kemudian muncul perbandingan foto pertemuan tersebut sehingga jika kita tidak teliti mencerna informasi tersebut maka kita akan percaya begitu saja. Dan banyak kasus-kasus lainnya yang terjadi, dimana kita hanya mencerna informasi tanpa mengetahui dan memverifikasi kebenarannya.

Kasus lain dari buruknya budaya media sosial Indonesia dapat dilihat dari momentum pemilihan presiden lalu ataupun permilihan kepala daerah (pilkada) serentak 9 Desember nanti. Jutaan penduduk Indonesia yang aktif di Media Sosial, akan banyak bermunculan pemberitaan-pemberitaan negatif yang dapat digolongkan sebagai kampanye hitam.

Setiap pendukung berlomba-lomba menyuarakan kejelekan dari pasangan calon lainnya. Dari sekian juta pengguna media sosial, akan sangat sulit untuk melakukan pengawasan kampanye hitam tersebut. Selain kebebasan dan banyaknya pengguna media sosial, adanya kemungkinan akun palsu akan menjadi tantangan tersendiri.

Pemerintah memang telah melakukan pengawasan terhadap bentuk-bentuk fitnah yang dilakukan penggiat media sosial melalui Undang-Undang, Yaitu UU ITE.

Kebijakan ini telah menjadi landasan hukum bagi pengguna media sosial agar berhati-hati dalam mengeluarkan pendapat. Namun dibalik itu, pelaksanaan UU tersebut tidak semata mata akan mengawasi segala bentuk fitnah di media sosial. Perlu adanya kesadaran masyarakat sendiri untuk tidak menggunakan media sosial sebagai sarana penebar fitnah.

Menyadari besarnya potensi gerakan positif untuk kemajuan bangsa, sebaiknya kita sebagai netizen Indonesia memberikan wawasan yang positif antar sesama. Masyarakat sekarang yang cenderung lebih mengikuti tren dan isu yang ada di media sosial. Gerakan sosial ini tentu akan memberikan edukasi secara cepat, tepat dan lebih komunikatif kepada banyak orang.

Semakin banyak orang yang memberikan nilai-nilai postif di media sosial, akan membentuk budaya media sosial Indonesia yang baik juga. Budaya media sosial yang positif ini tentunya akan dapat mendorong bangsa Indonesia menjadi bangsa yang selalu berfikir positif, cerdas dan bijak terhadap informasi yang beredar di dunia maya.

Andre Zulfikar (Pengamat Sosial)

Comments

comments