Artikel | Masih Pedulikah Kita (Menjaga) Pada Pura Pura Tua?

344
Salah satu pura tua di Buleleng (foto ist).

Penulis : I G Widya Suputra*)

 

Pura adalah tempat suci Umat Hindu khususnya Umat Hindu dari Pulau Bali. Fungsi Pura selain sebagai tempat suci juga sebagai sumber data, yang mana Pura juga menyimpan data mengenai nilai nilai spiritual, ketuhanan, asal usul kehidupan, nilai nilai sosial, dan juga sebagai bagian dari maha karya seni bangsa Indonesia yg adiluhung.

Pulau Bali diwarisi Pura Pura yang sangat tua, sakral, dan memiliki nilai seni yang sangat tinggi. Pura Pura tua tersebut menyimpan banyak data tentang sejarah Pulau Bali dan juga nilai-nilai moral untuk masyarakat Bali. Pura Pura tua dan sakral tersebut hingga kini masih banyak ada di Pulau Bali. Akan tetapi, peninggalan peninggalan luhur tersebut banyak yg kurang mendapat perhatian masyarakat dan pemerintah.

Seperti dipugarnya Pura Pura kuno dan diganti dengan bangunan semen atau batu secara total atau sebagian sehingga setiap corak, ukiran, ornamen, dan patung patung yang memberi pesan mengenai nilai-nilai moral dan spiritial menjadi hilang. Sudah semestinya Pura Pura tua tersebut dirawat dengan baik secara bersama sama sehingga data-data autentik dan nilai seni dari Pura kuno tersebut tidak hilang.

Jika diharuskan ada perbaikan sudah semestinya dipugar menurut aslinya sehingga corak dan keaslian bentuk Pura tersebut tetap terjaga. Tak hanya itu, selain sebagai bukti autentik dari peradaban umat Hindu di Pulau Bali, Pura juga berfungsi sebagai pusat data peradaban dimasa lalu.

Unsur seni dari bangunan Pura tersebut bisa dijadikan referensi untuk pengembangan arsitektur asli Bali yg memiliki nilai seni yg sangat tinggi. Kita bisa mengambil contoh dari restorasi yang dilakukan pada Candi Prambanan dan Candi Borobudur.

Kedua Candi Tua tersebut direstorasi atau dipugar menurut aslinya sehingga Candi tersebut menjadi Mahakarya Agung Peradaban Nusantara yang berhasil menjadi salah satu icon pariwisata Indonesia.

Pura-Pura Tua yang ada di Bali dibangun dengan penuh dedikasi melalui tahapan-tahapan yang sangat rumit seperti penentuan hari baik, pemilihan tempat yang memiliki vibrasi kesucian yang tinggi, pemilihan bahan-bahan yang berkualitas, dan dirancang oleh para undagi yang telah melawati proses tapa, brata, yoga, semadi. Itulah yang membuat Pura-Pura Tua yang ada di Pulau Bali memiliki taksu atau spirit spiritual yang tinggi.

Oleh karena itu, generasi sekarang sudah selayaknya merawat dan menjaga peninggalan-peninggalan berupa Pura Tua  dengan baik dan bukan memugarnya tanpa aturan yang jelas. Jika generasi sekarang memiliki kemampuan untuk membuat Pura, buatlah di tempat yang baru dengan design moderen.

 

Padma Tiga Pura Besakih

Padma Tiga di Pura Besakih terkini (foto wan).
Padma Tiga di Pura Besakih terkini (foto wan).

Kita bisa mengambil contoh pada Pura Penataran Agung Besakih (Padma Tiga) yang mana bangunan asli dari Pura itu dipugar begitu saja dan diganti dengan batu hitam, sehingga nilai – nilai historis masa lalunya pun ikut hilang. Padahal tetua dijaman dahulu bahu-membahu membawa sejumlah material ke Pura Besakih untuk mendirikan Pura disana.

Di Bali Utara sangat banyak daerah yang diwarisi oleh Pura Pura tua yang sangat sakral. Sudah sewajarnya kita secara bersama sama untuk merawat dan menjaga warisan leluhur kita yang adiluhung sehingga pesan pesan moral, nilai nilai seni dan spiritual dimasa lalu tidak terputus begitu saja.

Pura Pura tua tersebut jika dikelola dengan baik juga bisa menjadi tempat wisata spiritual umat Hindu dari berbagai penjuru dunia. Kita bisa mencontoh Inggris dan negara negara Eropa lainnya yg bisa menjaga keaslian bangunan-bangunan Gereja kuno dan juga benteng-benteng kuno kerajaanya. Keberhasilan mereka merawat dan menjaga peninggalan bangunan bersejarah tersebut membuat negara mereka dikunjungi banyak wisatawan untuk berziarah atau untuk mengadakan studi tentang peradaban di masa lalu.

Singkatnya, mari jaga dan lestarikan Pura Pura tua di daerah kita. Jika memang harus diadakan perbaikan, perbaikilah sesuai dengan aslinya sehingga nilai nilai seni, budaya, sosial dan spiritual yg ada dalam bangunan Pura tersebut tidak hancur ditangan kita sendiri.

 

Penulis : Pemerhati Pura-Pura Tua di Bali. E-mail : widyasuputra@gmail.com

 

 

Comments

comments